
"Kita kemana, Sayang?" Tanya Iffah sambil celingak-celinguk memerhatikan jalanan yang mereka tempuh sore itu. Jalanan yang berlawanan dengan arah rumah mereka.
"Bukannya kita hari ini ada janji ya, Sayang?" Toni pura-pura lupa dengan janji yang baru saja dibuatnya tanpa sepengetahuan istrinya itu.
"Janji? Janji dengan siapa?" Tanya Iffah terlihat bingung dan berusaha mengingat-ingat.
"Janji dengan Dokter." Toni seakan membuat Iffah yakin dengan dengan ucapannya.
"Kayaknya enggak ada deh, Sayang. Lagian sudah sore begini." Elak Iffah.
"Ada... Aku saja sampai buat pengingatnya malahan di ponselku. Dan sekarang, masih pukul setengah lima kok, Sayang." Toni memang sengaja tidak menceritakan rencananya terhadap Iffah. Dia takut jika ternyata dugaannya salah. Dan pastinya, Iffah akan kecewa lagi dengan hasil yang akan mereka terima nantinya.
"Apa iya?" Iffah mengkerutkan dahinya. "Masa aku benar-benar tidak mengingatnya sama sekali sih?" Dia terlihat bingung sendiri.
Maafin aku, Sayang. Aku tidak berani mengatakannya kepadamu sekarang, bahwa sebenarnya akulah yang sudah meminta jadwal untuk sore ini kepada Dokter itu. ~ Gumam Toni tetap terlihat fokus dengan kemudinya.
Toni meraih tangan Iffah. Dengan erat, dia menggenggam jemari ramping milik istrinya itu.
"Kamu baik-baik saja, kan?"
"Iya. Aku baik..." Sahut Iffah seraya menepiskan senyuman tipis milik bibir di wajah ayunya. "Tapi..." Senyuman itu kembali memudar. "Setelah sekian lama, akankah aku bisa hamil?" Tanya Iffah getir. Terdapat keraguan di dalam hatinya seketika.
"Mudah-mudahan saja, Sayang. Kita sudah melakukan banyak hal, mencoba segala yang terbaik. Sisanya, biar Allah yang akan menentukan." Tutur Toni semakin mengeratkan genggaman tangannya. Memberi pengertian dan perhatian melalui sentuhan itu.
Toni tidak hanya menghibur dan meyakinkan istrinya itu, tetapi dia juga berusaha untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Terimakasih, Sayang."
Ya, terimakasih lah sebuah kata yang mampu membuat mereka saling menguatkan dalam kerapuhan. Dan dengan terimakasih pula, mereka percaya dengan apa pun yang mereka lakukan memiliki nilai plus tersendiri darinya.
Mobil yang mereka tumpangi, akhirnya membawa mereka sampai di Rumah Sakit, tempat mereka melakukan konsultasi mengenai program dan rencana mereka untuk memiliki malaikat kecil di tengah-tengah mereka nantinya.
Suami istri itu terlihat gugup ketika melewati lorong demi lorong Rumah Sakit menuju ruangan yang akan mereka kunjungi. Tangan mereka tidak pernah terlepas dari genggaman satu sama lain semenjak turun dari mobil yang membawa mereka kesana.
*****
Setelah melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan. Toni dan Iffah diminta untuk menunggu beberapa saat. Mereka masih terlihat harap-harap cemas menantikan hasilnya.
Namun, mereka juga saling tersenyum untuk menyembunyikan kecemasan di dalam diri mereka masing-masing.
"Sudah, Dok. Tapi hasilnya negatif... Dan sejak itu, saya tidak ingin lagi melakukannya..." Sahut Iffah berusaha menampakkan senyuman di balik kegetiran hatinya saat itu. Matanya memerah dan terasa perih seketika.
"Mungkin saat itu, bunda melakukan tes urine sebelum tubuh menghasilkan cukup hCG (Human Chorionic Gonadotropin), apalagi sebelumnya bunda juga pernah meminum obat kesuburan yang mengandung hCG. Maka dari itu, hasilnya bisa jadi tidak akurat. Seharusnya, seminggu setelah itu bunda mencobanya lagi." Tutur Dokter menjelaskan.
"Maksud Dokter? Apakah hasil sebenarnya bukanlah negatif?" Tanya Iffah penuh harap. Raut wajah Toni berubah seketika. Pendengarannya berusaha terfokus menantikan jawaban dari mulut sang Dokter.
Dokter itu mengangguk sembari tersenyum. "Benar sekali Bunda... Bahkan sudah memasuki lima minggu..." Sahutnya ikut senang melihat reaksi pasiennya yang ada di hadapannya saat itu.
"Al-hamdulillah..." Ucapan Syukur terdengar mendayu keluar dari mulut mereka hampir bersamaan. Air mata Iffah yang sempat menggenang, tiba-tiba mengalir indah begitu saja di pipinya.
Mereka sangat terharu dengan karunia yang telah diberikan Allah kepada mereka.
__ADS_1
"Terimakasih Dokter, untuk kabar bahagia ini..." Ujar Iffah begitu senang. Toni mengangguk kearah dokter seolah mengikuti rasa terimakasih istrinya itu.
"Sebenarnya, ada yang sulit untuk kehamilan Bunda. Maaf, saya harus menyampaikannya." Ungkap Dokter dengan berat.
"Apa itu, Dok?" Tanya Toni berubah cemas setelah merasakan kebahagiaan untuk waktu yang sesaat.
"Kandungan bunda sangat lemah dan beresiko. Tapi, Bunda dan suami tidak perlu cemas, ada beberapa cara untuk menjaga kehamilan Bunda agar tetap aman. Meski sangat sulit untuk melakukan pencegahan terhadap hal buruk yang bisa saja terjadi nantinya."
Toni menegang, kecemasan semakin menghantui perasaannya. "Apa yang bisa kami perbuat, Dok." Tanya Toni penuh harap.
"Sebaiknya, Bunda harus menghentikan aktifitas yang dirasa tidak perlu. Perbanyak istirahat, menjaga pola makan, menjaga berat badan dan yang terpenting, hindari zat yang beresiko." Tutur Dokter menjelaskan.
Entah itu begitu mudah, tetapi terdengar begitu sulit bagi Toni ketika mendengar kondisi kehamilan istrinya.
Hal yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Hanya saja, mereka tidak tahu akankah mereka dapat menemuinya kelak.
.
.
.
.
.
__ADS_1