
“Selamat pagi Pak.” Iffah segera berdiri dari duduknya untuk
menyapa dan memberi hormat kepada Antoni yang baru saja datang dan melewati
meja kerjanya di depan ruangan Antoni.
“Pagi.” Antoni menyauti dengan formal tanpa menghentikan
langkahnya sedetikpun.
Setelah Antoni hilang dari pandangan matanya, Iffah kembali
menghenyakkan pantatnya ke kursi yang semula ia duduki. Dia menghela nafasnya
yang berat, dan kemudian melepaskannya lagi dengan kasar.
Hampir setengah jam-an, Iffah mengemasi berkas-berkas yang
berserakan di atas mejanya dan menyotirnya dengan seksama menjadi dua bagian.
Yang satu disusunnya kembali dengan rapi di bagian pinggir mejanya yang tidak
terlalu lebar itu, dan yang satunya lagi di bawanya menuju ruangan Antoni.
Tok…Tok… Tok..
Dengan canggung, Iffah mengetuk pintu ruang kerja Antoni
sesaat setelah ia menenangkan suasana hatinya.
“Masuk.” Seru Toni dari dalam. Dan dengan gugup, Iffah
menarik gagang pintu itu.
CEKLEKK…
Iffah membuka pintu itu dan beringsut mendekati meja kerja
Toni.
“Permisi Pak, ini jadwal kegiatan Bapak untuk hari ini.”
Iffah menyerahkan sebuah kertas yang dijilid dan meletakkannya di atas meja
tepat di depan Toni. Toni memerhatikan setiap bagian yang tertulis di
dalammnya. “Untuk pertemuan bapak dengan
klien luar kota pada pukul sepuluh nanti, Bapak akan ditemani langsung oleh Pak
__ADS_1
Bobi. Dan ini konsep pembahasan yang menyangkut pertemuan Bapak hari ini.”
Iffah kembali menyodorkan sebuah map lainnya .
“Baik,” Saut Toni tak kalah formal menyauti setiap
penjelasan Iffah mengenai urusan kantor.
“Dan satu lagi Pak, Bapak harus tanda tangani kontrak
kerjasama antara perusahaan kita dengan SEJAHTERA GROUP yang sudah kita
sepakati tiga hari lalu.” Iffah kembali menyodorkan sebuah dokumen kontrak
kerjasama kepada Toni.
Setelah membaca sedikit, Toni meneken kertas itu dengan
tanda tangannya di bagian khusus yang sudah ditunjukan Iffah tadi. Kemudian dia
mengembalikan berkas itu lagi kepada Iffah.
“Terimakasih Iffah atas kerja kerasmu.” Ujar Toni datar.
Mereka terlihat sama sekali tidak terikat oleh apapun dari raut wajah mereka yang saling
berkomunikasi secara formal di ruangan itu.
Tanya Iffah lagi.
“Untuk sementara ini sudah cukup Iffah.” Saut Toni tanpa
menoleh dan tetap berkutat pada pekerjaannya. Mereka benar-benar berusaha profesional dengan pekerjaan mereka masing-masing, meskipun hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu.
“Baik, kalau begitu saya permisi Pak.” Ujar Iffah pamit dan
segera memutar balikkan tubuhnya beranjak keluar dari ruangan Toni.
Di luar ruangan, Iffah tampak menarik nafas lega dan
mengedip-ngedipkan matanya dengan berulang kali menahan cairan bening yang
meronta nakal hendak keluar dari matanya yang indah itu.
Seharusnya tidak sesulit ini.~ Gumamnya lirih. Dia menggigit
bibir bawahnya yang tipis
Sepeninggal Iffah, hal yang sama dilakukan Toni di meja
__ADS_1
kerjannya. Batinnya seakan tersiksa dengan hubungan rumit yang dimilikinya
bersama gadis yang menjadi sekretarisnya di kantor itu.
Dia berulang kali membolak-balikkan kertas dokumen yang
diterimanya dari Iffah tadi, namun hanya sebatas cara baginya untuk mengusir
bayangan wajah Iffah dari benaknya.
****
Sudah lewat dari jam delapan, Toni menghentikan aktifitasnya
dan keluar dari ruangannya itu. Ketika dia membuka pintu, dia melihat Iffah sudah tidak lagi di meja kerjanya.
Toni tersenyum mengingat ucapan Iffah kala itu.
Mungkin dia saat ini ada disana~ Gumam Toni melanjutkan
langkahnya.
Dan benar saja, gadis itu tampak tengah menampungkan
tangannya seraya menengadahkan wajah ke atas langit-langit ruangan kecil yang
di jadikan sebagai Mushalla bagi karyawan Muslim disana.
Engkau hanya mengambil memorinya di masa lalu, dan bersyukur
sekali Engkau masih menyisakan ingatannya kepada-Mu Wahai Pemilik Segala Jiwa.
~ Toni menatap pemandangan indah itu dengan damai.
.
.
.
.
.
MAAF SEKALI YA TEMAN-TEMAN, RADETSA BENAR-BENAR TIDAK BISA UP BANYAK UNTUK SENIN SELASA DAN MINGGU.
TAPI RADETSA AKAN TETAP USAHAKAN BUAT UP SETIAP HARINYA.
TERIMAKASIH MASIH TETAP MAU MENUNGGU.
__ADS_1
SALAM SATU LAYAR DI MT&NT