TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
KISAH DI BALIK PANTI ASUHAN


__ADS_3

Di tempat lain, Panti Asuhan TAUFIQ HIDAYAH.


Chellin begitu sibuk dan terlihat senang ketika membagi-bagikan apa saja yang dibawanya sebagai oleh-oleh untuk anak-anak disana. Dia terlihat bersemangat. Sesekali dia menciumi dan memeluk anak-anak disana saking senangnya.


Sementara, Bobi dan Ghali tampak berkeliling di panti asuhan itu. Bobi seperti tengah bercerita, sedangkan Ghali mangut-mangut seakan menjadi pendengar yang baik kala itu.


"sebaiknya kita duduk di bangku taman itu saja, Ghali. Kamu memang masih muda, sedangkan Papa sudah berkepala lima. Mudah sekali bagi Papa untuk merasakan kelelahan di usia Papa yang segini." Ajak Bobi seraya mengarah ke sebuah bangku taman di bawah pepohonan rindang.


Ghali terlihat menyeringai dan mengikuti langkah kaki Bobi ke bangku taman yang dituju Bobi.


"Disinilah Papa dibesarkan dengan penuh kasih, Ghali. Alhamdulillah, berkat kerja keras, akhirnya Papa berhasil meraih gelar sarjana sambil membantu adik-adik Papa disini. Dulu, ibu penjaga pantinya sangat baik terhadap kami semua. Dan sekarang beliau sudah pergi selamanya. Alhamdulillah, pengurus panti yang baru pun juga sama baiknya.


Makanya, setiap minggu Papa dan Mama datang berkunjung ke sini. Meski terkadang hanya bawa cemilan seadanya, kadangan nasi kotak, atau apa sajalah..Yang penting melihat mereka tersenyum, kita akan merasakan kesenangan tersendiri di hati kita." Tutur bobi panjang lebar.


"Ghali senang sekali bisa mengenal Papa dan keluarga Papa. Ghali semakin banyak memperoleh hal-hal positif jadinya." Ujar Ghali begitu terharu setelah mendengar cerita panjang mertua kakaknya itu.


"Oh iya, Ghali. Papa sebenarnya setuju dengan kata-kata kakak iparmu itu. Toni sebenarnya ingin yang terbaik untukmu, Nak" Bobi seakan langsung melontarkan apa yang tertanam di pikirannya. Ditambah lagi atas permintaan Toni beberapa bulan yang lalu. Dia benar-benar mengkhawatirkan adik iparnya itu.


"M-maksud Papa?" Ghali mencium aura-aura tidak enak dari perkataan Bobi.


"Kamu tidak usah pura-pura begitu. Apa yang kamu katakan adalah sebenarnya kekhawatiran di hatimu atau kamu malah malu memperkenalkannya kepada kami?" Tanya Bobi to the point.


"Jadi benar, permasalahannya mengenai perempuan ya Pa?" Ghali terlihat murung seketika.

__ADS_1


"Apa kamu tersinggung?" Bobi terlihat merasa tidak enakan. Terlukis jelas di wajahnya saat itu bahwa dia merasa bersalah.


"Tidak kok, Pa" Sahut Ghali begitu yakin. "Ghali berbicara yang sebenarnya terhadap Kak Antoni, Pa." Sesaat, Ghali menekuk wajahnya. Dia terlihat murung seketika.


Bobi tidak lagi ingin untuk bertanya apa pun. Dia tau, Ghali butuh waktu untuk itu.


"Dulu saya sempat gagal menjaga Kak Iffah dan suami pertamanya, Pa" Tampak kegetiran di wajah Ghali ketika dia mengenang masa kelam itu. "Ghali takut, jika hal itu kembali terjadi. Ghali tidak pernah melihat cinta yang begitu besar di mata Kak Iffah, kecuali terhadap Kak Toni. Ghali bahkan tidak bisa bayangkan, jika sesuatu terjadi kepada Kak Toni. Apalagi yang menjadi penyebabnya adalah ibunya Ghali lagi." Ungkap Ghali tampak terpukul mengatakan tentang ibunya.


"Ibu benar-benar luar biasa kejamnya, Pa. Seperti tidak punya hati sama sekali. Karena rasa cemburu dan rasa sakit hatinya, ibu tega menghabisi nyawa orang lain. Tapi walau bagaimanapun, dia tetaplah ibunya Ghali. Marahnya Ghali terhadap beliau, hanya dengan cara menjauh dari beliau, Pa. Jika untuk melihat beliau menderita, Ghali belum sanggup rasanya. Makanya Ghali membiarkan beliau kabur kala itu."


Bobi terdiam mendengar cerita Ghali. Dia sekarang mengerti akan alasan Ghali menolak untuk mengenalkan calon pendamping hidupnya. Ghali bahkan sama sekali belum terpikir untuk melepas kakaknya, selagi ibunya masih berkeliaran bebas. Sebuah trauma besar bagi Ghali, tentang semua yang telah terjadi di masa lalu kakaknya itu.


"Apa pun alasan kamu Ghali, Papa berharap yang terbaik untuk kamu. Papa tidak akan memaksa kamu lagi, Nak. Satu hal yang harus kamu tahu, tidak semua orang jahat itu benar-benar jahat sampai akhirnya. Semoga kamu dapat memikirkan jalan keluarnya, Ghali." Tutur Bobi dengan bijak.


Tiba-tiba Ghali bangkit begitu saja dari tempat bangku yang dia duduki bersama Bobi. Sesuatu telah terjadi kepada dirinya. Jantungnya serasa berdetak kuat, dadanya berdebar tidak karuan seketika.


Pendengarannya serasa dialihkan.


Tap... Tap… Tap…


Sebuah langkah kaki membuatnya terbuai akan Firasat baik untuk dirinya di masa depan.


"Ada apa Ghali?". Bobi ikut bangkit dari duduknya. Dia memandang anek ke sekeliling mereka saat itu. Ikut mencari sesuatu yang membuat adik dari menantunya itu terlihat terpana.

__ADS_1


…………


.


.


.


.


.


Bersambung…


Oh iya, jangan mengharapkan sambungan ini segera ya....


Sambungan ini hanya akan dirangkum dalam kisah Ghali nantinya.


Ditunggu ya teman2


kita tamatkan dulu TML ini.


Salam satu layar di MT&NT

__ADS_1


__ADS_2