
Jika kamu bertanya, kuatkah aku tanpamu?
Maka aku akan menjawab ‘Kuat’.
Kuat bertahan dalam sakitku, dalam rapuhku, dalam deritaku.
Jangan pernah bertanya itu lagi terhadapku. Aku akan lakukan apapun yang kamu mau, asal kamu jangan pergi meninggalkan aku.
Kamu tiangku, pondasi tegakku, kamu adalah nafasku. Tanpa kamu, aku mati.
“Kemana kamu akan membawaku hari ini?” Iffah masih bergelayut manja di lengan suami tampannya itu.
“Kemanapun, asalkan bersamaku. Bukan begitu yang kamu mau?” Toni menggamit pipi tembem Iffah, kemudian mendaratkan satu kecupan di kening Iffah yang begitu lebar.
“Ok. Jadi intinya kamu merahasiakannya dariku.” Menyerah. Ya, menyerah lebih baik bagi Iffah saat itu.
“Apa baru saja istri cantikku ini merengut?” Toni tak kunjung melepaskan pipi Iffah dari cengkraman telapak tangannya.
“Tidak, hanya saja aku penasaran.” Ketusnya .
“Seberapa banyak?” Toni menyeringai melihat wajah istrinya yang begitu lucu saat itu.
“Sedikit…” Iffah mengukurnya dengan jari kelingkingnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Toni terkekeh dibuatnya. “bukankah waktu itu aku pernah bilang akan melakukan satu hal lagi untukmu? Apa kamu ingat?” Toni membenamkan kepala Iffah ke dalam dadanya.
Iffah terlihat berpikir sejenak sambil menekan-nekan dada kiri Toni dengan telunjuk kanannya.
“Oh iya, jadi kamu akan melakukan satu hal itu?” Iffah akhirnya dapat mengingat janji Toni kala itu kepadanya.
__ADS_1
“Iya, mudah-mudahan kamu senang nantinya karena itu.” Harap Toni seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Iffah hanya diam saja, dia tidak lagi berminat untuk bertanya ataupun menerka-nerka.
*****
Mobil yang membawa Toni dan istrinya itu sampai di sebuah perkampungan. Disana Iffah terlihat keheran-heranan memandangi sekeliling kampung yang tidak begitu asing baginya.
“Antoni…” Panggilnya lirih. Tangannya memegangi lengan Toni yang baru saja selesai memarkirkan mobil yang mereka kendarai di tepi jalan lengang kampung itu.
“Hmm..” Sahut Toni membalas dengan menggenggam tangan Iffah.
“Ini…?” Dia semakin kebingungan ketika matanya benar-benar menangkap ketidak asingan di area sekitarnya.
“Iya Iffah, ini kampung kelahiranmu, bukan? Tempat kamu dan Arjuna dulu menikah.” Toni mengelus lembut pipi Iffah dan menghadapkan wajah istrinya itu kearahnya.
“Ghali yang sudah memberitahukannya kepadaku.” Ungkap Toni seraya membuka pintu mobil di bagiannya. “Kamu tunggu disini sebentar ya.” Pinta Toni segera turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Iffah.
Iffah masih dibuat bingung dengan rencana Toni terhadap itu semua. Dia terlihat linglung dan tak ingin bicara atau bertanya apapun saat itu.
Kecelakaan yang menimpanya bersama Arjuna kembali membayang di benak Iffah. Dan itu adalah kampung tempatnya dan Arjuna pernah bersama di masa lalunya.
“Ayo, ikut aku.” Toni mengambil jemari Iffah dan menggamitkannya di lengannya yang kekar itu. Iffah hanya menurut kemanapun langkah Toni mengarah.
“Pemakaman?” Gumam Iffah lirih. Dia sungguh tidak mengerti apa yang sedang direncanakan suaminya saat itu.
Toni menghentikan langkahnya di sebuah pemakaman Yang pernah dikunjunginya beberapa bulan lalu bersama Ghali setelah menghabiskan waktu mereka di pesisir pantai kala itu.
“A-Arjuna…” Iffah menjatuhkan lututnya di sebuah pemakaman yang bertuliskan nama Arjuna di nisannya. Air matanya dengan deras bercucuran di pipinya. Dia terisak seraya memegangi nisan yang dia yakini milik almarhum suami pertamanya.
__ADS_1
Entah kenapa, melihat hal itu wajah Toni langsung berubah sendu. Dia tidak tau akan sesakit itu rasanya melihat istrinya menangisi almarhum suami pertamanya. Toni menengadahkan wajahnya ke atas agar air matanya tidak keluar. Dia berusaha menahan dan mengertikan perasaan Iffah saat itu.
Namun rasa sakit itu terus merasuk hingga jantung hatinya. Toni berpikir untuk pergi dari sana, membiarkan Iffahnya menangisi suami pertamanya yang belum sempat ditangisinya kala itu.
Tiba-tiba langkah kaki Toni terhenti seketika. Lengannya serasa ditahan.
Dan benar saja, Iffah menahan lengan Toni.
“Arjun,, maaaf… Aku baru sempat datang. Aku tidak tau taqdir kita sesingkat itu.” Ucap Iffah di sela-sela sesenggukannya.
“Hari ini bahkan, aku datang bersama suamiku setelahmu. Namanya Antoni Zulherman. Dia orangnya baik, dan dia berjanji akan menjagaku. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku disana. Taqdir kita membawaku bersama dengan Antoni zulherman. Dan maaf, jika kali ini aku menyakitimu dengan kejujuranku.
Aku tidak pernah menyesal akan taqdir kita… Hiks… Aku bahkan mencintai Antoniku pada pandangan pertama pertemuan kami. Aku minta maaf Arjuna... Kamu lihat sendirikan? Dia bahkan membawaku menemuimu lagi.” Toni tertegun mendengar pernyataan yang baru saja disampaikan istrinya itu di samping makam Arjuna. Toni menarik bahu Iffah dan membenamkan wajah istrinya itu ke dadanya. Air matanya ikut mengalir begitu saja setelah susah payah ditahannya sedari tadi. Pengakuan Iffah membuatnya begitu bahagia.
Jika mereka seperti itu, bahkan mereka saling tidak menyadari bahwa mereka sama-sama memilliki tempat ternyaman dari diri mereka satu sama lain.
Terimakasih Arjuna… Aku yakin, kamu bahkan yang merelakan Iffah hidup bersamaku… Dan aku percaya itu.
Aku tau dari Ghali, bahwasanya cintamu sangat besar untuk Iffah kita… Dan aku sangat iri karena itu. Tapi aku akan mencintai Iffah lebih, dan itu dengan caraku sendiri.
.
.
.
.
.
__ADS_1