TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
JINGGA FADHILAH HUSNA


__ADS_3

Iffah tersenyum menatap buah hatinya yang saat itu berada dalam gendongannya. Sedari tadi, telunjuk rampingnya mengusap bibir mungil pitrinya.


Alhamdulillah Yaa Allah... Tidak akan bosan hamba mengucapkan syukur kepada-Mu...


Makasih juga, Sayang. Untuk Jingganya Mama dan Papa... Kamu sudah mengizinkan kami menjadi orang tuamu, Nak...


Iffah berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah. Dia hanya terharu dengan kebesaran Rabb-nya.


"Assalamu'alaikum..." Chellin dan Bobi masuk.


"Wa'alaikumussalam... Mama... Papa..." Seru Iffah mendapati wajah-wajah orang tua suaminya itu dari ambang pintu.


"Yaa Allah... Cucu Oma dan Opa benar-benar sudah terlahir..." Seru Chellin seraya setengah berlari menuju ke tempat Iffah dan bayi mungilnya. Chellin segera meraih bayi mungil itu dari tangan Iffah.


"Pa... Bagaimana keadaan Ghali, Pa?" Tanya Iffah sendu.


"Alhamdulillah, Nak. Ghali sudah melewati masa kritisnya. Saat ini, Toni menemaninya meskipun Ghali belum sadar.Tadi, sebelum Papa dan Mama kesini, Ghali sudah dipindahkan ke ruang transisi." Ungkap Bobi menjelaskan.


"Alhamdulillah..."Ucap Iffah dengan nafas lega. "Kapan Iffah bisa menemui Ghali, Pa?" Tanyanya lagi.


"Tunggulah sebentar, Nak. Kondisimu juga belum memungkinkan untuk banyak bergerak, bukan?" Chellin juga ikut mengangguki dan membenarkan ucapan suaminya yang begitu bijak.


"Setidaknya, tunggulah sampai Ghali kembali sadar, Sayang." Bujuk Chellin menyarankan menantunya itu.

__ADS_1


"Toni sudah menceritakan semuanya kepada Papa dan Mama, Nak. Apa yang telah terjadi kepadamu dan Ghali." Bobi mengatur nafasnya sebelum kembali melanjutkan kata-kata yang ingin disampaikannya.


"Papa hanya khawatir dengan kondisi Ghali setelah dia kembali sadar nanti. Dia pasti akan sangat merasa terpukul. Karena dia sendiri yang telah memanggil polisi untuk menangkap ibu kalian." Tutur Bobi dengan berat.


"Iffah juga baru tahu dari Antoni barusan, Pa. Iffa juga bingung harus bagaimana..." Ungkap Iffah.


Dia perempuan jahat, dan Ghali anak dari perempuan jahat itu Kak. Ghali tidak mungkin sanggup menyaksikan ibu kandung Ghali dipenjara, makanya Ghali biarkan ibu kabur...


Kata-kata Ghali kala itu kembali terngiang di gendang telinga Iffah. Air matanya berjatuhan dengan deras jika mengingatnya.


"Tidak ada orang yang benar-benar jahat, Sayang. Tetapi jika untuk serakah, banyak..." Ungkap Chellin seraya menyodorkan bayi Jingga kepada suaminya.


Chellin mendekap Iffah dan berusaha menenangkan menantunya itu. "Percayalah, Sayang. Semua akan baik-baik saja. Dan Ghali, dia lelaki dewasa yang begitu bijak dan memiliki pikiran jernih. Dia tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik, dan mana pula yang buruk."


"Betulkah namanya cucu Opa ini Jingga?" Tanya Bobi bertingkah menggoda bayi mungil yang belum mengerti apa-apa. Dia berusaha mengelak dari perbincangan yang terlalu rumit itu, meskipun dia sendiri yang memulainya.


"Apa Antoni sudah memberitahukan nama putri kami kepada Mama dan Papa?" Tanya Iffah heran.


"Begitu semangatnya suamimu itu memberitahukan kelahiran putri kalian kepada Mama dan Papa tadi.


'Ma... Pa... Jinggaku telah lahir...' begitulah cara Toni memberitahukannya kepada kami, Sayang.


Kami keheranan... Kemudian dia bilang, 'Jingga Fadhilah husna... Berarti perempuan, eeh ternyata benaran cucu Oma perempuan." Ujar Chellin begitu bersemangat menirukan logat putra mereka, ketika menemui mereka di ruang tunggu tempat Ghali dioperasi tadi.

__ADS_1


Iffah sedikit terkekeh mendengarnya. Sudah terbayang di dalam benaknya, bagaimana Cara Toni yang begitu bersemangat membagi kebahagiaan yang mereka rasakan terhadap Mertuanya itu.


"Pasti raut wajahnya tidak bisa berbohong ya, Ma?" Tanya Iffah lagi. Dia juga belum puas mengetahui tentang suaminya itu.


"Hmmm... Andai raut wajah Toni akan terus seperti itu, Sayang." Chellin kembali getir. "Tapi ketika dia melihat Ghali, dia kembali murung."


"Sudah... Bukankah Mama tadi bilang semua akan baik-baik saja?" Ujar Iffah. Chellin mengangguk. "Berarti sampai disana saja, Ma. Semua akan baik-baik saja. Iffah percaya... Jingga adalah awal kebahagiaan kita. Dan setelah itu, hanya akan ada kebahagiaan untuk kita..."


"Insya Allah..." Chellin dan Bobi mengikuti ucapan Iffah.


Mereka tersenyum.


Bayi mungil yang berada dalam gendongan Bobi, memang menampakkan kedamaian dari wajahnya. Seolah pertanda, mereka hanya akan melewati hal-hal yang membahagiakan setelahnya.


Tidak hanya seorang putra, tapi sekarang Engkau juga memberiku seorang cucu... Alhamdulillah... Terimakasih Yaa Wahhabb...


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2