
Cieeee, yang lagi kasmaran.” Sebuah pesan singkat masuk dan
mendebarkan jantung Toni . Saat itupun ponselnya juga berada dalam genggaman di
atas perutnya. Malam itu Toni tengah berbaring di kasurnya yang empuk sambil
menunggu kabar dari kekasihnya yang baru saja menerima dirinya itu.
“Ah anak ini, menggangguku saja.” Gerutunya. Dia seakan
tidak berniat membalas pesan dari calon adik iparnya itu.
Saya tau, Anda telah membacanya di notif layar ponsel Anda
bukan?.” Lagi, Ghali seperti tidak menyerah menggodanya.
Apa kakakmu juga terlihat sama saat ini?.” Akhirnya Toni
menyerah untuk bersikap acuh.
Sepertinya tidak tuh. Apa ada yang lebih tampan lagi darimu
di kantor Pak?.” Balasan Ghali yang sempat membuat muka Toni memerah sesaat.
“Dasar, menyebalkan. Awas saja nanti…” Toni menggerutu kesal
dibuatnya, dia begitu yakin Ghali tengah cengengesan di seberang sana.
Dengan segera, Toni mencari nomor Iffah.
Sedang apa?.” Tanyanya melalui chat di aplikasi WhatsAap yang
digunakannya.
Tidak lagi apa-apa.” Balas Iffah singkat. Dan hal itu mampu
membuat Toni terlihat cemberut.
Lalu?.”
Lalu? Lalu apanya?.”
Kenapa membalas sesingkat itu? Sibukkah?.”
Tidak juga?.” Iffah tetap membalasnya dengan singkat.
“Aiiih, menyebalkan… Apa jangan-ja ngan Benar kata Ghali?.” Gerutunya
seraya bangkit dan mengacak-acak rambutnya hingga terlihat kacau seperti
suasana hatinya saat itu. Tanpa pikir panjang, Toni segera menelepon Iffah.
Tut… Tut… Tut…
(Hallo,) Suara Iffah menyapa dari seberang.
“Hallo, kenapa lama sekali menjawabnya?.” Semprot Toni.
(Haaa.) Iffah menarik ponsel yang menempel di pipinya sesaat
sebelum kembali menyauti ucapan Toni karena mendengar kebisingan yang
diciptakan kekasihnya itu. (Tidak lama kok,) Dia tampak kebingungan.
“Sedari tadi aku menunggu kamu mengangkat teleponnya, di
chatpun balasnya juga singkat-singkat.”
(Kamu kenapa jadi seposesive ini sih?.) Iffah bergedik ngeri
mendengar suara Toni yang tidak seperti biasanya.
__ADS_1
“Posesive?. Haah, aku posesive? Kamu itu yang tidak
mengerti. Atau jangan-jangan kamu sedang chatingan dengan lelaki lain ya?.”
Toni semakin terbakar hasutan Ghali yang padahal hanya menggoda dirinya saja.
(Yaa Allah, Antoni. Kamu benar-benar aneh ya. Apa mesti
segini usia kebersamaan kita?.) Iffah mulai terdengar kesal.
Deg,,, Sesaat hening. “Apa semudah itu bagimu?.” Toni mulai
melunak dan terlihat mengiba.
(Andai aku bisa, aku juga akan meluahkan segala isi
perasaanku kepadamu Antoni. Tapi aku bertahan dalam menjaga kesucian nama
tuhanku yang menciptakan kita berpasang-pasangan. Kita diberi kebebasan untuk
mencintai makhluk-Nya yang lain, namun bukan berarti tidak ada aturannya untuk
itu.
Zina hati telah menguasai diriku semenjak bertemu pandang denganmmu
pertama kali ketika kamu menampakkan dirimu di kantor kala itu.
Aku memang belum mengatakannya, tapi aku juga mencintaimu
Antoni. Bersediakah kamu tidak membuatku menunggu terlalu lama?.
Dan bersediakah kamu membantuku untuk menjaga mauraku dalam
penantian ini?.) Setetes air bening mengalir dengan sendirinya dari mata Toni
yang ideal.
Dengan perlahan, dia menurunkan ponselnya yang menempel di
“Astaghfirullah hal ‘adzhiim…” Batinnya lirih.
Dan hal yang sama dilakukan Iffah di seberang. Mereka
menangis sejadi-jadinya mengingat begitu keterlaluannya perasaan yang mereka
miliki masing-masing.
“Yaa Allah, beginilah sifat hambamu. Pelupa. Aku bahkan baru
saja mendapatkan secuil dari banyak keinginanku darimu, aku sudah melupakanmu
saja.” Rintihnya .
*****
Ghali bersandar di dinding luar kamar Iffah. Meski
telinganya tidak mendengar suara Toni dari ponsel Iffah, tetapi dia mendengar
jelas perkataan Iffah untuk Toni lewat telepon genggam itu.
Ya, saat itu ghali menguping pembicaraan kakaknya dengan
Toni lewat telepon. Dia ingin menghampiri dengan rencana hendak menggoda
kakaknya pula, hanya saja ketika dia mendengar suara Iffah yang serak seperti
ingin menangis, dia memilih untuk berdiri disana dan terus mendengarkan hingga
Iffah selesai berbicara.
__ADS_1
Aku tau kak Iffah berbahagia sekali ketika mendengar pengakuan
cinta Pak Antoni. Tapi kakak lebih
memilih unuk bersikap biasa-biasa saja. Adakah perempuan lain di luaran sana
seperti kakakku ini Yaa Allah.~ Batin Ghali.
Tok… Tok… Tok…
“Kak Iffah, boleh aku masuk?.” Serunya dari luar sembari
mengetuk pintu kamar Iffah yang sedikit ternganga.
Iffah segera menghapus air matanya yang masih menelaga di
pelupuk matanya itu.
“Iya, masuklah dek.” Serunya berusaha bersikap santai.
“Kakak sedang apa?” Ghali merebahkan tubuhnya di tempat
tidur kakaknya itu.
“Tidak lagi apa-apa, kamu belum tidur?.” Tanyanya seraya
menoleh kea rah Ghali.
“Belum mengantuk, kak. Kakak sendiri kenapa masih duduk saja
disana?. Apa Pak Antoni memberi Kak Iffah pekerjaan yang banyak di kantor?.
Sampai selarut ini laptop Kakak masih hidup.
“Tidak juga kok dek, Kakak Cuma lagi buka-buka google saja.”
Iffah benar-benar terlihat santai.
Ghali tersenyum tipis menyauti ucapan kakaknya itu.
Kakak memang handal jika urusan menyembunyika suasana hati
kakak yang buruk seperti saat ini.~ Gumam Ghali seraya bangkit kembali dari rebahannya.
“Ya sudah, Ghali kembali ke kamar Ghali ya kak. Kakak jangan
tidurnya kemalaman, nanti kakak aku yang cantik ini sakit.” Ujarnya sembari
mencubit hidung Iffah manja.
Iffah dibuat sedikit mengerang oleh kelakuan adiknya itu.
Ghali hanya menyeringai seraya meninggalkan Iffah tanpa memperdulikan gerutuan
kakaknya itu.
Jika kakak berjodoh dan segera dilamar Antoni, lalu
bagaimana dengan kamu dek? Memang, kamu bukan sesuatu yang perlu kakak
risaukan. Tetapi itu Cuma menurutmu dek. Kamu Cuma punya kakak, dan begitu juga
sebaliknya. Kakak Cuma punya kamu, sayang.~ Iffah menghela nafasnya berat.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.