
Kamu hanya akan menyesali sesuatu, jika kamu mengambil tindakan tanpa berpikir terlebih dahulu. Ditambah lagi hasil yang kamu dapat dari tindakan kecerobohanmu itu, adalah sesuatu yang buruk untukmu dan bahkan untuk
orang-orang di sekitarmu…
Setelah semalaman menunggu dan berharap untuk mendengarkan sesuatu kabar, yang hanya akan menyatakan bahwa Antoninya baik-baik saja saat itu.
Iffah masih belum percaya setelah mendengar pernyataan dokter mengenai keadaan Toni.
Pasien mengalami trauma kepala berat. Dari keterangan seseorang yang membawa pasien ke Rumah Sakit ini, pasien mengalami benturan yang sangat dahsyat di bagian kepala. Melalui panduan dari Glasgow coma scale
(GCS), nilai skala tingkat keparahan cedera kepala pasien terdapat pada angka tiga yang menunjukkan bahwa pasien dalam keadaan koma.
Dan pihak Rumah Sakit tidak dapat menentukan kapan pasien akan kembali sadar seperti sediakala. Maka dari itu, pasien harus menjalani perawatan secara intensif di Rumah Sakit untuk menurunkan risiko komplikasi. Setelah penanganan awal yang diterima pasien, pasien akan di observasi yaitu pasien akan di pindahkan ke ruang ICU. Di mana tenaga medis akan melakukan pemeriksaan secara berskala terhadap pasien selama pasien belum kembali sadar. Dan untuk keluarga pasien, diharapkan agar dapat bersabar. Karena, selama pasien berada di ruang ICU, keluarga tidak dapat mengunjungi pasien selama dua puluh empat jam penuh.
“Ini semua salahku…” Sesal Iffah setelah berkali-kali sedari malam, ketika dirinya mendengar tentang keadaan Toni yang mengalami kecelakaan. Iffah terus menangis sepanjang waktu di lorong Rumah Sakit tempat Toni di rawat. Wajahnya semakin menyembab saat itu.
Ghali hanya memerhatikan kakaknya itu dari arah kejauhan. Kejadian sore kemarinnya membuat Ghali tidak berani mendekati Ifah.
Entahlah, dia juga merasa terpukul dan tidak percaya dengan hal yang menimpa kakak iparnya saat itu. Akan tetapi, satu hal yang dia tahu. Bayangan Toni yang menguping pembicaraannya dengan Iffah sore kemarinlah, sebagai penyebab kondisi Toni yang terbaring koma disana. Dan hal itu jugalah yang membuat Ghali meremas dadanya setelah mendengar pernyataan menyakitkan dari Iffah. Dia begitu tidak tega saat itu, namun juga tidak dapat menghentikan ucapan yang keluar bagai air mengalir dari mulut Iffah yang dipenuhi emosi.
Dan di sisi lain, tampak Kemil bersama Ramdani dan papa mereka sudah berada disana sejak shubuh. Mereka sendiri tidak tau harus berbuat apa selain pasrah. Sedangkan Bobi yang biasanya lebih tegar, juga tidak mampu
menahan kesedihannya melihat Toni yang sudah tidak lagi bisa dikatakan dengan sebutan apapun, selain sebagai putra kandungnya saat itu.
Tangannya dengan erat menggenggam tangan istrinya yang begitu lemah sejak dari semalam.
Mereka hanya peduli dengan perasaan mereka masing-masing. Karena mereka semua sama-sama rapuh saat itu.
__ADS_1
“Iffah…” Panggil Bobi setelah menghirup udara dalam-dalam dan menghempaskannya kembali dengan pelan-pelan. Dia berusaha kembali hidup, setelah beberapa saat merasakan mati dalam kesedihan.
Iffah tidak menoleh, dia terus saja sesenggukan sambil bersimpuh di depan pintu ruangan Antoninya yang terbaring lemah tidak sadarkan diri.
“Iffah…” Bobi kemudian mendekat dan membawa Iffah bangkit dari sana. Bobi membawanya untuk duduk di samping Chellin di kursi tunggu Rumah Sakit.
Chelllin meraih kedua tangan Iffah dan berusaha menatap mata menantunya yang sudah membengkak karena menangis sepanjang malam.
“Apa kamu mencintainya?” Tanya Chellin dengan suara memarau. Matanya yang sayu menatap mata Iffah yang masih menunduk dan tidak berani membalas tatapan Chellin kepadanya.
“Iffah?” Ulang Chellin kembali.
“Maafkan Iffah, Ma. Ini semua salah Iffah, Iffah tidak bisa menjaga Antoni dan persaannya. Iffah yang salah.” Makinya untuk dirinya sendiri di balik isak tangisnya.
“Toni bukan tipikal lelaki yang mudah menyerah, Nak. Mama tau itu. Karena dia juga melihat cintamu yang tersembunyi di balik matamu itu untuknya, sehingga Toni terus saja bertahan dan mempertahankan kamu. Dia juga
Toni juga pernah cerita kepada Mama, kamu adalah perempuan yang selalu mengambil kesempatan di waktu Dhuha untuk menemui-Nya. Pergilah, Sayang. Mandilah ke rumah terlebuh dahulu, kemudian Shalatlah, dan mintalah Toni kita kembali lagi kepada kita, Nak” Chellin berusaha meyakinkan Iffah di balik rasa sakit yang terpancar dari air matanya yang mengalir deras saat itu. Dia menatap sendu penuh permohonan kepada menantunya yang terlihat lelah dan merasa bersalah.
“Tapi, Ma…”
“Pergilah Iffah… Bagaimana Toni akan kembali sadar jika kamu jatuh sakit nantinya?. Kita harus bergantian, dan saat ini kamu yang paling terlihat lelah. Keluarga kita dari desa juga ada disini untuk Toni, Nak” Potong Bobi cepat ketika Iffah kembali hendak protes.
“Iya sayang… Toni kita akan baik-baik saja.” Bujuk Chellin lagi. Suaranya begitu getir menyampaikan sebuah harapan yang dia sendiri tidak pernah tau akan kenyataannya.
Iffah menolehkan pandangannya dengan berat kepada Ghali yang sedari tadi hanya terdiam di sandarannya. Dia tau, bahkan adiknya itu tidak ingin bicara dengannya sejak kejadian kemarin sore.
Namun dia salah, Ghali tetaplah adiknya yang begitu menyayangi dan mengkhawatirkan dirinya. Ghali membalas tatapan Iffah dengan sendu. Dia segera berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan kakaknya yang akan memeluk dan mengadukan segala derita kakaknya itu kepada dirinya.
__ADS_1
Iffah perlahan ikut bangkit dan berjalan gontai kearah Ghali yang selalu siap dan ada untuknya.
“Ghali… Kakak juga manusia kan, Dek?” Tanya Iffah dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya.
Ghali mengangguk.
“Apa kata-kata kakak begitu menyakitimu?” Tanyanya lagi.
“Sedikit…” Sahut Ghali dengan mempraktekkan caranya.
“Apa masih ada kata maaf untuk kakakmu yang bodoh ini?” Tanya Iffah lagi penuh harap.
“Sedikit…” Ghali berusaha tersenyum, dan kemudian merentangkan tangannya di hadapan Iffah. Iffah membalas senyuman Ghali, dan menyembunyikan wajahnya di dada adiknya itu.
Ghali mendekap Iffah dengan begitu erat, sehingga tangis Iffah kembali pecah mengingat keadaan Toni saat itu. “Jika bukan karena ada kamu, Dek. Mungkin kakak tidak akan sanggup melalui ini semua. Kakak mohon, jangan pernah marah karena khilafnya kakak.” Ucapnya di sela-sela tangisnya.
“Kakak, hidup kakak masih ada artinya untuk kami. Terutama untuk kakak iparku.” Bisiknya di telinga Iffah.
Setelah Iffah merasa sedikit tenang, barulah mereka pamit untuk pulang terlebih dahulu.
.
.
.
.
__ADS_1