
Iffah perlahan membuka matanya yang sedikit terasa perih karena kurang tidur beberapa hari itu. Dia begitu terkejut mendapati dirinya sudah tertidur di atas tempat tidur dengan selimut tebal membentang di atas tubuh lelahnya.
Dimana Antoni?~ Gumamnya ketika tidak mendapati sosok suaminya disana.
"Antoni..." Panggilnya seraya turun dari tempat tidur dan bergerak menuju ke arah kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu.
"Antoniii... Sayaang." Panggilnya lagi seraya menarik gagang pintu kamar mandi. Namun suaminya juga tidak berada disana.
Apa mungkin Antoni keluar?~ Iffah terlihat sangat khawatir dan bergegas menuju pintu kamar.
Ketika dia membuka pintu kamar, Toni telah berdiri dan mematung disana.
"Antoni…" Panggilnya lirih. Wajah Antoninya terlihat menyedihkan kala itu. Toni menghempaskan tubuhnya dan memeluk Iffah dengan begitu erat.
"S-sa-yang... Kamu baik-baik saja, kan?". Tanya Iffah dengan gugup. Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi.
"Aku telah kehilangan Milka untuk selamanya, sayang". Bisik Toni getir. Suaranya semakin terdengar memarau.
Iffah mengelus lembut punggung Toni sesaat, dan kemudian dia kembali menutup pintu kamar itu. Dengan lembut, Iffah melepaskan pelukan Toni dari tubuhnya dan menggandeng lengan suaminya menuju ke tempat tidur.
"Apa begitu sakit?" Bisik Iffah seraya menggamit pipi Toni dan mengangkat wajah suaminya itu ke hadapannya.
"Sakiit." Sahutnya singkat. Namun air matanya semakin menderas seketika.
"Apa kamu mau obatnya?."Tanya Iffah lagi dan menatap tajam mata Toni.
Toni mengagguk pelan.
__ADS_1
"Ambillah wudhu' Sayang, aku akan siapkan sajadah untuk kita." Perintah Iffah dengan begitu lembut seraya berdiri di hadapan Toni. "Kita harus meminta obat kepada-Nya, bukankah Dia yang memberi rasa sakit itu?." Tutur Iffah dengan tersenyum dan menampakkan betapa bijaksana dirinya saat itu sebagai istri Toni.
Toni terisak, dia memeluk perut Iffah yang sejajar dengan kepalanya. "Terimakasih, Sayang." Bisiknya lirih.
"Terimakasih kembali suami tampanku." Balas Iffah sembari mengelus lembut kepala suaminya. "Terimakasih sudah mau membagi rasa sakitmu denganku." Tambahnya lagi.
Toni melepaskan tubuh Iffah. Dia bangkit. Dengan langkah gontai, dia beranjak menuju ke kamar mandi untuk berwudhu seperti yang disarankan istrinya.
Sudah di waktu pertigaan malam. Toni dan Iffah menghadap kepada Sang Pencipta Dunia dan Seisinya. Pemberi Rasa Sakit untuk Hambanya, namun juga Pemilik Obat untuk rasa sakit itu.
Tidak sekalipun air mata Toni dan Iffah berhenti mengalir ketika menampungkan tangannya kepada sang pemberi. Mereka begitu Khusyuk di haribaan Sang Pendengar do'a-do'a mereka.
Segala keluh kesah mendesir begitu saja dari mulut Toni. Dia mengadukan segala sakitnya sebagai hukuman atas dosanya. Dia begitu pasrah di hadapan-Nya yang tak terlihat oleh mata siapa pun. Dia seakan merasa hina kala itu.
Akan tetapi, mereka begitu yakin jika Allah tengah memeluk dan mendekap mereka.
Kemil membuka pintu kamarnya dengan perlahan dari luar. Wajahnya yang masih lembab dan sedikit menyemban tertekuk kala itu.
Namun dia begitu terkesiap ketika melihat istrinya telah duduk berselonjoran di atas tempat tidur mereka, sambil menyusui putra kecil mereka yang sedikit mengurus.
Kamelia yang menyadari kedatangan Kemil, segera melemparkan senyumannya yang lebih dari sebulanan itu tersembunyi.
"Ayah sudah kembali. Ayo kemarilah, Ayah. Cakra sangat merindukan Ayah." Sapa Kamelia dengan nada manja yang dibuat-buatnya.
Kemil semakin tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya saat itu. Dia terus saja mematung di ambang pintu kamar seraya mengusap-usap wajahnya dengan kasar.
"Ayaaah... Kenapa masih berdiri saja disana? Ayo kemarilah." Ulang Kamelia semakin memepertajam senyumannya.
__ADS_1
Kemil semakin terkejut mendengarnya. Dia mulai membalas senyuman Kamelia dan kembali menutup pintu kamarnya.
Dengan perlahan, Kemil mendekat kearah Kamelia tanpa mengedipkan matanya yang masih memerah kala itu.
"Sayang..." Kemil tampak masih belum percaya dengan Kamelianya yang begitu tiba-tiba menjadi manis di hadapannya.
Kamelia menepuk-nepuk kasur di sebelahnya, berharap Kemil akan duduk disana.
"Sayang…" Panggil Kemil lagi mulai tersenyum lebar dan memeluk Kamelianya dengan begitu erat. "Kamu baik-baik saja kan, sayang? Kamu tidak lagi mengigau, bukan?" Tanyanya dengan begitu senang.
"Aku baik-baik saja, sayang. Hanya saja Dedek Cakra pasti akan risih jika kamu apit begini." Sungut Kamelia.
"Yaa Allah maafin Ayah, Nak." Kemil tersentak mendengar dengkuran keras yang keluar dari mulut bayi mungil itu.
Berkali-kali Kemil mengecup dahi Cakra. Namun tiba-tiba air matanya kembali mengalir begitu saja dari matanya yang sipit.
Dia sedikit terisak karenanya, ingatannya kembali kepada putri kecilnya yang begitu cantik dan cerewet.
"Maafin Ayah, Nak" Bisiknya lirih seraya menjatuhkan kepalanya ke paha Kamelia. "Maafin Ayah, sayang." Kemil mengapit Lutut Kamelianya dengan lengannya dan dengan begitu erat.
"Sudah sayang… Aku tau, dia sangat berarti untuk kamu. Untuk kita semua. Bahkan Untuk Toni. Kesedihan Toni juga lebih besar saat ini. Dia pasti menganggap semua ini sebagai hukuman baginya. Dia bahkan terlihat begitu terpukul. Dia tidak hanya kehilangan Milka kita, dia sudah banyak kehilangan orang-orang yang dia sayangi untuk beberapa tahun ini.
Dan aku, aku salah mengabaikan perasaan kamu selama ini. Aku begitu egois memikirkan perasaanku sendiri. Aku tau, kamu begitu menyayangi Milka melebihi aku menyayanginya. Kamu ayah terbaik yang tidak memisahkannya dengan Toni.
Aku tidak bisa tidur tanpa Milka. Sementara Milka, dia tidak bisa tidur tanpa kamu.
Seharusnya dari awal, tetapi aku akan mengatakannya sekarang. Terimakasih telah menjadi ayah untuk Milka." Kamelia kembali terisak. Dia memeluk erat Cakra yang masih berada dalam dekapannya saat itu.
__ADS_1
Rasa sakit kembali menggerayang hati mereka. Hanya saja, mereka tidak membiarkan rasa sakit itu menguasai akal pikiran mereka.