TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
KEMBALI SEPERTI BIASA


__ADS_3

Entah sudah beberapa pagi semenjak itu. Keadaan hati dan pikiran Toni sudah jauh lebih tenang. Dia tidak lagi banyak melamun dan bermurung diri seperti sebelum-sebelumnya. Bahkan Iffah pun juga sering berkomunikasi lewat ponselnya dengan Kamelia di desa. Kamelia juga sudah terlihat tegar saat itu. Dia juga sudah banyak bicara. Dan hal itu membuat Toni mulai bangkit kembali.


Pagi itu, seperti biasa Toni akan menghabiskan waktu sarapan bersama dengan keluarganya di rumah. Dia mulai terdengar banyak bicara, dan kebiasaannya mengganggu adik iparnya yang masih saja betah menjomblo menurutnya.


“Kakak ipar…” Panggil Ghali sebelum melanjutkan sarapannya.


“Hmm…” Sahut Toni tanpa menoleh, dia terus saja memerhatikan sarapannya.


“Nebeng, ya. Sekali ini saja, kakak  ipar. Badan saya serasa mau rontok semua karena lembur semalam. Nanti kalau saya bawa motor, yang ada saya akan celaka.” Rengek Ghali seperti memohon.


“Boleh, tapi bayar…” Toni menghentikan suapannya seraya menatap tajam kearah Ghali minta persetujuan.


“Ah teganya…” Sungut Ghali seraya mencebikkan bibirnya. Bobi, Chellin dan Iffah terlihat menahan tawa melihat tingkah adik kakak ipar itu.


“Tidak perlu uang. Saat ini saya masih punya banyak uang…” Toni terlihat begitu serius dengan ucapannya.


“Lalu?” Dahi Ghali mengkerut. Perasaannya seakan mulai tidak enak saat itu.


“Cukup kamu kenalkan saja kami kepada pacarmu.” Pinta Toni tanpa mengubah ekspresi di wajahnya.


“Ah, sudah saya duga. Sudah berapa kali saya katakan, kalau saya tidak punya pacar, kakak ipar.” Sahut Ghali memelas.


“Tidak perlu terburu-buru. Yang penting secepatnya.” Tekan Toni seraya kembali melanjutkan sarapannya.

__ADS_1


“Ah, iyakan saja deh. Yang penting hari ini dapat nebeng.” Dengus Ghali terdengar pasrah. Mereka semua tertawa mendengarnya. Toni mencebikkan senyuman di bibirnya.


Sudah lama mereka tidak mendengar dan menyaksikan perdebatan antara adik dan kakak ipar itu. Dan pagi itu mereka menyaksikannya. Sungguh suasana yang hangat, pikir mereka.


Seusai sarapan, mereka bertiga berangkat. Dan untuk pagi itu, Toni dan Ghali duduk di depan, sedangkan Iffah duduk di belakang mereka. Tidak sekalipun mereka tidak melakukan perdebatan selama perjalanan menuju kantor tempat Ghali bekerja. Bahkan untuk hal kecil saja mereka akan berdebat. Seperti untuk


menghidupkan musik saja jadi bahan perdebatan bagi mereka.


“Yaa Allah… Masih jauh kah kantormu, Dek?” Tanya Iffah berpura-pura terlihat jenuh dengan kebisingan yang dibuat oleh dua lelaki yang sangat berarti bagi hidupnya itu.


“Dekat lagi, Kak. Kenapa?” Tanya Ghali tanpa dosa.


“Kalian berdua, jika sudah bersama akan terdengar berisik.” Sungut Iffah.


“Ah, akhirnya sampai juga. menyebalkan sekali jika bersamamu, kakak ipar. Tapi tetap saja… Thank you.” Ucap Ghali seraya turun dari mobil milik kakak iparnya itu.


“Lain kali saya tidak akan memberi kamu tumpangan lagi…” Sungut Toni mendengar ocehan Ghali yang mengatainya menyebalkan. Ghali hanya memamerkan cengirannya.


“Kenapa belum jalan?” Tanya Iffah tetap di posisi duduknya.


“Aku bukan sopirmu, ayo pindah ke depan.” Perintah Toni,


“Tidak mau… Aku mau kamu jadi sopirku kali ini.” Tolak Iffah dengan manja.

__ADS_1


“Oh tidak bisa. Sopir bahkan menerima bayaran dari penumpangnya ya.” Elak Toni tetap bersikekeh tidak mau melajukan mobilnya. Satu kecupan menempel di pipi kiri Toni. Toni ternganga dan membulatkan matanya. Dia begitu terkejut ketika tiba-tiba mendapati kecupan dari istrinya itu.


“Aku sudah membayarnya, bukan? Ayo jalan Pak sopir.” Perintah Iffah mengembangkan senyuman penuh kemenangan di bibirnya.


“Ah, menyebalkan. Awas saja, kamu belum membayar sepenuhnya. Nanti pasti aku akan menagihnya kembali.” Ancam Toni terlihat begitu yakin dengan ucpannya.


“Ok.” Sahut Iffah sembari membuat lingkaran dengan ibu jari dan jari telunjuknya. “Ah asik juga ya.” Gumamnya memanasi Toni seraya menyandarkan tubuhnya.


Toni menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah manja istri cantiknya itu, dan kemudian dia kembali melajukan mobilnya meninggalkan kantor tempat adik iparnya itu bekerja.


Terimakasih sayang, kamu tidak membuatku menunggu terlalu lama untuk melupakan duka di hatimu. Dan kamu tidak membuatku terlalu lama memandangi wajah mu yang menggambarkan kesedihan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2