TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
ZINA HATI


__ADS_3

Cieeee, yang lagi kasmaran.” Sebuah pesan singkat masuk dan


mendebarkan jantung Toni . Saat itupun ponselnya juga berada dalam genggaman di


atas perutnya. Malam itu Toni tengah berbaring di kasurnya yang empuk sambil


menunggu kabar dari kekasihnya yang baru saja menerima dirinya itu.


“Ah anak ini, menggangguku saja.” Gerutunya. Dia seakan


tidak berniat membalas pesan dari calon adik iparnya itu.


Saya tau, Anda telah membacanya di notif layar ponsel Anda


bukan?.” Lagi, Ghali seperti tidak menyerah menggodanya.


Apa kakakmu juga terlihat sama saat ini?.” Akhirnya Toni


menyerah untuk bersikap acuh.


Sepertinya tidak tuh. Apa ada yang lebih tampan lagi darimu


di kantor Pak?.” Balasan Ghali yang sempat membuat muka Toni memerah sesaat.


“Dasar, menyebalkan. Awas saja nanti…” Toni menggerutu kesal


dibuatnya, dia begitu yakin Ghali tengah cengengesan di seberang sana.


Dengan segera, Toni mencari nomor Iffah.


Sedang apa?.” Tanyanya melalui chat di aplikasi WhatsAap yang


digunakannya.


Tidak lagi apa-apa.” Balas Iffah singkat. Dan hal itu mampu


membuat Toni terlihat cemberut.


Lalu?.”


Lalu? Lalu apanya?.”


Kenapa membalas sesingkat itu? Sibukkah?.”


Tidak juga?.” Iffah tetap membalasnya dengan singkat.


“Aiiih, menyebalkan… Apa jangan-ja ngan Benar kata Ghali?.” Gerutunya


seraya bangkit dan mengacak-acak rambutnya hingga terlihat kacau seperti


suasana hatinya saat itu. Tanpa pikir panjang, Toni segera menelepon Iffah.


Tut… Tut… Tut…


(Hallo,) Suara Iffah menyapa dari seberang.


“Hallo, kenapa lama sekali menjawabnya?.” Semprot Toni.


(Haaa.) Iffah menarik ponsel yang menempel di pipinya sesaat


sebelum kembali menyauti ucapan Toni karena mendengar kebisingan yang


diciptakan kekasihnya itu. (Tidak lama kok,) Dia tampak kebingungan.


“Sedari tadi aku menunggu kamu mengangkat teleponnya, di


chatpun balasnya juga singkat-singkat.”


(Kamu kenapa jadi seposesive ini sih?.) Iffah bergedik ngeri


mendengar suara Toni yang tidak seperti biasanya.

__ADS_1


“Posesive?. Haah, aku posesive? Kamu itu yang tidak


mengerti. Atau jangan-jangan kamu sedang chatingan dengan lelaki lain ya?.”


Toni semakin terbakar hasutan Ghali yang padahal hanya menggoda dirinya saja.


(Yaa Allah, Antoni. Kamu benar-benar aneh ya. Apa mesti


segini usia kebersamaan kita?.) Iffah mulai terdengar kesal.


Deg,,, Sesaat hening. “Apa semudah itu bagimu?.” Toni mulai


melunak dan terlihat mengiba.


(Andai aku bisa, aku juga akan meluahkan segala isi


perasaanku kepadamu Antoni. Tapi aku bertahan dalam menjaga kesucian nama


tuhanku yang menciptakan kita berpasang-pasangan. Kita diberi kebebasan untuk


mencintai makhluk-Nya yang lain, namun bukan berarti tidak ada aturannya untuk


itu.


Zina hati telah menguasai diriku semenjak bertemu pandang denganmmu


pertama kali ketika kamu menampakkan dirimu di kantor kala itu.


Aku memang belum mengatakannya, tapi aku juga mencintaimu


Antoni. Bersediakah kamu tidak membuatku menunggu terlalu lama?.


Dan bersediakah kamu membantuku untuk menjaga mauraku dalam


penantian ini?.) Setetes air bening mengalir dengan sendirinya dari mata Toni


yang ideal.


Dengan perlahan, dia menurunkan ponselnya yang menempel di


“Astaghfirullah hal ‘adzhiim…” Batinnya lirih.


Dan hal yang sama dilakukan Iffah di seberang. Mereka


menangis sejadi-jadinya mengingat begitu keterlaluannya perasaan yang mereka


miliki masing-masing.


“Yaa Allah, beginilah sifat hambamu. Pelupa. Aku bahkan baru


saja mendapatkan secuil dari banyak keinginanku darimu, aku sudah melupakanmu


saja.” Rintihnya .


*****


Ghali bersandar di dinding luar kamar Iffah. Meski


telinganya tidak mendengar suara Toni dari ponsel Iffah, tetapi dia mendengar


jelas perkataan Iffah untuk Toni lewat telepon genggam itu.


Ya, saat itu ghali menguping pembicaraan kakaknya dengan


Toni lewat telepon. Dia ingin menghampiri dengan rencana hendak menggoda


kakaknya pula, hanya saja ketika dia mendengar suara Iffah yang serak seperti


ingin menangis, dia memilih untuk berdiri disana dan terus mendengarkan hingga


Iffah selesai berbicara.

__ADS_1


Aku tau kak Iffah berbahagia sekali ketika mendengar pengakuan


cinta Pak  Antoni. Tapi kakak lebih


memilih unuk bersikap biasa-biasa saja. Adakah perempuan lain di luaran sana


seperti kakakku ini Yaa Allah.~ Batin Ghali.


Tok… Tok…  Tok…


“Kak Iffah, boleh aku masuk?.” Serunya dari luar sembari


mengetuk pintu kamar Iffah yang sedikit ternganga.


Iffah segera menghapus air matanya yang masih menelaga di


pelupuk matanya itu.


“Iya, masuklah dek.” Serunya berusaha bersikap santai.


“Kakak sedang apa?” Ghali merebahkan tubuhnya di tempat


tidur kakaknya itu.


“Tidak lagi apa-apa, kamu belum tidur?.” Tanyanya seraya


menoleh kea rah Ghali.


“Belum mengantuk, kak. Kakak sendiri kenapa masih duduk saja


disana?. Apa Pak Antoni memberi Kak Iffah pekerjaan yang banyak di kantor?.


Sampai selarut ini laptop Kakak masih hidup.


“Tidak juga kok dek, Kakak Cuma lagi buka-buka google saja.”


Iffah benar-benar terlihat santai.


Ghali tersenyum tipis menyauti ucapan kakaknya itu.


Kakak memang handal jika urusan menyembunyika suasana hati


kakak yang buruk seperti saat ini.~ Gumam Ghali seraya bangkit kembali dari rebahannya.


“Ya sudah, Ghali kembali ke kamar Ghali ya kak. Kakak jangan


tidurnya kemalaman, nanti kakak aku yang cantik ini sakit.” Ujarnya sembari


mencubit hidung Iffah manja.


Iffah dibuat sedikit mengerang oleh kelakuan adiknya itu.


Ghali hanya menyeringai seraya meninggalkan Iffah tanpa memperdulikan gerutuan


kakaknya itu.


Jika kakak berjodoh dan segera dilamar Antoni, lalu


bagaimana dengan kamu dek? Memang, kamu bukan sesuatu yang perlu kakak


risaukan. Tetapi itu Cuma menurutmu dek. Kamu Cuma punya kakak, dan begitu juga


sebaliknya. Kakak Cuma punya kamu, sayang.~ Iffah menghela nafasnya berat.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2