TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
RUMAH KARDUS


__ADS_3

"Sebenarnya, ini tempat apa, Sayang?" Iffah menghentikan langkahnya dan juga langkah Toni yang menggandeng tangannya semenjak keluar dari Mushalla.


Dia sudah tidak tahan lagi untuk bertanya kepada suaminya itu.


Tempat yang sama sekali belum pernah dia kunjungi sebelumnya.


"Pemukiman penduduk yang hanya di huni oleh rakyat miskin, Sayang. Yang jauh dari jangkauan layak dan keberuntungan. Tempat yang hanya ada derita dan kemiskinan. Tetapi tempat yang dihuni oleh orang-orang berhati lapang di dalamnya. Tak mengenal keluh kesah. Yang mereka tahu, hanyalah kedamaian." Toni menyahuti pertanyaan Iffah tanpa mampu melenyapkan rasa kepenasaranan di dalam benak Iffah.


Iffah mengerinyitkan dahinya, dia masih belum mengerti maksud dan tujuan suaminya itu.


"Kamu sepertinya belum mengerti, ya?" Toni memegangi pipi Iffah dengan begitu lembut.


"Apa ini tempat tujuan utama kita?" Tanya Iffah mengabaikan pertanyaan suaminya itu.


"Betul sekali." Sahut Toni penuh ambisi.


"Bukannya kamu bilang, kita pergi bersenang-senang?" Tanya Iffah lagi. Dia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Toni.


"Hal yang paling menyenangkan dalam hidup kamu memangnya apa?" Toni balik bertanya sembari menggenggam jemari Iffah dan mengajaknya kembali berjalan.


"Ketika aku merasa, bahwa hidup aku lebih berguna bagi hidup orang lain." Iffah menyahuti pertanyaan Toni tanpa ingin bertanya lagi.

__ADS_1


"Alasannya?" Toni kembali bertanya meski dia sebenarnya tau akan jawaban apa yang diberi oleh Iffah kepadanya.


"Ya, karena efeknya bisa menimbulkan kepuasan tersendiri di hati aku." Sahut Iffah mulai jengah. "Sebenarnya ini semua apa sih, Sayang?." Iffah semakin tidak sabaran dengan jawaban yang sebenarnya, dari pertanyaan yang mengganggu pikirannya sedari tadi.


"Assalamu'alaikum…" Sapa Toni ketika memasuki lingkungan rumah kardus disana.


Iffah semakin tercengang mendapati situasi. Karena keasikan berdebat dengan suaminya, dia sampai tidak menyadari sudah berada di pertengahan warga disana.


"Wa'alaikumussalam..." Sahut orang-orang disana sembari mendekat dan bersalaman dengan Toni.


"Yaa Allah, Den Toni ya? Sudah lama sekali tidak berkunjung?" Ujar salah seorang ibu-ibu diantara mereka.


"Alhamdulillah Aden... Kami menerimanya... Terimakasih..." Sahutnya begitu senang. "Tapi ngomong-ngomong perempuan cantik ini siapa, Den? Istrinya ya?" Tanya ibu Sukma menggoda Toni.


Wajah Iffah memerah seketika. Meski dia masih diliputi rasa penasaran, tetapi dia begitu senang dan terharu melihat suaminya berinteraksi tanpa canggung dengan orang-orang disana.


"Hehe, iya Bu. Alhamdulillah, perempuan cantik ini istri saya. Namanya sangat bagus sekali. Iffatul Fadillah. Panggil saja Iffah." Toni begitu membanggakan istrinya itu sehingga wajah Iffah kembali semakin memerah dibuatnya.


"Hallo Kakak Iffaah..." Sapa sebahagian anak-anak dan remaja disana yang ikut berkumpul atas kedatangan mereka berdua.


"Hallo juga semuanya..." Sahut Iffah tampak begitu senang. Bahkan saking senangnya, mata Iffah tampak menelaga dan berkaca-kaca karenanya.

__ADS_1


"Hari ini ibu-ibu pada masak, tidak? Saya rindu sekali masakan enaknya ibu-ibu." Tanya Toni dengan begitu akrabnya.


"Alhamdulillah, tadi saya masak." Ujar salah seorang ibu-ibu disana. "Saya juga...". "Saya juga" Terdengar sahut menyahuti setelah itu dari mulut ibu-ibu yang berkumpul disana.


"Wah, masak semua ibu-ibu nih." Ujar Toni terlihat senang.


"Iya, Den. Meski Aden telah lama tidak berkunjung, tapi kami selalu masak setiap akhir pekan seperti ini. Jaga-jaga, mana tahu pahlawan kami berkunjung." Sahut ibu Sukma tampak begitu bersemangat.


"Hehe... Saya jadi terharu. Kita makan di tempat biasa ya. Anak-anak, dibantu ya." Pinta Toni dengan ramah terhadap anak-anak dan remaja disana.


"Siiaap, Aden Tampaaan" Sahut mereka hampir bersamaan, dan bergegas pulang ke rumah kardus mereka masing-masing menyusul ibu mereka.


Toni berjalan sambil menggandeng tangan Iffah ke sebuah pohon besar yang rindang. Tempatnya bersih dan sejuk.


"Kita akan makan disini bersama mereka, sayang." Ujar Toni memecahkan pertanyaan yang belum terlontar dari mulut istrinya itu.


"Disini?" Iffah menunjuk bawah kakinya sendiri.


" Hu'um". Toni mengangguk. "Mereka akan selalu menunggu kedatanganku. Dulu pertama kali aku datang kesini, yaitu sekitar dua mingguan setelah aku pindah ke rumah nenek. Jika tidak kesini, aku hanya akan mengurung diri di kamar." Cerita Toni seakan mengenang masa-masa beratnya kala itu.


Dia mulai tersenyum kembali. "Kamu benar, sayang. Hal yang menyenangkan, adalah ketika melihat pemberian kita begitu bermakna bagi mereka."

__ADS_1


__ADS_2