TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
KELUARGA YANG UTUH


__ADS_3

Jika aku boleh serakah, di usiaku yang semakin senja ini. Aku ingin seorang anak memanggilku mama, dan memanggil suamiku papa. Dan itu hanya aku harapkan dari Toni, Ibu.


Bisakah satu keinginan lagi terwujud untuk diriku?


Toni mematung dari balik pintu mendengarkan percakapan ketiga orang terkasihnya itu di pelataran belakang rumah. Dia terlihat begitu terharu mendengar permintaan Chellin yang merengek di lutut neneknya.


Ya, sejak kepulangan Toni sore harinya dari Rumah Sakit, dia merasakan perhatian yang sangat berlebihan dari wanita paruh baya yang dipanggilinya Bibi. Chellin teramat mencemaskan Toni yang dianggap sebagai putra kandungnya sendiri.


Chellin,,, kita juga tidak bisa memaksakannya kepada Toni. Perhatiannya untuk kita saja sudah lebih dari cukup, aku tidak ingin dia menjadi gugup jika harus memaksakan kehendak kita.~Bobi terlihat menenangkan istrinya itu, meski hatinya berharap sama.


Ibu juga ingin sekali, Nak. Merasakan keutuhan dalam rumah tangga. Tapi kalian kan tahu, ibu bahkan baru merasakan kehadirannya setelah dari sekian lama.~ Tutur nenek menimpali.


Tapi melihat Toni terbaring lemah seperti tadi, membuat Chellin begitu serakah ingin memiliki Toni seutuhnya menjadi putranya Chellin, Bu.~ Terlihat sekali ketulusan dari setiap air mata yang dikeluarkan wanita paruh baya itu di pangkuan Nenek.


Toni terus saja mendengarkan percakapan mereka tanpa ingin masuk dan menghampiri kesana. Air matanya berjatuhan mendengar setiap permintaan Chellin yang terdengar mengiba di telinganya.


*****


Toni memiringkan tubuhnya dan bergelung di dalam selimutnya yang tebal. Setiap percakapan yang di dengarnya pada senja tadi selalu terngiang ditelinganya. Matanya begitu sulit untuk terpejam kala itu.

__ADS_1


“Apa kamu masih kedinginan, sayang?” Chellin datang dan menaiki selimut Toni hingga menutupi lehernya.


“Toni masih kedinginan, Bi. Bolehakan Toni meminjam tangan Bibi sebentar?.” Pintanya lirih.


Chellin mengangguk dengan wajah sumringah dan berseri-seri. “Tentu boleh, sayang. Kamu bisa pinjam tangan Bibi kapanpun kamu mau.”


Toni meraih tangan Chellin dan mengenggamnya dengan erat. Sedangkan tangan Chellin yang satu lagi sibuk mengelus lembut kepala Toni.


“Bibi tau…?”


“Hmm?” Chellin bersiap mendengar ucapan Toni yang menggantung.


“Ketika papa masih hidup, papa berperan menjadi dua sosok sekaligus. Ketika Toni berbahagia, lulus sekolah, di wisuda… Papa selalu ada untuk Toni sebagai papa. Tetapi ketika menyiapkan sarapan Toni, pakaian Toni, membantu mengerjakan PR Toni, bahkan ketika Toni sakit, papa jugalah yang selalu ada untuk Toni. Papa bilang, jika Toni rindu mama, Toni peluk saja Foto mama dan cari papa. Papa juga bisa  sekaligus jadi mama untuk Toni.”Air mata Toni mengalir dari ruas tepi matanya ketika dia tengah mengingat perjuangan papanya ketika masih


“Karena itu, Toni tidak pernah mengharapkan sosok mama yang nyata dalam hidup Toni.” Chellin terkejut mendengar ucapan Toni. Kesempatan seakan tertutup rapat baginya.


“Tapi apa Bibi tau?.” Toni berusaha bangkit dari tidurnya dan duduk sambil menatap lekat wajah Chellin. Tangan Toni masih saja mengenggam tangan wanita paruh baya itu.


Chellin memaksakan senyumannya sembari membalas tatapan Toni.

__ADS_1


“Semenjak Toni hidup bersama Bibi dan Om Bobi, Toni semakin berharap memiliki sosok mama seperti Bibi.” Mata Chellin berbinar menapaki kejujuran di balik mata Toni yang sendu. “ Bibi dan Om begitu sayang kepada Toni, kalian peduli dengan semua urusan Toni, selalu mengkhawatirkan Toni, memikirkan segala yang terbaik untuk Toni. Dan bahkan, kalian selalu mendukung segala keinginana Toni. Toni ingin punya mama dan papa seperti kalian. Toni ingin punya keluarga yang utuh dengan satu mama, satu papa, satu nenek dan… Toni sebagai putra kalian. Toni tau, permintaan Toni ini begitu besar, tapi Toni berharap.”


Chellin menutupi mulutnya yang terisak dengan satu tangan. Dia seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri yang memberikan angin surga baginya.


“Apa Toni boleh memanggil Bibi dengan sebutan mama?. Toni ingin memberitahukan dunia kalau Toni punya mama secantik dan sebaik Bibi. Toni juga ingin punya papa segagah dan sebijak om Bobi. Meski papa Toni akan tetap


hidup dalam hati Toni selamanya.”


Chellin mengangguk dengan cepat, dan menghamburkan kepalanya ke dalam dada Toni yang bidang dan lebar. Dia begitu bahagia mendengar permintaan Toni yang dirinya sendiri juga mengharapkan hal yang sama.


Yaa Allah, begitu cepatnya engkau menjawab keinginan istriku. Terimakasih Yaa Rabb,~ Tanpa mereka sadari, sedari tadi Bobi menguping pembicaraan mereka dari balik pintu kamar Toni yang ternganga lebar.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2