
Jika kamu ingin, kamu mau yang bagaimana?
Seperti akukah yang bahkan tidak megingat masa lalu? Atau tetap sepertimu yang akan terus hidup dalam bayang-bayang masa lalumu yang sulit?
Tidak ada yang ingin diketahui Iffah setelah mendengar cerita masa lalu Toni yang begitu panjanng dan menyakitkan, kecuali masalah hati dan fikiran Toni untuk kehidupan di masa yang akan datang.
“Aku bahkan tidak ingin lupa bagaimana kejamnya aku sebagai seorang sahabat, durhakanya aku sebagai seorang anak, dan jahatnya aku sebagai seorang papa… Aku sangat buruk, sangat… Aku menyakiti keluargaku sendiri. Tetapi aku tidak ingin lupa itu Iffah. Aku ingin mengetahui segala karma yang telah aku lalui untuk menebus semua itu.
Tidak sulit Iffah, hanya saja begitu menggelisahkan untuk masa depan putriku.
Aku tidak ingin melupakan putri kecilku, meski aku tidak memiliki hak sama sekali terhadapnya. Tapi dia putriku… Jika nanti dia dewasa, aku tidak punya hak untuknya. Dan lebih menyakitkan, pasti, lelaki yang dianggapnya ayah, juga sama seperti aku…”
Iffah tampak murung mendengar penuturan Toni.
“Maafkan aku Toni…” Iffah tidak berdaya melihat mata Toni berkaca-kaca.
Toni menghempaskan nafasnya yang berat. “Kalau kamu sendiri?.”
“Aku juga ingiin… Aku ingin tidak lupa semua masa laluku.” Buliran bening kembali berjatuhan dan menggelitik pipi mulus Iffah.
“Aku tidak suka air matamu, enyahkan dari wajahmu. Atau aku yang akan menghapusnya sendiri…” Perintah Toni setengah mengancam.
“Aku kan punya mata, dan aku juga punya perasaan.” Sungut Iffah.
__ADS_1
“Nanti, jika aku sudah boleh menyentuh pipimu. Dan meminjamkan bahuku untuk menjadi sandaranmu.” Tegas Toni.
“Tapi kamu tidak marah kepadaku kan?.” Iffah sedikit canggung menatap Toni yang bersandar di atas tempat tidur Rumah Sakit itu.
“Hmmm, sedikit. Marahku kan mereda jika kamu menyuapi aku.” Ujar Toni seraya menyeringai nakal.
“Aku bahkan belum makan…” Iffah mencebikan bibirnmya. “Dan lagian, kamu kan sudah pulih. Makan sendiri saja.”
“Baiklah, aku akan makan sendiri. Kamu pergilah.” Toni berusaha mengambil makanannya yang baru saja datang.
“Apa baru saja kamu mengusirku?.” Tanya Iffah dengan nada kesal.
“Bukannya kamu bilang, kalau kamu belum makan?. Pergilah cari makanan, adikmu dan keluargaku pasti sudah lama menunggumu.” Tutur Toni meredakan kekesalan yang terpancar di wajah Iffah.
Jika sakit lebih baik bagiku, maka aku akan memilih sakit sepanjang waktu untuk meredam marahmu.
“Iffah…” Panggil Toni lagi menghentikan langkah kaki Iffah.
“Hmm, kenapa?” Iffah kembali menolehkan tubuhnya kearah Toni yang menatapnya dengan begitu sendu.
“Jika kamu mengingat kembali masa lalumu, dan menemukan hal sulit pula disana. Apa kamu akan melepaskan genggamanku?.” Toni menatap Iffah yang terdiam mendengar pertanyaan Toni.
“Kenapa tiba-tiba kamu menanyakannya?.” Mata Iffah memerah. Sesuatu bergejolak di dalam dirinya.
__ADS_1
“Lupakan saja, mungkikn itu tidak penting.” Elak Toni kemudian. Reaksi Iffah membuat dirinya sudah tidak ingin jawaban apapun. “Mungkin waktu lebih baik untuk menjawabnya.”
“Aku tidak akan mungkin melepaskan genggamanmu, dan lebih mungkin lagi aku tidak akan mengingatnya bahkan aku sudah tidak ingin untuk mengingatnya.” Air mata kembali lolos dari pelupuk mata Iffah yang cantik dan membulat. Iffah mengusap kasar air matanya seraya membalikkan tubuhnya hendak berlalu meninggalkan Toni di ruangan itu.
Toni tersenyum, dengan senyuman yang sulit diartikan, saat itu dia ragu akan kebenaran dan keyakinan dari ucapan Iffah.
Kamu tidak mengerti Iffah, kamu tidak akan pernah mengerti dengan rasa takutku. Kata Ghali, kamu sangat mencintainya Iffah. Kamu sangat mencintai Arjunamu… Bagaimana bisa aku akan tenang sepanjang hidupku. Rasa
takut akan terus menghantui naluri dan pikiranku hingga aku benar-benar tau kesadaranmu hanya untuk aku…
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1