TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
KAKAK IPAR


__ADS_3

Sesuai rencana mereka tadi paginya, mereka tidak langsung pulang ke rumah Toni. Mereka terlebih dahulu mampir ke kontrakan minimalis yang pernah di tempati Iffah sebelum menjadi istri Toni kala itu.


Ghali, lelaki yang menjadi tujuan mereka senja itu.


Bagaimana kabar bocah itu sekarang ya? Aku bahkan tidak lagi menghubunginya sejak itu.~ Gumam Toni ketika mobilnya telah menapaki tujuan mereka.


"Kapan kamu berhubungan dengan Ghali?" Tanya Toni kepada Iffah yang masih sibuk mengamati wajahnya.


"Semalam, dan itupun dia hanya menanyakan keadaanmu." Ketus Iffah seraya mencebikan Bibirnya.


"Iyakah?" Toni terlihat merasa bersalah karenanya.


"Hu um..." Sahut Iffah jujur.


"Kenapa dia tidak langsung menghubungiku saja?." Meski Toni tahu akan jawabannya, namun dia tetap ingin bertanya.


"Kamu pikir saja sendiri... Kalaupun dia mau bertanya, itu nanti, setelah dia tau kamu masih saja bersikap seperti kemarennya. Palingan dia hanya akan membawaku pergi saja darimu." Tutur Iffah menampakkan kekesalannya mengingat kelakuan Toni semalam.


"Coba saja kalau dia berani..." Ancam Toni.


"Memangnya kamu akan apa?" Iffah menatap tajam suaminya itu.


"Aku akan menculikmu kembali darinya." Sahut Toni asal.


"Bagaimana caranya?"


"Tidak akan susah, toh kamu juga mencintai aku, bukan?" Toni menyeringai mendapati Iffah terlihat malu.


Iffa memalingkan wajahnya dari Toni. "Memalukan." Decak Iffah seraya memutar tubuhnya.


"Jangan malu begitu, nanti Ghali melihat pipimu yang bersemu. Kamu akan semakin malu dibuatnya." Toni semakin menggoda istrinya itu.

__ADS_1


Toni menepikan mobilnya di depan rumah lama Iffah yang masih di huni adiknya.


"Sepertinya Ghali sudah pulang, aku turun ya." Ujar Iffah ketika matanya mendapati motor sport adiknya itu sudah terparkir di teras rumah minimalis itu.


"Tunggu disini sebentar." Perintah Toni seraya dirinya turun dari mobil itu.


"Padahal aku kan bisa saja membuka pintunya." Keluh Iffah.


"Meskipun kamu telah menjadi istriku, bukan berarti aku bisa berubah secepat itu kan?" Toni tersenyum melihat wajah kusut Iffah.


*****


"Assalamu'alaikum..." Iffah mengetuk pintu rumahnya sendiri beberapa kali. Dia terlihat begitu antusias sekali ketika menginjakkan kakinya pertama kali lagi semenjak pernikahannya dengan Toni dilangsungkan kala itu.


"Wa'alaikumussalam..." Ghali menarik gagang pintu dari dalam. Dia begitu terkejut mendapati kakaknya telah berada di depannya saat itu.


"Kak Iffah..." Serunya seraya menghamburkan pelukannya kepada Iffah. Dia terlihat begitu senang karena sangat merindukan saudara seayahnya itu.


"Ahem... Ahem... Hem... Hem..." Toni yang merasa terabaikan segera berdehem melihat kebahagiaan adik kakak itu.


"Kamu Pikir sedari tadi aku tiang, ha?" Toni sedikit melototkan matanya kearah Ghali.


Adik dan kakak itupun tertawa melihat tingkah Toni yang terabaikan oleh mereka.


"Kakak, bukankah semalam kata kakak, suami kakak ini masih belum bisa di ganggu ya?" Tanya Ghali seakan menyindir Toni.


"Kaki saya pegal, sampai kapan kalian akan membiarkan tamu berdiri saja di luar?" Toni mengalihkan pertanyaan Ghali, dia takut Ghali akan mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan Iffah ketika berada dalam mobilnya tadi.


Ghali dan Iffah terbahak melihat tingkah Toni.


"Baiklah, silakan masuk Pak Antoni." Ujar Ghali mempersilakan Suami kakaknya itu untuk masuk.

__ADS_1


"Ghali, sebenarnya saya kasihan sama kamu, kamu bisa gila tinggal sendirian di rumah ini. Maka dari itu saya dan kakakmu datang kesini untuk menjemputmu." Tutur Toni ketika telah berada di dalam rumah.


"M-maksud Pak Antoni?" Ghali seakan tidak mengerti ucapan Toni yang begitu tiba-tiba.


"Iya dek, Pak Bobi dan Bi Chellin meminta kamu untuk tinggal disana." Iffah ikut menjelaskan kepada adiknya itu agar mengerti.


"Tapi..." Ghali terlihat sungkan.


"Tidak usah pakai tapi-tapian Ghali... Kita ini kan keluarga. Saya akan senang sekali jika kamu mau menerima tawaran kami." Toni tampak serius dengan ucapannya. Dia tidak terlihat bercanda untuk saat itu.


"Lalu bagaimana dengan rumah ini, kak?" Tanya Ghali kepada Iffah.


"Rumah ini dikosongkan saja, perabotannya kita sumbangkan ke panti asuhan atau panti jompo, dek. Lagian rumah ini kalau kosong, akan ada penghuni lainnya yang menginginkan rumah ini." Cairan bening berkumpul di mata Iffah. Tampak sekali dia begitu menyayangi rumah yang sudah menampungnya lebih dari setahunan itu.


"Kalau begitu, biarkan saya menginap disini untuk semalam ini Pak. Besok kan weekend, jadi saya bisa beberes." Pinta Ghali cepat. Dia tidak ingin kakaknya semakin bersedih jika dia menawar lagi.


"Baiklah, besok saya akan datang lagi untuk membantumu. Dan satu hal lagi, kakak ipar, bukan Pak atau Bapaklah. Saya risih." Toni mulai bergurau kembali.


"Siap kakak Ipar..." Sahut Ghali sehingga membuat Iffah tersenyum kala itu.


Dua lelaki yang dicintai Iffah itu sangat bahagia sekali jika melihat senyuman terpancar di wajah ayunya Iffah.


Mereka ikut tersenyum untuk senyuman Iffah.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2