
Ghali tak henti-hentinya memerhatikan betapa repotnya Iffah mengemasi barang-barangnya ke
dalam koper mini bewarna pink.
“Jangan sedih begitu, kakak hanya akan pergi untuk dua malam saja kok dek.” Iffah menenangkan adiknya yang terlihat seperti anak kecil bermuka masam karena tidak dibolehin ikut bersama mamanya.
“Awas saja Pak Antoni tidak memulangkan kakak dalam dua hari ini, aku akan bawa kakak pergi jauh darinya.” Gerutu Ghali mengancam.
Iffah mengacak poni Ghali yang menutupi setengah dahinya sambil menyengir. “Memangnnya adik kakak yang tampan ini mau membawa kakak kemana?.” Tanya Iffah seraya tersenyum gemas melihat tingkah manja adiknya.
“Ada sajalah, yang penting jauh dari pandangan matanya. Menyebalkan… Belum nikah saja sudah mau membawa kakak dariku, apalagi nanti jika kakak sudah dinikahinya.” Ghali memanyunkan bibir bawahnya seakan benar-benar sedang kecewa.
Iffah menghela nafasnya yang berat. “Apa kamu tidak rela kakak menikah?.” Iffah membalas berpura-pura cemberut.
“Hehe… Ghali Cuma bercanda kakak.” Ghali menyeringai tanpa dosa. “Tapi nanti Ghali mau makan apa jika kakak tidak ada disini? Kakak kan tau kalau Ghali Cuma mau masakannya kakak saja.” Ghali benar-benar terlihat sedih untuk kali ini. Tidak biasanya dia berpisah dengan Iffah semenjak dia membawa kakaknya itu pergi dari masa
mereka.
“Untuk besok pagi kakak akan memasakkanmu porsi seharian. Insya Allah tidak akan basi sampai malam kok sayang. Untuk lusa, kamu beli di warung Nek Ratih saja ya. Masakan beliau tidak kalah enak kok.” Iffah seakan membujuk anak kecil menghadapi tingkah Ghali yang tiba-tiba bersikap manja kepadanya malam itu. “Ini untuk
urusan kantor sayang, kamu kan dengar sendiri Pak Antoni mengajakimu untuk ikut. Tapi mau bagaimana? Kerjaanmu juga tidak bisa ditinggal pula katamu.”
__ADS_1
“Nanti kalau ada cewek cantik, secantik kak Iffah dan juga sebaik kakak, mintain nomornya ya.” Gurau Ghali sambil mengedip Iffah dengan nakal.
“Ishh anak ini…” Iffah sedikit menjitak kepala Ghali.
“Hehe…” Kali ini Ghali menyeringai. “Tapi benar loh kak, Ghali tidak mau menikah jika bukan dengan perempuan seperti kakak. Pokoknya harus seperti kakak.” Ujarnya lagi penuh keseriusan.
“Iya, kakak do’ain agar kamu dapatin perempuan lebih baik… Bahkan jauh sangat, lebih baiknya daripada kakak.” Ikrar Iffah menenangkan adiknya itu yang benar-benar manja terhadapnya sedari tadi dia mengemasi barang bawaannya besok. “Sekarang kamu tidur sana, kakak juga mau istirahat dulu.” Usir Iffah seraya mengibaskan
kasurnya yang ditempati Ghali saat itu.
“Oke kakakku yang cantik, have a nice dream.” Ghali bangkit dan beranjak meninggalkan Iffah sendirian.
Iffah duduk memangku kedua lututnya di atas dipan mungil tempat peraduannya selama itu. Dia terus memandangi koper mini miliknya yang sudah berisi keperluannya untuk dua hari kedepan.
Ya, besoknya adalah hari mereka, dirinya dan keluarga Toni untuk berangkat ke desa kelahiran Toni, dalam rangka acara peresmian Villa yang dibangun perusahaan.
Semoga perjalananku besok membawa berkah dan berfaedah bagi diriku dan orang-orang disekitarku~ Do’anya. Dia membaringkan tubuhnya yang lelah hingga tak sadar tertidur dalam harapan besar untuk esoknya.
*****
Toni terlihat menelentangkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk, matanya memandang kosong kelangit-langit kamarnya. Dan kemudian, dia mengangkat sebuah pigura kecil yang sedari tadi didekapnya di dadanya yang bidang.
__ADS_1
Di dalam pigura itu tampak papanya yang tengah menggendong Milka kecilnya. Foto yang sempat diambilnya secara diam-diam di kediaman Adipati Arayan, kakeknya. Momen yang pertama dan terakhir kalinya antara cucu dan kakek itu.
Jemarinya yang panjang menyusuri wajah papa dan putri kecilnya yang tergambar jelas di dalamnya. Entah mengapa, Milka seperti mampu membaca suasana di kala itu. Dia terlihat tertawa riang dalam gendongan opanya yang kurus dan menyimpan rasa sakit di dalam dirinya.
“Pa, meski ini momen pertama dan terakhir papa bersama Milka. Tapi papa terlihat bahagia disini. Toni masih punya keberuntungan menangkap dan megabadikan suasana seperti ini. Sayangnya kita tidak bisa mengambilnya secara bersama. Tapi, hari esok Insya Allah Toni akan mengunjungi papa lagi bersama Milka. Dan kejutan untuk papa dan mama, Toni akan bawa seseorang yang special dalam hidup Toni. Toni akan kenalkan papa dan mama kepadanya.
Sebenarnya, Toni masih ragu untuk memperkenalkan Milka sebagai putri biologisnya Toni. Tapi Toni tidak mau menyimpan kebohongan terlalu lama dari dirinya, pa. Toni takut, Toni tidak akan dapat kesempatan setelah itu.”
Toni kembali mendekap pigura itu dan berangsur memejamkan matanya yang sedikit basah dan memerah hingga tanpa dia sadari entah kapan dia mulai tertidur untuk menemui mimpinya.
Tiada sebuah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan, kecuali sebuah pengkhianatan. Sedangkan Dia saja yang sering di kecewakan, akan selalu mengampuni hambanya yang datang bersimpuh sembari memohon pengampunan.
.
.
.
.
.
__ADS_1