TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
KEBAIKAN AKAN SELALU MENANG


__ADS_3

Kata Mario Teguh, "Sakitnya jadi orang baik tetap lebih baik, daripada enaknya menjadi orang tidak baik. Kebaikan akan selalu menang, kalau tidak segera, nanti, tapi pasti."


Iffah sama sekali tidak bersuara semenjak dibawa oleh ibu tirinya. Dia seakan menjahit mulutnya sendiri. Rasa lelah membuatnya menyerah. Hanya saja, bayi dalam kandungannya membuat Iffah tetap bertahan saat itu.


Dia ingat betul bagaimana perjuangan Toni untuk bayi yang dikandungnya. Suami siaga yang selalu mengerti apa yang dibutuhkannya, tanpa harus menolak apa yang diinginkannya.


Sudah gelap, perempuan itu membawa Iffah ke sebuah rumah yang terletak sungguh jauh dari kota. Tempat yang tidak begitu asing bagi mata Iffah.


Sebuah villa yang dulu pernah disinggahinya ketika dirinya masih berusia tujuh tahunan.


Tempat pertama kalinya perempuan itu menyatakan ketidak sukaan hatinya terhadap Iffah.


Ya, villa milik ibu tirinya. Villa, tempat dimana matanya melihat sendiri ayahnya menampar ibu kandungnya Ghali itu. Perempuan yang menjadi ibu tiri bagi Iffah.


Entah alasan apa, yang jelas orang tua kandung Ghali bertengkar hebat disana kala itu. Dan dia melihat bagaimana tatapan mata ibu tirinya yang mengarah penuh kebencian terhadap dirinya.


"Ibu..." Panggil Iffah lirih. Air matanya yang jatuh semakin menderas ketika dia memanggil perempuan jahat itu dengan sebutan ibu.


"Ibu... Kenapa ibu melakukan ini semua kepadaku? Aku salah apa terhadap ibu?" Isak Iffah semakin mengerang. Sedangkan perempuan yang dipanggilinya ibu hanya menyeringai penuh dendam.

__ADS_1


"Apa aku pernah berbuat salah terhadap ibu? Kenapa ibu seakan tidak menyukai kebahagiaan di hidupku, bu?" Tanyanya lagi. Namun perempuan itu seakan sengaja menyiksa Iffah dengan rasa kepenasarannya.


"Jawab Bu! Kenapa? Kenapa ibu tidak membiarkan aku mengecap kebahagiaan, hah? Ibu bahkan sampai membuat Arjuna tiada, Bu." Iffah tidak menyerah. Dia terus bertanya, meski tidak melihat tanda-tanda perempuan itu akan menjawab semua pertanyaannya.


"Bu... Ibu begitu saya hormati, sebagaimana Ghali menghormati ibu. Membela dan menyembunyikan kejahatan Ibu. Tapi tolong jawab, Bu. Kenapa Ibu melakukan ini terhadapku, Ibu?"


PLAAAK...


Satu tamparan mendarat di pipi Iffah.


Panas... Dan terasa perih. Iffah tertegun seketika, namun dengan cepat dia kembali mengumpulkan keberaniannya yang sempat melayang berganti rasa takut.


*****


Sudah kelewat Isya, namun Toni dan Ghali tidak sekalipun melewatkan waktu Magrib dan Isya mereka. Meskipun perjalanan yang mereka tempuh masih cukup jauh malam itu.


Mobil polisi yang ditelpon Ghali tadi, juga mengikut bersamanya.


Saat itu, Toni paham dengan alur cerita hidupnya yang hanya akan ada penderitaan. Dan dia menyadari jika itu sebuah hukuman baginya. Hanya saja, Iffah pernah mengatakan kepadanya bahwa itu bukanlah sebuah hukuman yang dijalaninya, melainkan sebuah cobaan baginya. Dan seberapa ikhlas dia menjalaninya, maka Allah akan menghitungnya sebagai pahala kesabaran untuknya.

__ADS_1


Dia percaya, dengan tetap melakukan kewajibannya terhadap Yang Maha Kuasa, maka waktu yang tengah mendesak dirinya seakan berhenti seketika. Bahkan, orang-orang yang sedang berperang pun tetap melakukan kewajibannya terhadap Rabb-nya, bukan?.


Begitulah cara mereka meyakinkan hati, bahwa Iffah mereka akan baik-baik saja dan selalu dilindungi Yang Maha Pengasih, Ar-Rahman.


Ghali berkali-kali mengusap kasar pipinya. Dia seperti anak kecil yang menangis karena tidak dipedulikan oleh orang tuanya.


Rasa takut akan terjadi hal buruk terhadap Iffah, menggerayang di pikirannya saat itu.


Mungkinkah dia akan membenci ibu kandungnya sendiri untuk kali ini?


Jika iya, itu karena Iffah sampai kenapa-kenapa nantinya. Rasa baktinya, membuat Ghali masih berpikir positif terhadap ibu kandungnya itu.


"Apa masih jauh, Ghali?" Tanya Toni. Dia berusaha mengajak bicara adik iparnya yang masih menampakkan kegelisahan di sampingnya kala itu.


"Tidak kakak Ipar. Di permpatan itu belok kanan, seratus meter dari situ kita akan sampai." Sahut Ghali dengan suara serak.


"Kenapa kakak Ipar terlihat begitu kuat? Padahal kakak sangat takut saat ini, bukan?" Tanya Ghali membuyarkan lamunannya sendiri.


"Kebaikan akan selalu menang Ghali... Kita lihat saja nanti." Jawaban Toni hanya berusaha untuk menghibur dirinya semata dari rasa takut di dalam hati dan benaknya, dan yang sebenarnya mengganggu kosentrasinya sedari tadi.

__ADS_1


Hatinya begitu tenang, karena sedari tadi hatinya sibuk melafadzkan kalimat Ma 'indallahi khayr. Apa yang di sisi Allah lebih baik. Dan Toni percaya, Iffah berada di sisi-Nya Allah saat itu.


__ADS_2