TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
BIBI SIAPA?


__ADS_3

*Aku pikir, aku adalah seorang yang berjiwa besar.


Ternyata pikiranku itu salah...


Sedangkan dengan orang terkubur saja, aku bisa merasakan kecemburuan karenanya.


Iffah memang memperkenalkan aku sebagai suami yang dicintainya saat ini, tetapi diamnya setelah itu, membuat aku merasa kecewa.


Apa dia hanya ingin membesar-besarkan hatiku saja tadi? Dengan memuji-mujiku di depan makam Arjunanya, dia bisa berpura-pura menurutnya?


Kenapa saat ini dia masih saja berdiam menatap deru ombak di pesisir ini?


Apa begitu banyakkah kenangan yang tercipta di masa lalu mereka?


Aku cemburu...


Dan jika ada yang bertanya sebesar apa cemburuku saat ini, aku tidak akan mampu menjawab 'sedikit', seperti dirinya jika ku tanyai 'seberapa banyak?'...


Cemburuku memang tidak bermakna Iffah, tetapi bagaimana aku bisa bertahan hidup dengan seseorang yang masih memeluk masa lalunya?


Jika ingin melepaskan, itu jauh lebih buruk bagiku daripada aku berpura-pura bahwa semua baik-baik saja*...

__ADS_1


"Iffah?" Seseorang yang kebetulan lewat datang menghampiri Iffah yang masih terpaku menatap laut lepas di depannya.


"Loh, Bi Rumi..." Sahut Iffah sedikit terkejut mendapati seseorang yang di kenalinya di kampung itu.


"Iffaahh, ternyata ini benar kamu, Nak. Yaa Allah, Bibi senang sekali bisa bertemu kamu lagi dalam keadaan sehat seperti ini. Padahal Bibi menyangka kamu akan seperti suamimu Arjuna dan menjadi korban kejahatan ibu tiri kamu itu." Perempuan yang di panggil Bi Rumi oleh Iffah itu memeluknya dengan begitu erat.


"M-maksud Bi Rumi, kejahatan ibu tiriku? Ada apa dengan ibuku Bi?" Iffah begitu terkejut mendengar pernyataan wanita paruh baya itu. Dia melepaskan dirinya dari dekapan wanita itu. Matanya menatap tajam penuh selidik.


Toni hanya tercengang melihat istrinya bertemu seseorang disana, dia hanya memerhatikan beberapa meter di belakang Iffah.


Toni juga tidak terlalu mendengar apa yang diperbincangkan orang asing baginya itu bersama istrinya. Suara gemuruh ombak mengalahkan suara-suara percakapan diantara dua wanita di depannya.


"Siapa perempuan itu? Kenapa dia terlihat akrab sekali dengan Iffah? Apa Iffah mengenalinya?" Semua pertanyaan berkecamuk di dalam benak Toni. Namun Toni belum ingin mengganggu suasana hati istrinya saat itu.


Iffah terlihat menutup mulutnya yang sempat ternganga dengan kedua telapak tangannya. Matanya yang membulat seketika menandakan istrinya itu semakin tidak baik-baik saja semenjak perempuan itu datang.


Perempuan itu terus saja berceloteh panjang, dan Toni pun tidak mampu untuk mendengar percakapan mereka.


Karena melihat Iffah sudah sampai menitikkan air mata, Toni memutuskan untuk mendekat kesana dengan sedikit berlari.


"Iffah, ada apa?" Tanyanya seraya merangkul bahu Iffah. Tubuh Iffah terasa bergetar di dalam dekapan Toni. Dan hal itu membuat Toni semakin mencemaskan istrinya itu.

__ADS_1


Perempuan paruh baya yang sedari tadi bersama Iffah, terheran melihat Toni yang asing baginya merangkul bahu Iffah.


"Kamu bukanlah Ghali, kan?" Tanyanya seraya menunjuk Toni dan menatap lekat wajah Toni seakan hendak memastikan penglihatannya. "Iffah dia siapa?" Tanyanya lagi seraya menghadap kearah Iffah.


"Bibi siapa? Kenapa istri saya begitu syok mendengarkan cerita Bibi sedari tadi? Apa yang Bibi katakan kepadanya?" Toni beruntun mempertanyakan wanita paruh baya yang bersama Iffahnya hampir sedari tadi.


"Istrimu? Apa maksudmu mengatakan Iffah ini istrimu? Iffah... Jelaskan kepada Bibi, apa benar dia suamimu?" Perempuan Itu tidak menjawab pertanyaan Toni, melainkan balik mempertanyakan mereka.


"Antoni, bisakah kamu membawaku pulang?" Suara Iffah terdengar memarau dan bergetar di balik isaknya yang semakin kencang.


"Baiklah..." Ujar Toni.


Toni melepas sweater yang melekat di tubuhnya dan kemudian melingkarkannya ke pundak Iffah. Mereka berlalu dan mengabaikan wanita paruh baya yang terus berusaha mendapatkan jawaban dari mereka.


Meski Toni belum mengetahui jawaban apa dan kenapa istrinya seperti itu, Namun dia tidak ingin langsung mempertanyakannya. Toni takut tambah mengganggu perasaan Iffahnya saat itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2