TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
KECUPAN PERTAMA


__ADS_3

Sudah hampir larut malam, Toni dan Iffah masih berpelukan di balkon kamarnya. Toni mendekap Iffah yang di berselimut sweaternya. Mereka memandang ke langit yang bertaburan kerlap-kerlip bintang di atas sana.


“Terimakasih Iffah, kamu sudah berani menegurku ketika aku kehilangan arah. Aku begitu lemah dan rapuh.” Bisik Toni lirih. Dagunya yang runcing bertengger di pucuk kepala Iffah yang masih ditutupi kerudung kelabu malam itu.


“Terimakasih kembali sudah mau menarik lenganku lagi.” Balas Iffah, dia tidak berhenti memandangi bintang-bintang yang membuat pertemuan hati mereka kali itu dengan suasana yang berbeda.


Kamu tau?


Aku sudah lama menantikan hal ini dalam hidupku… Tapi meskipun begitu, aku tidak pernah merasa ini sebuah keterlambatan bagiku.


Aku bersyukur, bahkan Dia masih memberi aku kesempatan untuk merasakan hal ini.


Aku merasakan sakitnya kehilangan Papa dan Nenek, tapi Dia menggantikannya dengan perasaan bahagia mendapatkan mama dan papa dari om Bobi dan Bi Chellin.


Aku merasakan hidup sendiri ditekan kesepian, tapi Dia memberiku keluarga Om Idris dan Om Agung sebagai keluargaku.


Dan ketika hatiku semakin rapuh, akhirnya Dia mempertemukanku denganmu tanpa kita saling mencari satu sama lainnya.


Ternyata, kamu adalah jawaban dari segala gelisahku selama ini.


Aku berharap, kamu tidak pernah letih mencintaiku hingga nafasku dan nafasmu berhenti.


Aku layaknya anak kecil yang mendapatkan permainan, bersorak dalam diamku, berlonjak dalam tenangku. Aku ingin mencintaimu hingga ujung usiaku.


Toni membawa kepala Iffah bersandar ke dadanya yang bidang, dan dia sendiri bersandar di dinding tempatnya duduk berselonjoran bersama Iffah di depan jendela kaca balkon.

__ADS_1


Dirinya terus hanyut dalam kebahagiaan yang baru saja datang kembali ke dalam hidupnya, hingga menelusuri sampai ke jantung hatinya. Dia begitu bahagia malam itu bisa berpelukan sambil menyampaikan perasaan mereka


masing-masing. Dia memejamkan matanya dalam sandaran itu.


“Antoni…” Panggil Iffah lirih.


“Hmm…” Sahutnya begitu menghayati panggilan istrinya itu.


“Dingin sudah menyakiti tulangku, tidakkah kamu merasakannya juga? Aku khawatir kamu akan kembali sakit seperti kala itu.” Ujar Iffah masih dalam posisi yang tidak berubah.


“Saat ini, aku tidak akan sakit lagi. Kamu adalah pencegah dari segala penyakit yang datang menghampiriku.” Sahut Toni masih dalam mata yang terpejam.


“Kamu jangan begitu, ayo kita ke dalam.” Ajak Iffah seakan meminta dengan paksa.


“Apa itu?” Tanya Iffah seraya mengangkat wajahnya ke arah wajah Toni yang berada di atas kepalanya.


“Kita akan berpelukan seperti ini di atas tempat Tidur.” Sahut Toni tetap tanpa mengubah posisinya.


“Hmm, baiklah.” Putus Iffah tanpa pikir panjang.


“Kalau lebih-lebih, boleh?” Tanya Toni lagi dengan semangat seraya membuka lebar matanya dan menatap istrinya itu dengan jail dan menggoda.


“Ishhhh, kamu ini. Baru saja, sudah punya nyali saja menggoda seperti itu.” Iffah mencebikkan bibirnya sembari melototkan kedua bola matanya kearah Toni yang menyeringai.


“Hehehe… Bukannya kamu yang bilang tadi?” Dia semakin menyeringai mengingat Iffah sempat menggodanya tadi.

__ADS_1


“Bilang apa?” Iffah mencoba mengingat apa yang sudah dikatakannya kepada suaminya itu tadi, sehingga suaminya memberi tatapan yang begitu  buas kepadanya.


“Jangan berpura-pura lupa begitu, nanti kamu benaran lupa lagi.” Ketus Toni menakt-nakuti Iffah.


“Ih, Yaa Allah… Amit-amit…. Jangan sampai. Aku benaran lupa, Antoni.” Iffah bergidik ngeri mendengar pernyataan Toni. Dia terlihat begitu takut jika itu terjadi lagi dalam hidupnya.


“Tidak apa juga, yang penting dengan akunya kamu jangan lupa.” Toni memeluk kembali tubuh Iffah yang sedikit bergetar. “Aku Cuma bercanda.” Timpal Toni lagi menenangkan Iffah.


“Kamu bercandanya keterlaluan ah.” Iffah menampakkan kekesalan di wajahnya.


“Iya, maaf. Janji deh, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Ikrar Toni seraya mengangkat dua jari tangannya.


“Iya…” Toni semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Iffah, dan menyeringai puas sembari mendaratkan satu kecupan pertama di kepala Iffah.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2