
Biarlah Allah yang berdaulat sepenuhnya atas hidup kita, karena Allah tahu mana yang tepat untuk memberikan yang terbaik kepada kita.
Iffah masih setia menemani suaminya di kamar itu. Dengan lembut, tangannya membelai kepala Toni. suaminya itu telah terlelap dalam damainya. Mungkin nafasnya terdengar sedikit kasar karena baru saja habis menangis tersedu-sedu. Tapi dia benar-benar telah tertidur di atas pangkuan istrinya itu.
Rasa sakitnya mungkin sementara telah hilang, tapi tidak ada yang tahu jika setelah dia terbangun nanti. Mungkin rasa sakit itu akan kembali, atau bahkan melebihi.
“Milka…” Terdengar suaranya mengigau. Air matanya kembali mengalir dari ruas-ruas tepi matanya yang masih terpejam. Pelukannya terhadap paha Iffah semakin menguat. Mungkin rasa sakit di dalam hatinya yang membuat dia seperti itu.
Tangan Toni mengepal kuat hingga kukunya melukai telapak tangannya. Iffah yang baru menyadari segera memaksa tangan Toni menggenggam sprei tempat tidur. Nafas Iffah terasa sesak melihat kesedihan suaminya. Dia tau, teriakan Kamelia tadi menambah rasa sakit di hati Antoninya.
Kamelia seorang ibu, dan dia sangat menyayangi anaknya yang masih berumur empat tahunan itu. Sehingga dengan tidak sadar, Kamelia menyangka Tonilah yang membawa Milka. Kondisi Kamelia juga terlihat memprihatinkan saat itu.
Mungkin aku bukanlah seorang ibu, dan aku tidak tau apakah aku bisa menjadi seorang ibu. Apa yang terjadi kepada Kamel adalah sesuatu yang wajar. Dia tidak akan bisa langsung melupakan rasa sakitnya begitu saja. Apalagi dia sedang sayang-sayangnya terhadap gadis lucu itu.
Hanya saja, aku juga tidak sanggup melihat luka yang terlukis di wajah suamiku.
Aku berharap ini hanya sekedar mimpi burukku saja.
Iffah berkali-kali menyeka air matanya agar tidak jatuh menimpa pipi suaminya yang tengah tertidur lelap di pangkuannya.
Berhentilah bersedih sayang, aku sudah tidak kuat lagi melihatnya. Pertama kali aku melihatmu, aku juga melihat duka di wajahmu ini. Kemudian ketika aku salah menilaimu, aku juga melihat derita di wajahmu ini. Kemudian lagi, ketika di hari pernikahan kita. Aku seharusnya tidak mnggoreskan luka pula di hatimu. Ketika nenek Tiada, aku juga melihatmu seperti mayat hidup. Kamu seperti mati sepanjang hari. Tidak berhenti disana, aku lagi-lagi membuat kesalahan. Aku
kembali menorehkan luka di hidup kamu, sayang.
__ADS_1
Dan sekarang…
Ada lagikah? Jika ada, maka berikan saja kepadaku…
Aku yang tidak kuat melihat sakit suamiku…
Iffah menahan kegetiran di hatinya. Air matanya terus berderai tanpa mau dihentikan sama sekali. Rasanya semakin sakit.
****
Hal yang sama dilakukan Kemil di kamarnya. Dia mendekap Kamelianya dengan erat. Sedari tadi, jika Kamelia terbangun, maka dia hanya mengigau dan berteriak agar Toni mengembalikan Milkanya. Mungkin rasa takutnya terhadap Toni yang sangat menyayangi Milka selama itu, membuat dirinya belum bisa menerima kenyataan.
Tidak sekalipun Kamelia bisa berpisah dari Milka, tetapi untuk kali itu dia dipaksa berpisah dengan putri cantiknya dan bahkan untuk selamanya.
Berhentilah menangis sayang, Milka juga putriku. Aku tau kamu tidak akan bisa tidur tanpa anak-anak kita. Aku tau, kamu bahkan tidak hanya memikirkan Milka yang sakit kemarin-kemarinnya. Tapi kamu juga memikirkan Cakra yang kekurangan ASI, Cakra yang jauh dari sisimu.
Aku juga terpukul dan merasa kehilangan putri yang terlahir dari hatiku itu sayang. Milka cantikku. Tapi aku juga tidak bisa menyalahkan taqdir. Dan taqdir Milka harus pergi terlebih dahulu dari kita.
Aku tidak sanggup melihat kamu seperti ini, Sayang.
Dimana Kamelku yang begitu kuat dulu?
Air mata Kemil mengalir dari ruas-ruas tepi matanya yang memandang wajah sembab istrinya itu. Wajah cantik yang terllihat memucat dan sendu. Kemil menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi Kamelia, dan kemudian mengecup kulit tipis yang terbentang disana. Dengan lembut dan hangat, dia membuat
__ADS_1
Kamelianya kembali tertidur nyenyak dalam dekapannya.
Aku berharap, setelah kamu terbangun dari tidurmu nanti, kamu akan mampu menerima kenyataan sayang.
Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku, tapi air matamu adalah sakitku…
Maka ku mohon,
Berbahagialah…
Hapus kesedihan dan deritamu, kemudian sisakan tawa dan keceriaanmu.
Aku masih menunggumu untuk itu…
.
.
.
.
.
__ADS_1