
Jika seandainya aku tau tentang hari ini, aku berharap waktu berhenti di hari kemarin.
Bisakah?
Ohh. Ini bahkan jauh lebih menyakitkan...
Toni masih menumpu tubuhnya yang lemah dengan kedua lututnya di samping gundukan tanah yang masih memerah dan basah. Iffah hanya menatapnya dari sisi depannya. Dia seakan tidak ingin mengganggu suaminya pada saat itu.
“Kakek… Kakek menang, aku kalah dalam kesedihan ini. Tapi tolong jaga nenek disana, jangan biarkan dia menangis agar cucumu ini bisa tenang disini.” Toni berujar ke sebuah gundukan tanah lainnya di samping makam neneknya.
Ya, disana juga ada makam almarhum kakeknya yang telah lama pergi. Tepat di hari kelahirannya kala itu.
“Mama, Papa…” Panggilnya kepada Chellin yang masih berdiri di belakangnya.
“Iya sayang.” Chellin ikut menjatuhkan tubuhnya di samping Toni dan mendekap lelaki yang sudah di jadikannya sebagai putranya.
“Nenek sudah pergi juga meninggalkan Toni, Ma. Toni mau mama dan papa tidak meninggalkan Toni seperti
mereka meninggalkan Toni. Toni tidak ingin hidup sendiri, Ma.” Pintanya berlinangan air mata.
Dia lelaki manja, sangat dimanja.
Jika bukan karena kepergian Neneknya, dia akan terlihat lebih dewasa. Dia hanya lelaki kesepian, semenjak papanya menyembunyikan penyakit yang merenggut nyawa papanya itu.
“Mama dan Papa tidak akan meninggalkan kamu, sayang. Iya kan, Pa.” Chellin menoleh kearah Bobi yang masih
berdiri menahan air mata di wajahnya yang terlihat tegar saat itu.
__ADS_1
Keluarganya yang dari desa juga ikut menitikkan air mata melihat rapuhnya Toni saat itu. Kemil yang bahkan
mengetahui segala hal tentang sepupunya itupun tak kuasa menahan air matanya.
“Pappaa, Nenek buyut tok tidulnya di dalam tanah?” Milka kecil berlarian menghampirinya.
“Ah sayang Papa,” Toni meraih Milka dan mendekapnya dengan erat. “ Nenek buyut tidur tidak bisa bangu lagi
sayang. Nenek buyut akan langsung ke syurga-Nya Allah. Milka do’ain ya, Sayang.” Bisiknya ke telinga Milka sehingga membuat orang-orang di sekitarnya semakin terisak karenanya.
“Jadi kita tidak lagi ketemu Nenek buyut, Pa.” Tanya Milka terheran-heran.
“Nanti, Nak. Kalau di dunia ini kita tidak lagi ketemu Nenek buyut. Tadi Nenek buyut pesan sama Papa untuk
Milka loh. Kata nenek buyut, Milka tidak boleh nangis, harus pintar, jadi anak baik dan selalu sehat.” Ujar Toni dengan air mata berjatuhan di pipinya.
yang basah. Toni menepiskan senyuman dibalik kesedihannya berkat putri cantiknya itu. “Mil, janji nenek buyut. Nenek buyut jangan cedih di culga cana ya…” Milka kecil itu mengusap batu nisan seperti yang di lakukan Toni di
depannya.
Toni kembali tersenyum,kemudian memeluk Milka dengan erat. Namun dia lagi-lagi terisak di ceruk leher anak
gadisnya itu.
Akankah waktu bisa terulang kembali? Kalau bisa, akan aku paksa dia mengulang kebahagiaan yang pernah aku
rasakan dulu. Sungguh, aku ingin skip rasa sakit ini dari dalam perjalanan hidupku.
__ADS_1
Oh waktu, andai aku bisa merabamu, maka akan aku paksa kamu berhenti pada satu titik dimana aku merasa bahagia kala itu.
Iffah, apa saat ini kamu hanya berpura-pura tegar di depanku? Bukankah kamu juga begitu menyayangi nenek
seperti aku?
Bukankah kamu juga baru tau tentang suamimu yang sangat kamu cintai itu telah tiada meninggalkanmu
selamanya?
Maafkan Toni Nenek, untuk saat ini Toni belum bisa melakukan nasehat nenek. Toni begitu terluka saat ini, Nek.
Toni bangkit dan berdiri dari tanah basah tempat neneknya baru saja di semayamkan. Dia berulang kali menyeka
air matanya, bahkan Milka yang berada dalam gendongannya pun ikut membantu mengusap pipinya yang basah.
Setelah kembali berdo’a, Toni memutuskan untuk pulang dari sana. Karena dia tau keluarganya tidak mungkin akan
mengusiknya pada saat itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.