TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
SESUNGGUHNYA SESUDAH KESULITAN AKAN ADA KEMUDAHAN


__ADS_3

sudah hampir tengah malam kala itu, mereka masih saja duduk sambil berpelukan di balkon depan kamar mereka.


mata Iffah begitu Jelly memandangi bintang-bintang yang bertaburan di atas langit. Punggungnya di biarkan bersandar di dada Toni yang kekar.


"Sayang..." Panggil Iffah dengan manja.


"Hmm..." Sahut Toni semakin mempererat dekapanya ke perut Iffah.


"Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus mengajakku kembali ke rumah kardus itu. Aku senang bisa mengenal mereka," Pinta Iffah sedikit bersungut.


"Iya sayang, kamu tidak usah khawatir. Insya Allah, lain kali aku aku akan mengajakmu kembali ke sana." Ikrar Toni kepada istri cantiknya itu. Dia begitu senang melihat Rona di wajah istrinya yang memerah.


Iffah begitu senang mendengar janji Toni. Dia terlihat memikirkan sesuatu, namun juga terlihat ragu.


"Sayang…" Panggil Iffah berusaha menyampaikan apa yang membuat dia kepikiran.


"Iya Sayang." Sahut Toni seraya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya itu.


" Bolehkah aku meminta satu hal kepada Nya?" Tanya Iffah sedikit sungkan.


" Memangnya kamu mau minta apa kepada Nya, hmm?" Toni balik mempertanyakan istrinya.


" Aku ingin meminta bayi mungil yang akan mengisi hari-hari kita berdua, bolehkah?" Toni sedikit tersentak mendengar permintaan Ifah. "Kenapa kamu terkejut seperti itu?" Tanya Iffah ketika merasakan tubuh Toni bergetar.

__ADS_1


"Apa kamu yakin dengan permintaanmu, sayang?" Tanya Toni sedikit ragu. Ada sesuatu yang membuat dirinya merasa ketakutan saat itu.


Ingatan Toni kembali pada masa-masa kritis Milka. Putri kecilnya yang terbaring lemah karena menderita penyakit leukemia yang disebabkan oleh faktor genetik turunan dari kakek dan Papanya.


Dia tidak ingin Iffah merasakan apa yang dirasakan kan oleh Kamelia ketika kehilangan Milka, dan dia juga tidak ingin merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya lagi.


Rasa sakit itu belum hilang sepenuhnya dari dalam hatinya, dia hanya berusaha mencoba untuk terlihat Tegar di depan keluarga dan orang-orang yang menyayanginya.


"Kenapa tidak sayang? Aku bahkan sangat yakin dengan permintaanku." Iffah menyahuti keraguan suaminya itu dengan keyakinan yang sangat besar. "Maaf" Desirnya lagi dengan begitu tiba-tiba.


Toni tersentak ketika mendengar kata maaf dari Iffah. "M- maaf?"


"Aku tahu alasan kamu tidak ingin memiliki keturunan, tapi kamu percaya tidak? Bahwa keajaiban itu benar-benar ada." Iffah semakin berusaha meyakinkan Toni. "Dan aku tahu bahwa ini adalah sebuah keputusan yang sangat sulit untuk kita."


Aku telah banyak memberikan derita untuk mereka. Kamelia, Milka dan bahkan juga Kemil.


Aku rasa, kita tidak perlu anak untuk bahagia. Papa dan Mama tidak memiliki anak ,tapi mereka juga bahagia. Aku tidak menuntutmu untuk memiliki keturunan, Sayang.


Jadi kamu tidak perlu gundah memikirkannya. Dengan adanya dirimu di sampingku, sudah membuat aku jauh merasakan kebahagiaan." Mata Toni terlihat berkaca-kaca menyampaikan sesuatu yang tidak sebenarnya ada di hatinya.


"Kamu berbohong." Ketus Iffah seraya bangkit dari dekapan Toni. "Sampai kapan kamu akan terus lari, Sayang?" Suara Iffah terdengar serak.


Toni ikut bangkit dari duduknya. Dia tampak terluka melihat kerasnya kepala Iffah saat itu mempertahankam argumentnya.

__ADS_1


"Aku berbicara yang sebenarnya, sayang. Aku hanya mencoba agar tidak ada lagi duka di hatiku. Aku pikir, aku sanggup hidup seperti papa. Tapi bahkan menjadi diriku sendiri, aku tidak bisa. Hanya dengan melihat rasa sakit pada orang-orang yang aku sayangi, tanpa merasakan bagaimana rasa sakit itu sendiri."


Iffah menggenggam jemari Toni. Dia berusaha memberikan sebuah energi untuk suaminya itu.


"Sakit leukimia untuk orang-orang seperti kita sangat ditakutkan. Lalu bagaimana dengan penyakit kemiskinan yang dirasakan oleh orang-orang penghuni rumah kardus? Penyakit yang terus menyerang mereka hingga kematian. Apa yang diharapkan oleh mereka? Bantuan darimu? Bantuan dari pemerintah?" Tegas Iffah dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Masalah untuk dihadapi, sayang. Bukan untuk dijauhi, dihindari, dan bahkan bukan untuk ditakuti. Percayalah… Innama'al Usri Yusro, sesungguhnya sesudah kesulitan itu akan ada kemudahan." Tutur Iffah semakin mempererat genggaman tangannya terhadap Toni.


"Astaghfirullahaladzim, maafkan aku sayang. Kata-katamu menyadarkan aku, bahwa aku selama ini salah. Aku seperti tidak bertuhan. Aku selalu hidup dalam bayang-bayang ketakutan, dan kecemasan." Toni seperti diliputi rasa bersalah.


"Kamu percaya, bukan?" Tanya Iffah menatap tajam mata Toni penuh harapan yang sangat besar darinya. Toni mengangguk pelan. "Kamu mau membantuku untuk melakukan pengobatan, bukan?" Tanya Iffah lagi. Dan Toni mengangguk lagi dengan pasti.


"Terimakasih, Sayang" Ucap Iffah seraya menghamburkan dirinya kembali ke dalam dekapan suaminya itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2