
Toni mengangkat tubuh Iffah menuju kamar yang sudah menjadi kamar mereka semenjak itu. Iffah mengalungkan Tangannya ke leher Toni dan memandangi wajah suaminya itu dengan begitu dekat. Jantung Iffah semakin berdebar lebih kencang dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya. Dia tidak tau kapan hari terindah itu dimulai, tapi dia tau bahawa itu telah dimulai semenjak hatinya mengatakan ‘iya’ untuk Toni.
Perlahan Toni menurunkan Iffah dan menidurkannya di atas tempat tidur yang telah dihuninya selama dia menetap di rumah mewah itu. Toni pun sama halnya, tidak berhenti menatap perempuan yang telah mengisi hatinya semenjak dari beberapa bulan lalu.
Tetapi dia bukanlah lelaki serakah lagi dalam mencintai perempuan. Dia membiarkan sentuhan demi sentuhannya beradaptasi terlebih dahulu dengan tubuh Iffahnya. Dia tidak akan tergesa-gesa dalam meminta haknya sebagai
seorang suami.
Toni ikut membaringkan tubuhnya di samping Iffah dan mencari celah agar bisa membenamkan Iffah ke dalam pelukannya. Dia membiarkan kerudung kelabu masih menutupi mahkota istrinya malam itu.
“Antoni…” Panggil Iffah lagi.
“Hmm” Sahut Antoni dengan perasaan yang tidak menentu.
“Kenapa aku tidak diperbolehkan ke kantor?” Tanya Iffah lirih.
“Jika kamu sudah merasa baik, besok kamu sudah boleh ke kantor.” Jawab Toni pelan.
“Aku selalu baik.” Ketus Iffah sambil menekan-nekan dada Toni dengan telunjuknya.
__ADS_1
“Kalau begitu, besok kamu akan ke kantor bersamaku.” Ujar Toni menurunkan tubuhnya sehingga wajah mereka sejajar saat itu.
Iffah melebarkan matanya, dia begitu terkejut mendapati mata sipit Toni sudah berada lima senti meter dari matanya. “Apa kamu masih merasakan debaran itu disini?.” Tanya Iffah malu seraya menekan dada kiri Toni dengan jari telunjuknya yang panjang.
Toni tidak menyahutinya, dia malah mengambil tangan Iffah dan melebarkan telapak tangan yang mulus itu dan kemudian lagi menekankannya ke dadanya sendiri. “Apa yang kamu rasakan?” Tanya Toni ketika telapak tangan
Iffah sudah menempel di dada kirinya itu.
Lebih dari apapun, untuk pertama kalinya dia merasakan detak jantung pria dengan telapak tangannya sendiri. Sesutu yang belum sempat dia lakukan bersama Arjunanya kala itu. Pipi Iffah memerah seketika. Dan hal itu
membuat Toni sangat nyaman memandangi istrinya. Dia mengecup kening Iffah yang lebar dengan bibir lembutnya seraya mendesirkan sebuah do’a disana.
Yaa Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau tentukan atas dirinya.
Iffah yang mendengarnya menitikkan air mata, dia begitu terharu atas kebaikan Allah yang telah memberi Toni dalam hidupnya. Menjadikan lelaki itu sebagai suaminya.
Toni kembali membenamkan kepala Iffah ke dadanya, dan memeluk istrinya itu dengan begitu serakah.
Malam yang begitu panjang, membiarkan mereka tertidur sambil saling memeluk satu sama lain hingga dari mereka terlihat seakan enggan kembali melepaskan.
__ADS_1
Tidakkah kamu ingat? Begitulah cinta, seperti air. Dia memiliki pasang surut tersendiri. Dan kita harus mampu bersabar dalam menyikapi sifatnya yang begitu, jika kamu tidak ingin mendapati penyesalan setelah mengucapkan
kata selamat tinggal pada dia yang telah pernah membuatmu marah, sedih dan kecewa.
Karena pada dasarnya, dia juga memiliki keegoisan yang harus kamu mengertikan di satu waktu.
Ingatlah cinta, dia lebih mendewasakanmu, mengertikanmu, mengusir rasa sepimu, membuatmu tertawa sepanjang hari, dan bahkan membuatmu merasakan sesuatu yang tidak pernah kamuk rasakan sebelumnya.
Ya, dialah debaran jantungmu yang tidak biasa kamu dapati sebelumnya. Dia yang akan menyakitimu jika mulutmu tidak mampu mengungkapkan kenapa jantungmu berdebar dan bergemuruh bagai ombak.
.
.
.
.
.
__ADS_1