TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
PENGAKUAN CINTA


__ADS_3

Siapa bilang jatuh cinta itu mudah?


Jatuh cinta itu ibarat kita berada di atas pesawat. Kalau


tidak sampai, ya terjatuh. Dan tidak semua orang akan sampai pada tujuan yang


mereka harapkan.


Sama halnya dengan cinta di masa lalu Iffah bersama


Arjunanya, dan Toni bersama Kamelianya. Perbedaan diantara mereka, hanya


terletak pada bagaimana cara mereka mencintai.


Cinta Iffah pada Arjuna yang juga mencintainya, berakhir


karena kematian Arjuna yang memisahkan mereka. Tapi siapa yang tau jika


memorinya kembali?. Akankah dia masih jatuh cinta kepada Toni?


Sedangkan cinta Toni pada kamelianya hanya bertepuk sebelah


tangan, namun menyisakan sebuah kesalahan yang membekas diantara mereka. Tetapi


Iffah datang seolah merebut hatinya.


Cinta tak selalu mudah. Dia akan membutuhkan pengorbanan dan


penantian. Dan seberapa sabarnya kamu menghadapi itu semua?, disanalah cinta.


“Apa kamu tau istimewanya cakrawala senja?.” Toni mengusik


diamnya mereka. Dia bahkan bertanya tanpa menoleh.


Senja itu mereka


menghabiskan waktu berdua di bangku taman samping telaga kota.


“Entahlah, tapi bagiku cahayanya begitu tidak asing. Cahaya


yang membentuknya tidak menyakitkan seperti cahaya Matahari apabila ditatap.”


Iffah bersikap sama.


“Mamaku menyukainya. Dan kata Nenekku, Papaku juga


menyukainya.” Toni memberitahukannya tanpa ditanya. Dia menyedot minuman yang


sempat dibelinya sebelum mencapai tempat itu.


Iffah menolehkan wajahnya kearah Toni. “Jika aku boleh, aku


ingin tau keluargamu selain Nenek, Bi Chellin dan Pak Bobi.” Iffah terlihat


tidak yakin.


“Orang tuaku,,” Toni menghirup nafasnya begitu dalam dan


mengeluarkannya kembali dengan pelan. “Mereka telah tiada. Mama meninggal


ketika melahirkanku. Dan papaku, meninggal lebih dari setahun yang lalu karena


mengidap penyakit leukemia.”


“M-Maaf…” Iffah menundukkan wajahnya merasa bersalah karena


telah membuka luka Toni kembali.

__ADS_1


“Tidak masalah, semua orang akan pergi menghadapnya bukan?.”


Toni memaksakan senyumnya kearah Iffah.


“Iyaa, memang. Tapi apakah kamu tidak sedih jika


mengingatnya kembali?.” Tanya Iffah membalas tatapan Toni.


“Jika itu terjadi kepadamu, seseorang yang sangat kamu


cintai pergi untuk selamanya, apa kamu akan meratap sepanjang hidupmu?.” Toni


malah melemparkan pertanyaan pula kepada Iffah.


Iffah hanya terdiam. Yang dia tau nasibnya sama dengan Toni.


Sama-sama ditinggal orang tua mereka untuk selama-lamanya.


“Allah hanya menguji kita dengan mengambil orang-orang yang


kita sayangi, tetapi Allah tidak mengambil harapan kita untuk bangkit. Sakit


memang, sedih, hancur bahkan. Tapi Dia tidak suka kita meratapi terlalu larut,


hingga kita lupa ada masa depan yang cerah sedang menantikan kita.” Toni


benar-benar terlihat bijak semenjak mengenal Iffah.


“Waktu aku memutuskan ikut dengan Nenek yang baru saja aku


kenal sesaat sebelum papaku, anak beliau meninggal. Aku begitu malas menatap


dunia, aku hanya ingin berada di dalam kamar papaku sepanjang hidupku. Banyak


yang aku sesali setelah kepergian beliau. Bahkan rasanya aku ingin ikut bersama


Toni tersenyum pias seakan mengerti arti tatapan Iffah


kepadanya.


“Nanti, ketika peresmian Villa yang dibangun di Desa


kelahiranku. Jika kamu berkenan, aku akan mengajakmu untuk menemui keluarga


dari pihak ibuku yang menetap disana. Mereka semua orang-orang baik yang harus


kamu kenal. Akan aku ceritakan semuanya kepadamu. Hari ini sudah hampir gelap


dan kita harus kembali.” Toni bangkit dari duduknya.


Iffah ikut bangkit dan berjalan terlebih dahulu dari Toni.


“Iffah…” Seru Toni lirih.


Iffah menghentikan langkahnya. Dengan pelan dia menoleh


kearah Toni yang masih berdiri beberapa langkah di belakangnya.


Dia hanya menatap canggung wajah Toni.


“Tadi kamu bertanya. Kenapa kamu? Kenapa harus kamu yang aku


ajak bukan?.” Iffah mengedipkan matanya terkesiap mendengar ucapan Toni.


Jantungnya semakin berdetak tak karuan.


Toni meletakkan telapak tangannya ke dadanya sebelah kiri,

__ADS_1


matanya tak berhenti menatap wajah Iffah.


“Karena obat ketidak normalan detak jantungku ini hanyalah kamu


Iffah…” Mata Toni memerah mengakui perasaan yang bersarang di dalam hatinya.


Setetes air bening mengalir dengan cantik di pipi Iffah yang


mulus. “Kenapa Bapak mengujiku sampai kesini?.” Iffah seolah tidak percaya


dengan pengakuan Toni dan segera hendak meninggalkan tempat itu.


“Iffah tunggu…” Toni dengan cepat menyusul langkah kaki


Iffah dan menahan lengan gadis yang dicintainya itu. “Iffah, itulah yang


sebenarnya. Aku berusaha mungkir, tapi setiap kali aku mencoba, aku semakin tidak


mampu menghapus bayanganmu. Kamu salah satu yang aku sebut dalam do’aku, Iffah.”


Toni begitu emosional menyampaikan perasaannya.


“Banyak hal yang tidak kamu ketahui dari aku, Antoni.” Iffah


menggeleng.


“Aku sudah tau semuanya, Iffah. Ghali sudah memberitahukan


semuanya kepadaku. Tapi kamu hanya perlu berjanji. Kamu akan tetap disisiku


sepanjang hidupku, karena aku mencintaimu. Apapun yang akan terjadi, aku


mencintaimu.” Toni sampai menitikkan air matanya. Dia tau itu sangat berat


untuk hatinya jika suatu hari nanti, waktu mengembalikan memori Iffah.


“Aku bahkan tidak tau, Antoni.” Iffah menatap kosong ke sembarang arah, dan Toni kembali mengambil tatapan Iffah agar mengarah kepadanya.


“Setidaknya kamu saat ini juga memiliki perasaan yang


sama denganku, hmm?”  Toni menatap penuh


harap menyusuri bola mata Iffah yang menelaga.


Iffah menganggukkan pelan kepalanya.


“Hmmm Huuuffhhh.” Toni bernafas lega mendapati pengakuan


yang memuaskan hatinya dari Iffah.


"Kalau begitu, akankah kamu mau menerima perasaanku?." Lagi, Iffah mengangguk seraya tersenyum menatap bola mata Toni untuk mencari kedamaian dari dalamnya.


“Terimakasih Yaa Allah…” Serunya sambil menengadah ke langit


yang mulai gelap.


“Terimakasih Iffah, aku akan segera menghalalkanmu. Insya


Allah.” Ikrar Toni, dan di sambut senyuman menawan dari Iffah.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2