TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
MEMANFAATKAN WAKTU


__ADS_3

Dua kenikmatan kebanyakan manusia tertipu pada keduanya (yaitu) "kesehatan dan waktu luang" ~ HR. BUKHARI.


"Sayang..." Panggil Toni tanpa menoleh kearah istrinya. Dia tetap fokus kepada kemudinya saat itu.


"Hmm..." Saut Iffah yang memang sedari tadi memandangi wajah suaminya yang begitu tampan.


"Aku ingin dihibur..." Pinta Toni.


"Dihibur?" Iffah mengkerutkan dahinya seakan tidak mengerti akan permintaan suaminya yang begitu tiba-tiba dan terasa aneh baginya.


"Hatiku serasa gundah..." Ungkap Toni sedikit memelas.


"Baiklah..." Iffah menebarkan senyumannya.


Iffah menarik nafasnya begitu dalam sembari memejamkan matanya.


Dia melafadzkan Ta'awudz dengan datar, namun mampu membuat bulu pipi Toni meremang.


Kemudian dia melafadzkan kalimat basmallah dengan begitu merdu. Toni tersenyum seraya mengikuti bacaan Iffah dengan berbisik.


Wal-'asr..... (Iffah melantunkan surat Al-'asr hingga selesai)


"Masya Allah..." Toni tampak berbinar setelah mendengar suara istrinya itu. "Tapi kenapa surah Al-'asr, Sayang?" Tanya Toni terlihat penasaran.


"Memangnya kenapa? Bukankah kamu hanya ingin menghilangkan perasaan gundah di hatimu?" Iffah menyahuti pertanyaan suaminya dengan pertanyaan pula.


"Iya... Tapi kamu kan bisa baca surah lain. Seperti surah Ar-Rahman mungkin..."


"Kamu ini, pakai protes segala... Yang penting hati kamu sudah mulai tenang lagi, kan?" Sungut Iffah.

__ADS_1


"Iya, iya... Terimakasih istri cantikku." Ujar Toni sedikit terkekeh.


"Tapi benar juga sih, sayang. Kita kan tidak ada rencana Weekend. Tapi kita malah keluar... Mending ngumpul bareng Mama dan Papa saja di rumah." Iffah tampak berpikir-pikir. "Dan surah Al-'Asr membuat aku takut menjadi salah satu yang termasuk diantara orang-orang yang merugi." Tutur Iffah bergedik ngeri mengingat makna surah Al-'Asr itu sendiri.


"Mama dan Papa juga tidak akan ada di rumah hari ini, Sayang. Mereka akan pergi juga. Dulu, sebelum kita menikah. Mama, Papa dan Nenek sering mengajakku menghabiskan hari minggu bersama mereka ke panti asuhan. Mereka setiap hari minggu akan berkunjung ke tempat yang telah membesarkan Papa dengan penuh kasih itu." Tutur Toni.


"Kenapa kita tidak ikut mereka saja?" Iffah terlihat menyesal mendengar hal itu terlambat dari Toni.


"Lain kali kita kesana..." Ikrar Toni dengan sungguh-sungguh. "Hari ini aku akan mengajak kamu ke suatu tempat. Dan istri baikku ini pasti akan sangat senang nantinya." Ujar Toni dengan keyakinan besar.


"Awas saja kalau aku tidak senang…" Sungut Iffah seraya mengambil pandangannya kearah depan.


"Nah, kita sampai pada tujuan pertama." Ghali meminggirkan mobilnya ke tempat parkiran pasar Tradisional.


"Pasar?" Iffah mengkerutkan dahinya. Dia tidak mengerti dengan tujuan pertama suaminya yang mengajak dirinya ke pasar Tradisional.


"Iya... Kita akan berbelanja banyak hari ini. Apapun..." Sahut Toni berusaha menghilangkan sedikit rasa kepenasaran istrinya saat itu.


Toni menggandeng tangan Iffah sepanjang pasar yang mereka tempuh. Meski tidak mengerti, tapi Iffah tetap memilih bahan-bahan pokok seperti yang di minta suaminya dengan jumlah yang banyak.


Seusai berbelanja, Toni meminta buruh untuk mengangkat barang belanjaan mereka ke mobil. Dia terlihat begitu terbiasa akan hal itu. Ingatannya kembali ke masa dimana dia masih akrab bersama Kamelia di waktu SMA dulu.


Walaupun tanpa Misya, Kamelia sering mengajak Toni untuk berbelanja ke pasar Tradisional di desa tempat tinggal Kamelia. Kamelia yang membuat dirinya begitu murah hati terhadap orang-orang kecil.


Meskipun begitu, bukan berarti Toni masih memiliki perasaan serakah lagi terhadap sahabatnya itu.


Seusai berbelanja, Toni menhemudikan kembali mobilnya ke suatu tempat. Dan Iffah tidak lagi banyak bertanya kepadanya.


Sebelum sampai ke tujuan utamanya, Iffah sudah terlelap di bangku sebelah Toni.

__ADS_1


"Tidurlah sejenak, Sayang. Kamu pasti kelelahan setelah berbelanja tadi." Bisik Toni sembari mengelus lembut pipi istrinya yang tengah tertidur dengan tenang di sampingnya.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang bahkan belum bisa di sebut perkampungan atau perdesaan.


Tempat yang terletak di daerah pinggiran dan memiliki tempat tinggal beratapkan alamiah dan terlihat bocor-bocor, berdindingkan sesuatu yang belum permanen dan bahkan ada yang dari kardus.


Iffah mulai merasakan aura-aura panas di sekitarnya. Ya, karena mobilnya tidak lagi memperoleh banyak angin jika telah terparkir lebih dari sepuluh menit lamanya.


Toni sengaja tidak membangunkan istrinya itu. Dia ingin Iffah bangun dengan sendirinya agar tidak terkejut karenanya.


Iffah mengucek kedua bola matanya yang masih terasa sedikit mengantuk.


"Kita sudah sampai, Sayang?" Tanya Iffah bergegas bangkit dari sandarannya dan melihat kearah sekelilingnya. "Kenapa tidak membangunkan aku?"


"Kita baru saja sampai kok, Sayang. Sudah masuk waktu Zuhur, kita Shalat dulu ya. Disana ada Mushalla." Ajak Toni seraya turun dari mobilnya dan segera membukakan pintu untuk istrinya itu.


.


.


.


.


.


Bersambung dulu ya teman2...


Maaf sekali untuk hari ini tidak bisa lanjut lagi...

__ADS_1


mudah2an dalam seminggu ini bisa menamatkan TML.


__ADS_2