
Masih di tempat yang sama, dimana mereka sering menghabiskan sore bersama dan hanya berdua. Tempat pertama kalinya Toni mengungkapkan segala rasanya untuk Iffah.
Kehamilan Iffah sudah memasuki waktunya hampir melahirkan. Berkat patuhnya mereka menjaga segala hal untuk kebaikan dan kesehatan calon bayi mereka, akhirnya Iffah dapat melalui masa-masa sulitnya selama dirinya hamil muda.
"Alhamdulillah..." Ucap Iffah penuh rasa syukur. Bibirnya yang tipis membentuk lengkungan ke atas. Matanya tak henti memandangi cakrawala di ufuk barat.
Kepala Iffah, dibiarkannya bersandar di bahu suaminya yang lebar.
Tangan Toni menggenggam jemari Iffah. Sesekali, dia mengecup kepala istrinya itu. Terasa sekali kebahagiaan di dalam hatinya.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata terus saja mengawasi mereka dari kejauhan.
"Sayang..." Panggil Iffah masih dengan posisinya semula.
"Hmm?" Toni menyauti tanpa menggerakkan tubuhnya sama sekali, untuk mencari sumber suara.
Mereka lebih nyaman dengan posisi mereka saat itu.
"Jika anak kita lelaki, kamu akan memberinya dengan nama apa?" Tanya Iffah terdengar lirih.
Mereka memang sering memeriksakan keadaan kandungan Iffah ke Dokter. Hanya saja, mereka tidak ingin mengetahui jenis kelamin calon bayi mereka terlebih dahulu.
Iffah dan Toni sepakat untuk menjadikannya sebagai kejutan bagi mereka pada waktu bayi mereka terlahir nantinya.
"Muhammad Azzuhry... Kamu suka?"
"Nama yang bagus... Aku suka..." Sahut Iffah tampak senang. "Tapi jika dia perempuan?" Tanya Iffah lagi seraya megangkat wajahnya dan menatap lekat mata suaminya itu.
"Kalau maunya kamu apa?" Toni balik menanyai istrinya itu.
"Aku serahkan kepadamu. Aku ingin, anak kita memiliki nama atas pemberian dari papanya." Ujar Iffah yakin.
"Bagaimana jika Jingga?" Toni kembali menatap cahaya kemerah-merahan yang ada di hadapan mereka saat itu. Sebuah keindahan bagi matanya. Cahaya yang di sukainya, disukai mama kandungnya bahkan papa kandungnya pun menyukai cahaya jingga.?
"Jingga? Bagus... Hanya jingga?" Iffah masih tampak belum puas dengan ide pemberian suaminya.
"Jingga Fadhilah Husna..."
Iffah tersenyum mendengar nama yang diberi Toni untuk calon bayi mereka. Nama-nama yang bagus menurutnya.
__ADS_1
"Kamu dengarkan, Nak?" Iffah berbisik sembari mengelus perut buncitnya. "Jika kamu laki-laki, maka Mama akan sering memanggilmu Muh. Muh putranya Mama dan Papa. Tetapi, jika kamu perempuan, maka Kamu akan terbiasa mendengar Mama memanggilmu Jingga. Jingga yang memiliki kemuliaan dan kebaikan di dalam dirinya."
"Insya Allah..." Ucap Toni.
"Aamiin Yaa Rabb..." Sambung Iffah. Toni merangkul bahu istrinya itu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ikut mengelus perut buncit Iffah.
"Sehat-sehat sayangnya Papa dan Mama, kami tidak sabar menantikan kehadiran kamu ke dunia, Nak." Bisik Toni kemudian.
"Iya Papa... Papa juga ya. Jangan sering-sering buat Mama cemas. Karena, Mama sepertinya sayang sekali sama Papa." Iffah menyahuti ucapan Toni dengan menirukan suara anak kecil.
Toni mendongakkan kepalanya menghadap ke wajah Iffah. "Memangnya kapan aku membuatmu khawatir, hmm?"
"Lukamu. Luka yang terpancar di wajahmu, selalu membuat aku khawatir karenanya." Sahut Iffah dengan nada lirih.
Toni terdiam sesaat. Hatinya membenarkan ucapan Iffah. Meski lidahnya sering berbohong, mengatakan semuanya baik-baik saja. Tapi hatinya tidak bisa mungkir, bahwa rasa takutnya itu masih saja ada.
"Maafkan aku, sayang. Aku janji, aku tidak akan membuatmu khawatir lagi." Ikrar Toni seraya menarik kembali bahu Iffah ke dalam dekapannya.
"Aku percaya..." Ungkap Iffah. "Sayang..."
"Hmm?"
"Strawberry?" Tanya Toni meyakinkan pandangannya ke telunjuk istrinya mengarah. Iffah mengangguk.
"Tidak mengapa kah jika kamu aku tinggal sebentar?" Toni tampak khawatir.
"Tidak apa-apa, sayang." Sahut Iffah menghapus keraguan Toni.
"Tapi kamu jangan kemana-mana ya..."
"Iya..."
Dengan berat hati, akhirnya Toni meninggalkan Iffah duduk sendirian di bangku taman. Dia melangkah dengan cepat hendak membelikan Strawberry yang diminta istrinya itu.
*****
Ghali terlihat senyum-senyum sendiri di ruang kerjanya. Meski sudah sore, dia masih saja belum beranjak dari sana.
Sesekali, dia memainkan ponselnya dan mengotak-atik sesuatu di atas layarnya.
__ADS_1
Malam nanti, Ghali berjanji akan membawa seseorang untuk diperkenalkan kepada kelurganya, keluarga kakak iparnya itu. Dan karena itulah dia tampak bersemangat. Senyumnya tidak pernah memudar dari bibirnya hingga menampakkan gingsul di kedua tepi bibirnya itu.
Ghali sungguh terlihat seperti dimabuk cinta. Dia seperti kebanyakan remaja yang baru saja mengalami pubertas pertama.
Baru saja dia hendak berkemas, ponselnya kembali berdering. Namun itu bukanlah sebuah pesan, melainkan panggilan dari kakaknya.
Awalnya Ghali tampak bersemangat menjawab telpon dari kakaknya itu. Tapi baru saja ponselnya berada di telinga kirinya, matanya langsung membulat seketika. Dengan begitu tiba-tiba, rasa terkejut dirinya membuat tubuhnya refleks bangkit dari duduknya saat itu.
Entah apa yang di dengarnya, dia masih saja mematung hingga panggilan pun berakhir dengan segera.
Ghali berulang kali mencoba menghubungi nomor kakaknya kembali, tetapi sia-sia. Nomor Iffah sudah tidak aktif lagi.
tanpa pikir panjang, dia segera mengemasi barang-barangnya dan berlari meninggalkan posisinya saat itu.
"Kakak ipar... Ya, kakak ipar..." Gumamnya ketika sudah berada di atas motor sport yang biasa dia kendarai kemana pun.
Ghali kembali mengeluarkan ponselnya dari kantong celana yang dikenakannya saat itu. Dia menghubungi Toni.
Menyambung.
"Kakak ipar..." Serunya panik.
"Ghali... Iffah..., kakakmu hilang Ghali..." Terdengar suara Toni dengan deru nafas tidak beraturan dari seberang.
"Kakak ipar dimana sekarang?" Tanya Ghali segera.
"Saya di Taman Kota Ghali..." Suara Toni semakin terdengar serak.
"Tunggu saya disana, Kakak Ipar jangan kemana-mana dulu... Ok." Perintahnya. Setelah mendapatkan jawaban Toni dari seberang, Ghali kembali mengakhiri panggilannya. Dia segera mengebut motornya ke tempat yang sudah diberitahukan Toni kepadanya tadi.
.
.
.
.
.
__ADS_1