TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
MENGHARAPKAN BENALU


__ADS_3

Aku tidak tau kapan cinta ini bermula, tapi yang pasti cinta ini tiada berakhir. Dan aku tidak tau kenapa ada cinta di hatiku untukmu, tapi yang pasti cintaku padamu tiada beralasan…


Bukan janjimu yang membuatku bertahan, tapi cintamu yang masih bersembunyi membuatku terus yakin untuk mencari.


Karena bersembunyi, bukan berarti tidak ada kan?


Masih ingatkah kamu? Kamu bahkan tetap menungguku kala aku berpikir kamu tidak mampu aku perjuangkan. Dan bahkan kamu tanpa malu menyampaikan isi hatimu terlebih dahulu…


Kamu membuat aku tidak bisa pergi meninggalkanmu…


“Begitu senangkah kamu saat ini?” Tanya Iffah dengan wajah merengut kepada Antoninya yang masih berbaring di ruangan yang sama.


Malam itu, setelah keluarganya kembali pulang dan meninggalkan mereka berdua di Rumah Sakit.


Iffah duduk di samping Antoni, tidak sekalipun dia berhenti memerhatikan suaminya yang baru saja terbangun dari komanya setelah berbulan-bulan lamanya. Rasa rindu yamg tak terbendung selama itu membuat dia tidak ingin beranjak meninggalkan Toni walau selangkah.


“Aku senang bisa melihat istri cantikku lagi. Rasanya aku tidak ingin tertidur sepejampun mala mini…” Sahut Toni sambil terus membalas tatapan Iffah. “Tetapi kenapa kamu merngut seperti itu?” Tanyanya kembali seraya mengusap lembut pipi Iffah.


“Aku kesal…” Ketusnya.


“Kesal kenapa lagi cantik…” Goda Toni berusaha membuat istrinya itu tersenyum.


“Kamu menghukumku dengan begitu berat. Kamu tau? Setiap harinya aku selalu dihantui rasa takut, takut kehilngan orang yang sangat aku cintai. Karena dulu aku pernah merasakannya sekali.” Rengut Iffah.


Toni terlihat canggung mendengar penuturan Iffah, rasa sakit kembali merayapi hatinya saat itu. Ingatan tentang ucapan Iffah terakhir kalinya sebelum dia kecelakaan kembali berputar di memorinya. Dia tidak lagi


ingin mendengar kelanjutan cerita Iffah rasanya. Tapi dia juga tidak bisa terlihat egois.


“Dulu waktu aku kehilangan Ayah rasanya begitu sakit, ingin rasanya aku ikut dengan Ayah. Bahkan aku takut menghadapi hari esok tanpa ada beliau. Aku tidak tau harus berpijak kemana. Tapi untung saja ada Ghali yang

__ADS_1


selalu melindungi aku.” Iffah terlihat mengenang, air matanya mengalir begitu saja.


“Aku pikir, itu Arjuna.” Toni begitu penasaran kenapa bukan Arjunanya yang disebut Iffah saat itu, melainkan ayahnya.


“Arjuna… Aku sebenarnya tidak pernah mengukur seberapa besar atau pun kecil rasaku kepadanya. Tapi aku begitu merasa terlindungi sejak mengenalnya, tidak ada debaran, tidak mengganggu pikiranku bila jauh darinya. Akan tetapi  dia bisa menjadi tempat teraman bagiku…


Kami bertemu ketika aku masih kuliah. Dia selalu menjadi lelaki baik untukku, hingga suatu hari dia melamarku. Ibu tiriku, ibunya Ghali tidak merestui hubungan kami. Karena dia sangat tidak ingin melihat aku bahagia, sementara aku mengaku sangat mencintai Arjuna dan ingin segera dinikahkan dengannya. Aku sudah tidak ingin tinggal dengan ibu, dan untuk Ghali aku tidak perlu mengkhawatirkannya. Karena Ghali anak kandung ibu, dan ibu begitu menyayanginya.


Ghali akan terus saja mengancam ibu hendak melukai dirinya sendiri, jika ibu keterlaluan memperlakukanku. Dan cara satu-satunya agar Ghali tidak terus-terusan berantem sama ibunya, ya, aku harus pergi dari sana. Dan Arjunalah orangnya yang bisa membawaku pergi dari sana. Aku pikir menikah dengan orang yang mencintai kita sedang kita tidak memiliki perasaan terhadapnya, tetap bisa membuat kita bahagia. Karena dengan melihat cintanya, pasti  bisa membuat kita mencintainya kembali.


Jika kepergian Arjuna membuat aku terluka, tetapi aku tidak pernah takut untuk itu. Ditambah lagi dengan cara Allah membuatku amnesia saat itu, sehingga aku bisa lari dari kesedihan.


Ya, aku akui. Waktu itu aku terlalu kecewa terhadap diriku sendiri, aku membawa Arjuna masuk ke dalam hidupku. Dan dia harus berakhir dengan cara seperti itu. Lelaki yang dengan tulus mencintaiku harus mendapatkan


taqdir buruk bersamaku. Aku merasa bersalah padanya, dan rasa bersalahku membuat aku marah. Aku tidak ingin salah sendiri, ya caranya dengan memaki ibu tiriku di hadapan Ghali.


Tetapi aku semakin bersalah karenanya, dengan sengaja aku menyakiti adikku yang sudah mati-matian menjaga dan melindungiku selama ini…


Aku yang sudah membuatmu celaka bukan? Sudah berkali-kali aku dengan sengaja menyakiti kamu…”  Iffah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia terisak-isak disana.


Toni meraih tangan Iffah. “Bisakah kamu tidur di sampingku seperti tadi? Aku sangat ingin memelukmu dan mengecup keningmu yang lebar itu.” Pinta Toni membujuk Iffah, dia juga merasa bersalah karena telah salah menilai Iffah dengan pendengarannya. Dia tidak terlebih dahulu mencari kejujuran yang tersembunyi di balik mata Iffah.


Toni lebih merasa bersalah telah membuat istrinya itu merasakan ketakutan karenanya.


Iffah menurut, dia naik dan berbaring di samping Toni.


“Maafkan aku istri cantikku, aku telah membuatmu cemas…” Bisik Toni seraya mengecup kening Iffah. Dua ibu jarinya mengusap lembut pipi Iffah yang basah. “Memangnya aku sudah berapa lama terbaring disini.?” Tanya Toni lirih.


“Sudah delapan bulan empat hari, jam, menit, detiknya aku lupa. Kamu terbangun ketika aku masih tertidur.” Sahutnya dengan suara merengut.

__ADS_1


“Hmm tidak terlalu lama rupanya.” Ujar Toni mencibir.


“Mau tunggu aku mati dulu karena terbunuh rindu ini baru kamu bangun, hah?” Celutuk Iffah. Toni terkekeh mendengarnya.


“Seberapa banyak?” Tanya Toni lagi.


“Sedikit…” jawab Iffah seraya mengukur dengan jari kelingkingnya, dan mengedipkan sebelah matanya.


Toni kembali terkekeh, kebohongan itulah yang paling dirindukan Toni dari istrinya itu.


“Jujurkah itu?” Tanya Toni lagi meski dia tau yang sebenarnya.


“Aku Cuma boleh jujur satu kali saja, dan itu telah aku beritahu tadi. Salah sendiri, siapa suruh tidur lama-lama.” Cibir Iffah.


“Benarkah?” Toni memeluk Iffah dan membenamkan wajah Iffah di dalam dadanya.


“Aku sangat merindukan kamu selama ini. Aku tidak habis merayu-Nya saban malamku, agar dia mengembalikan suami tampanku ini dengan segera.” Bisik Iffah lirih di dalam dada Toni.


Air mata Toni mengalir dari ruas-ruas tepi matanya dan membasahi bantal yang ditidurinya itu. Berkali-kali bibirnya menghujami ubun-ubun Iffa.


Rindu ini seperti benalu yang tumbuh menyakiti hatiku, tapi anehnya aku tidak ingin dia pergi dan mati.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2