
"Terimakasih untuk malam ini Antoni, saya sangat bahagia sekali. Saya juga sungguh merasa punya keluarga baru jadinya." Iffah berdiri menunggui Toni kembali ke dalam mobilnya.
Ya, malam itu Iffah diantarkan lagi oleh Toni ke rumahnya setelah mereka menghabiskan waktu bersama dengan keluarga Toni di kediaman Zulherman.
"Saya juga sangat berterimakasih kepadamu Iffah, kamu membuat Nenek dan keluargaku begitu senang hari ini." Ujarnya seraya tersenyum.
"Kalau begitu saya pamit, salam buat Ghali." Pamit Toni.
"Iya, nanti saya salami." Saut Iffah.
"Assalamu'alaikum..." Toni melangkahkan kakinya setelah mendapatkan sautan dari Iffah dan kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di depan rumah minimalis itu.
Iffah masih berdiri sampai sedan yang dibawa Toni benar-benar hilang dari pandangan matanya.
"Ahem...Ahemmmm..." Ghali datang mengejutkan Iffah saat itu.
"Ghali... Kamu mengejutkan kakak tau tidak?." Gerutu Iffah sambil mencubit lengan Ghali.
"Aw sakit kak..." Ghali sedikit mengaduh dibuatnya. "Kak Iffah keterlaluan..." Ghali berlagak cemberut.
"Loh keterlaluan kenapa sayang?" Iffah terlihat bingung menerima tuduhan adik semata wayangnya itu.
"Mentang-mentang dapat keluarga baru, Ghali dilupakan saja." Gerutunya seraya masuk ke dalam rumah.
"G-Ghaliii... Bukan begitu dek, Sayang..." Seru Iffah merasa bersalah.
"Yah, pasti marah tuh..." Gumamnya panik kemudian menyusul Ghali ke dalam Rumah.
"Ghaliii, maafin kak Iffah dong... Kakak lupa menghubungi kamu. Jangan ngambek gini..." Iffah mencoba merayu Ghali semampunya ketika duduk di kursi ruang tengah, namun Ghali tetap pada pendiriannya.
__ADS_1
"Sayang... Apa kamu mengkhawatirkan kakak?. Kalau gitu maafin kakak dong. Kak Iffah janji tidak akan mengulanginya lagi." Ikrar Iffah dan diapun hampir menangis.
"Tadaaaa. Kena praaaank..." serunya kembali mengejutkan Iffah. Ghali hanya takut kalau kakaknya itu benar-benar menangis karenanya.
"Ih kamu resek deh, kakak benar-benar bisa jantungan loh." Sungut Iffah seraya memangku kedua tangannya dan memunggungi Ghali.
"Cieeeee, yang sedang berbunga-bunga..." Goda Ghali sambil menyeringai.
"Apaan sih kamu, siapa juga yang berbunga-bunga?" Jawab Iffah ketus.
"Kakak..." Ghali semakin menyeringai.
"Nggak ada kok, biasa saja." Elak Iffah. Wajahnya memerah karena malu.
"Tuh, mukanya merah tuh..." Ghali semakin menggoda kakaknya itu.
Iffah mengamati wajahnya di depan cermin yang ada di dalam kamarnya itu.
"Apa benar pipiku memerah? Tapi kenapa?." Dia terlihat seperti gadis-gadis umumnya, yang akan bersikap bodoh seperti itu apabila merasakan jatuh cinta.
*****
Toni membaringkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Dia memejamkan matanya sesaat dan kemudian kembali membayangkan wajah Iffah tadi yang telah membuat keluarganya benar-benar hidup sebagai keluarga utuh dan harmoni.
Toni kembali terduduk untuk meraih ponselnya yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya itu.
Jemari Toni dengan lihai mengotak-atik layar pipih itu dan membuka kontak panggilan disana.
Tetapi, Toni mengembalikannya ke layar utama. Dia kemudian membuka aplikasi *W*hatsAap.
__ADS_1
Apa kamu sudah tidur? Toni mengetikkan tulisan itu pada kontak Iffah. Tetapi menghapusnya kembali.
Ah, kenapa aku segerogi ini~ Batin Toni terlihat kesal karena sikap pengecutnya.
"Bismillah..." Toni kembali mengetikkan tulisan yang sama dan kemudian menekan tombol kirim.
Toni dibuat meriang oleh keberaniannya. Dia menggigit-gigit kecil kuku ibu jari kanannya.
Ceklis satu, ceklis dua...
Tap, tap, tap....
Bahkan detik jam dinding seakan berpacu dengan irama jantungnya yang berdebar tak karuan saat itu.
Ceklisnya berubah warnah.
Di readnya,,, mengetik...~ Toni bahkan mengamati layar ponselnya dengan seksama.
Belum," Satu balasan dari Iffah diterimanya.
Kamu sendiri kenapa belum tidur?" Lagi, pesan dari Iffah mulai sedikit panjang dan menanyainya kembali.
Oh, aku hanya mau memastikan kamu baik-baik saja." Toni bahkan sudah mengirimnya.
"Ah bodoh, gilaa, gila... Masa ngirim kata-kata itu sih. Mau ditarik, sudah dia baca lagi." Ya, mereka sama-sama terlihat bodoh oleh diri mereka masing-masing malam itu.
Toni dan Iffah terus saja saling berbalas chat, hingga mereka sama-sama tidak sadar siapa terakhir yang menulis pesan.
Mereka akhirnya tertidur sambil menggenggam benda pipih milik mereka.
__ADS_1