
Langit serasa runtuh malam itu. Iffah bagai diapit dua gunung merapi, rasanya sakit dan semakin menyakitkan. Adik tirinya yang sangat menyayangi dirinya, tengah terkapar melawan maut di ruang operasi.
"Dia masih menggenggam tanganku ketika aku berusaha melepaskannya. Dia yang paling mengerti apa yang aku butuhkan. Sekarang dia harus membayar apa yang tidak seharusnya dia bayar. Dia mencoba melindungiku berkali-kali, dan kali ini nyawanya menjadi taruhan bagi dirinya." Tubuh Iffah menggigil mengingat apa yang baru saja terjadi. Toni mendekap istrinya itu dengan begitu kuat.
"Apa yang harus aku lakukan, Sayang?" Tanya Iffah di sela-sela sesenggukannya.
Air matanya menderas tanpa bisa dihentikan.
"Ghali kita akan baik-baik saja, Sayang. Kamu tenang ya. Dia lelaki kuat." Ujar Toni menenangkan istrinya. Sementara hatinya juga merasakan sakit menahan ketakutan jika segala hal buruk akan terjadi terhadap adik iparnya itu.
"Toni, Iffah..." Seru Bobi. Tangan lelaki paruh baya itu menggenggam jemari istrinya dan sedikit berlari kearah mereka.
Toni dan Iffah menoleh kearah sumber suara. "Papa... Mama..." Sahut mereka hampir bersamaan.
"Apa yang terjadi, Nak?" Tanya Bobi dengan cemas.
"Ghali Pa... Hiks... Hiks... Ghali..." Tangis Iffah semakin menjadi-jadi mendapati kedua orang tua suaminya itu.
Belum sempat penjelasan keluar dari mulut mereka, Iffah memegangi perutnya. "Aaah..." Iffah merasakan nyeri seketika.
"S-sayang... Ada apa?" Toni segera merangkul bahu Iffah. Mereka tampak khawatir melihat Iffah meringis kesakitan sambil memegangi perut buncitnya.
"Perutku..." Ringisnya kembali. Keringat dingin bercucuran dengan deras pada pori-pori kulitnya yang tipis.
"Toni... Sepertinya Iffah mau melahirkan, Nak." Duga Chellin mengejutkan Toni. Dia terlihat gugup. Untuk pertama kali baginya, apa pun yang sempat dibacanya mengenai kehamilan wanita, lenyap seketika itu juga. Saat dimana dirinya dihadapkan dengan kenyataan, bukan bacaan atau gambaran semata.
"Tapi... Ghali...?" Protes Iffah di sela-sela rasa sakitnya. Kekhawatirannya terhadap adik tirinya itu melebihi rasa sakit yang saat itu ditanggungnya.
"Kami ada disini, Nak. Kami akan menjaga Ghali." Ikrar Bobi meyakinkan Iffah.
"Terimakasih, Pa, Ma..." Ujar Iffah getir.
__ADS_1
"Semua pasti akan baik-baik saja." Timpal Chellin menyemangati anak dan menantunya itu.
"Pa... Dokter yang menangani Ghali..." Toni menatap dalam, rona wajah papanya yang tiba-tiba menyala sebelum kata-katanya usai.
Senyuman sedikit mencerah dari bibir Bobi. "Dia pasti akan mengupayakan yang terbaik untuk Ghali kita, Nak." Sahut Bobi dengan wajah baru penuh semangat dan keyakinan.
Iffah dan Chellin hanya menatap penuh tanya, namun mereka tetap tidak bersuara.
Langkah pasti mebawa Toni yang tengah menggendong istrinya ke ruangan bersalin di Rumah Sakit yang sama.
Kepastian yang diucapkan Bobi membuat pikirannya sedikit lebih terfokus kepada Iffah dan calon bayinya. Namun, tidak menghilangkan rasa khawatirnya terhadap Ghali, adik iparnya itu.
Di ruang bersalin, Setelah menunggu berjam-jam. Dan entah berapa jam penantian Toni saat itu. Pikirannya belum tenang, apalagi dia juga belum mengetahui bagaimana keadaan Ghali.
Sementara, Istrinya masih melewati beberapa hal karena ini merupakan kehamilan Iffah yang pertama.
Iffah melewati beberapa fase, hingga tibalah fase transisi. Dan saat-saat itulah Toni menjadi gugup. Berkali-kali mulutnya berbisik di telinga istrinya itu untuk menenangkan dirinya sendiri dan juga Iffah. Jemari Iffah digenggamnya dengan sedikit kuat, agar Iffah benar-benar merasa ada Antoninya di samping dirinya saat itu.
Dan pantas saja, Ghali begitu mempertahankan ibunya... Karena dia tahu, bagaimana ibunya melahirkan dirinya ke dunia. Meski sejahat-jahat apa pun seorang ibu, dia tidak akan menjahati anaknya dengan sengaja...
"Kamu yang kuat ya, Sayang." Bisik Toni di telinga Iffah. Air matanya menggenang.
"Sakit, sayang..." Rintih Iffah. Cairan bening mengalir deras di ruas-ruas tepi matanya.
"Iya, sayang... Aku tahu itu, meskipun aku tidak pernah merasakannya.
Maka dari itu, surga berada di bawah telapak kaki ibu. Karena perjuangan seperti inilah, sayang. Karena perjuangan yang saat ini kamu rasakan, dan tidak mampu dirasakan lelaki mana pun di dunia.
Demi anak kita..." Bisik Toni semakin mempererat genggaman tangannya terhadap jemari Iffah.
Iffah mengangguk pelan.
__ADS_1
Giliran Iffah menggenggam jemari Toni dengan kuat. Sementara, tangannya yang satu lagi meremas kain yang didapatinya.
Erangan yang begitu menggelegar terdengar menyayat dan menggetarkan hati Toni. Dia terus melafadzkan do'a-do'a di telinga Iffah.
Tangisan bayi mendayu, melepas rasa khawatir mereka.
"Anak kita sudah lahir, Sayang." Bisik Toni begitu antusias mengabarkan kelahiran bayinya ke telinga Iffah. Air mata Iffah semakin menderas karenanya.
"Selamat, Ayah, Bunda... Bayi kalian perempuan." Seru sang dokter, sebelum seorang perawat membawa bayi mereka untuk dibersihkan.
"Alhamdulillah..." Desir Toni. Dia begitu bahagia mendengar kabar tentang jenis kelamin bayinya.
"Sayang... Jingga Fadhilah Husna kita, telah lahir ke dunia..." Bisik Toni begitu senang. Iffah mengangguk lemah. "Terimakasih, Sayang..." Ucap Toni lagi dengan air mata bercucuran dengan tiba-tiba. Dia melingkarkan lengannya ke leher Iffah, dan menghujani dahi lebar istrinya itu dengan kecupannya.
Segala rasa sakitnya sedikit terobati.
Bukti Engkau menyayangiku Yaa Allah... Dan hamba percaya, adik ipar hamba juga baik-baik saja saat ini...~ Batin Toni. Berkali-kali jemari Iffah yang lemah dikecupnya sedari tadi. Bahagia dan pikiran positifnya semakin bertambah. Dia percaya, setelah kabar bahagia atas kelahiran putrinya, kabar bahagia dari Ghali pun akan diterimanya pula setelah itu.
.
.
.
.
.
GHALI DAN IFFAH SEDANG BERJUANG UNTUK HIDUP MEREKA...
SEDANGKAN AKU HARUS BERJUANG MENULIS TAQDIR MEREKA.
__ADS_1
SALAM SATU LAYAR🤗🤗