
Meski berakhir di kisah yang berbeda, namun berada pada perasaan yang masih sama. Minggu… Entah beberapa minggu dari bulan, bahkan bulan-bulan yang lalu. Mengingatkan pada semua waktu.
Perih memang, tapi itulah ingatan. Tak diminta namun memberi, tak diundang namun datang.
Allah menguji hati yang sabar, karena Allah mungkin melindungi. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah, yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
Aku selalu ingat… Katanya, “bahwa janji Allah itu benar”…
Ma’assalamah, wahai pemilik jiwa yang dirindukan…
Rasa sakit itu kembali muncul. Berkali-kali Toni memukul-mukul dadanya dengan kepalan tangannya sendiri. Dia berharap rasa sakit yang tertanam di dalam dadanya itu akan sedikit berkurang karenanya. Namun sayang, rasa sakit itu semakin bertambah dan menusuk hingga ke jantung hatinya.
Dia masih ingat sekali bahwa dokter menyatakan sudah terlambat untuk mengetahui kondisi Milka nya yang menderita Leukemia. Selama itu, dia memang tidak pernah melihat Milka nya mengeluh sakit sekalipun. Bahkan Kamelia dan Kemil pun juga tidak dapat menduganya.
Leukemia yang diderita Milka datang dan menyakiti putri kecilnya dengan begitu tiba-tiba. Dia sendiri bahkan tidak bisa berbuat apa-apa. Berkali-kali Iffah mencoba menenangkannya, meski Iffah sendiri juga terpukul dengan keputusan pihak rumah sakit.
Milka sempat mengalami koma lima hari dan bahkan penyakitnya telah menyerang organ vitalnya. Dan karena tak kunjung membaik, beberapa alat penunjang hidupnya pun dicabut.
Apa yang lebih menyakitkan saat itu bagi Toni? Kehilangan Milka nya? Atau melihat penderitaan pada sahabatnya yang telah melahirkan putri kecilnya?
Lebih tepatnya rasa bersalahnya lebih menyakitkan baginya saat itu. Merasa bersalah telah menjadi papa biologis dari anak sahabatnya sendiri. Merasa bersalah karena telah membuat Milka nya harus merasakan sakit karena faktor genetik dari keluarganya. Dan merasa bersalah untuk semua penderitaan ibu dari putri kecilnya.
*****
Sudah hampir sepuluh jam Milka hanya menggunakan alat bantu napas dan infus cairan tubuh, sehingga satu demi satu fungsi organ vitalnya menurun. Kamelia pun sudah tidak lagi sanggup menahan rasa takutnya akan kehilangan putri kecil yang teramat dia cintai. Dia menangis di hadapan Milka yang terlihat sadar, namun terkulai lemah di atas pembaringan Rumah Sakit itu.
“I-buu… Ke- na-pa i-bu na-ngis?” Tanya Milka dengan lemah dan terbata-bata. “A-yaaah… Ke-na-pa i-bu na-ngis?” Milka bertanya terhadap Kemil yang berusaha tegar di hadapannya karena tak kunjung mendapat jawaban dari Kamelia.
__ADS_1
“Tidak kenapa-kenapa, Sayang…” Sahut Kemil seraya menciumi jemari kecil Milka yang semakin mengurus. “Milka mau sesuatu, Nak?” Tawar Kemil dengan suaranya yang semakin serak dan terasa pedih di kerongkongannya.
“Mil Ghi-ndu de-dek Cak-khhaa…” Suara Milka kecil nyaris tak terdengar. Cairan bening mengalir dari ruas-ruas tepi matanya yang sembab.
“Kita telepon dedek Cakra pakai panggilan video ya, sayang.” Bujuk Kemil lagi. Milka mengangguk pelan menyetujui tawaran ayahnya itu.
Tut… Tut… Tut…
“Assalamu’alaikum Kemil…” Tampak wajah Rahmah dari dalam layar ponsel Kemil.
“Wa’alaikumussalam, Ma. Mah, Cakra mana Ma? Milka merindukannya.” Kemil semakin berusaha menahan air matanya ketika semua keluarganya telah menangis di ruangan Itu.
“Dedek Cakra… Lihat sayang, ada kak Milka nih. Dia sangat merindukan Cakra.” Rahmah bergerak kearah Cakra yang berada di tempat Tidurnya, dan menghadapkan layar ponselnya ke wajah mungil Cakra.
“De-deeek…” Seru Milka dengan begitu semangat dan tanpa memperdulikan rasa sakit yang ditanggungnya saat itu. Bayi Cakra yang belum mengerti apa-apa hanya tertawa melihat wajah kakaknya dari balik layar ponsel neneknya.
Ya, semenjak Milka dirawat di Rumah Sakit. Rahmah dan Maya akan bergantian menjaga Cakra di rumah Toni. Bahkan Kamelia sangat jarang menyusui putra kecilnya itu, sehingga Cakra terpaksa di beri susu tabung untuk sementara waktu jika Kamel terlambat menyusui putra kecilnya.
“Dedeek, de-dek ja-ngan na-kal ya. Ka-si-han i-bu dan a-yah. Ka-kak mau ti-dur du-lu.” Pamitnya terbata-bata.
Setelah panggilan videonya berakhir, Milka dengan perlahan mencoba mengangkat tangan kirinya dan menoleh kearah Toni. “Pa-paah.” Panggilnya minta didekati. Tangannya yang satu lagi dengan erat menggenggam jemari telunjuk Kemil. Walau bagaimanapun, dia sangat menyayangi Kemil sebagai ayahnya.
Toni berusaha mengusap air matanya dengan kasar, dan kemudian mendekat kearah Milka dengan senyuman yang berhasil dibuatnya.
“Iya sayang.” Sahut Toni dengan suaranya yang serak. “Mil mau bo-bok, Pa-pa dan a-yah te-ma-ni Mil di-si-ni du-lu ya.” Pintanya dengan begitu manja.
“Iya sayang, iya. Papa akan disini terus untuk Milka.” Sahut Toni dengan cepat sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Ya Allah… Jika keajaiban ada untuk Milka kecilku, maka sembuhkan ia Ya Allah. Tetapi jika kematian lebih baik baginya, maka ambillah dia tanpa rasa sakit dan tidak meninggalkan kepedihan yang berlarut-larut untuk kami yang ditinggalkannya.~ Harap Toni di dalam hatinya. Tapi siapa yang tau? Di dalam hati Kemil juga memiliki do’a yang sama.
Cairan bening kembali mengalir dari ruas-ruas tepi mata cantik Milka yang sipit. Sedetik kemudian, dia menutup matanya dengan begitu erat tanpa ingin membukanya lagi. Tangannya yang masih menggenggam jemari ayah dan papanya saat itu terkulai lemah tidak berdaya. Dia telah hening tanpa deru nafas sekalipun.
“Innalilahi wa inna ilaihi roji’un…” Desir Kemil dengan pelan. Air matanya yang tertahan semenjak Milka diagnosa dokter di hadapan keluarganya, akhirnya tumpah seketika. Dia kehilangan putri cantik yang dia
jaga dari dalam kandungan istrinya itu. Meski bukan terlahir dari biologisnya, tetapi Milka terlahir dari hatinya. Begitulah selalu dia mengatakan pada istrinya, ketika istrinya itu merasa hina di hadapannya.
Semua tangisan keluarga Milka pecah, bahkan Ghali yang juga berada disana juga ikut mengeluarkan air matanya. Iffah segera mendekap pundak Toni untuk membagi sedikit kekuatan yang dirasanya masih tersisa di dalam dirinya.
“Sayang, Milka kecilku…” Bisik Toni dengan getir di dalam dekapan Iffah. Dia begitu terpukul. Kehilangan orang-orang yang disayanginya dalam kurun waktu yang tidak terlalu panjang.
Awal kehidupanmu duniawi, namun akhir kehidupanmu kematian. Semua orang bahkan menyaksikan, bagaimana kematian tidak memilih usia dan tempat.
.
.
.
.
.
Maaf teman2
memang RADETSA berencana hendak membuat kisah Milka, tapi RADETSA belum memahami ilmunya.
__ADS_1
RADETSA takut akan menuai kontraversi dari para pembaca nantinya. Ditambah lagi RADETSA kasihan sama MILKA meski dia hanya karakter dalam novel. Sekali lagi maaf jika harus menambah luka untuk TONI kita
salam satu layar DI MT&NT