TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
DIDAKWA DI RUANG KELUARGA


__ADS_3

"Toni..." Suara menggelegar terdengar dari ruang keluarga. Langkah Toni, Iffah dan Ghali terhenti seketika itu juga. Lampu yang semula padam pun tiba-tiba kembali mengeluarkan cahaya darinya.


"P-Papa?" Toni begitu gugup mendapati Papa dan Mamanya masih berada disana. Padahal dia sempat berpikir bahwa orang tuanya itu sudah masuk ke kamar, karena TV dan lampu disana sudah tidak lagi menyala.


Hanya Ghali yang tidak terlalu terkejut saat itu. Dia sangat yakin jika Bobi dan Chellin akan menunggu kedatangan mereka.


"Bagaimana dengan luka di kakimu?" Tanya Bobi datar seraya mendekat kearah mereka bertiga.


"Aeeehhh… Bocah ini... Dasar pengkhianat..." Makinya dengan berbisik. Siku Toni menyambar lengan Ghali yang berada di sisinya saat itu. Ghali terdengar meringis karenanya.


"Toni...?" Giliran Chellin yang bertanya kepadanya. Mata Iffah terlihat berkaca-kaca ketika menghadapi suasana menegangkan yang terjadi saat itu.


"Toni minta maaf, Ma. Iffah..."


"Kenapa kamu begitu tega membuat istrimu berbohong kepada Mama dan Papa, Nak?" Tanya Chellin lagi.


Toni bernafas lega mendengar pembelaan Mamanya terhadap Iffah.


"Jika Iffah tidak berbohong, maka kamu tidak akan mau ke Rumah Sakit? Begitu, hmm?" Chellin bagai jaksa yang menanyai terdakwa kala itu. Dan Toni benar-benar menjadi tersangkanya, segala pertanyaan mengarah kepada dirinya.


"Bu-bukan begitu, Ma." Belanya.


"Duduk..." Perintah Bobi menyela ucapan Toni.


Mereka bertiga menurut untuk duduk.


"Demi tidak membuat kami khawatir, kamu tega menyuruh istri dan adik iparmu berbohong?" Tukas Bobi dengan wajah penuh amarah. Sekali-sekali dia ingin memperlihatkan sikap tegasnya kepada anak-anaknya itu.

__ADS_1


"Bu-bukan begitu, Pa?" Sela Toni sambil menundukkan kepalanya.


"Lalu?"


"Iffah terlalu mengkhawatirkan Toni, Pa, Ma. Padahal Toni merasa baik-baik saja."


"Baik-baik bagaimana kakak ipar? Empat jahitan begitu masih dibilang baik?" Sela Ghali cepat. Iffah mengangguk menyetujui ucapan Ghali.


"Diam..." bisik Toni. Dia melototkan matanya kearah Ghali yang sejengkal jaraknya dengan dirinya saat itu.


"Toni... Tidak perlu melotot kepada adik iparmu. Kamu pikir Papa dan Mama tidak tahu? Ghali sudah menelpon Papa tadi... Dan bahkan, Ghali sudah memberitahukan kepada Papa dan Mama sebelum kalian berangkat ke Rumah Sakit..." Tegur Chellin berusaha membela Ghali.


"Aeeeeh... Awas saja nanti." Ancam Ghali dengan suara berbisik.


"Ma, Pa... Ghali sudah tidak ada urusan lagi, bukan? Ghali ke kamar ya Ma, Pa... Kakak ipar mengancam Ghali terus…" Adunya.


"Tuh kan... Mama dan Papa lihat sendiri, bukan? Sakit-sakit begitu masih bisa menyerang saja." Adu Ghali seperti anak kecil.


Toni kembali melototkan matanya kepada adik iparnya itu.


Bobi dan Chellin berusaha menahan tawa dengan mengapit kedua bibir mereka. Sesekali mereka mengalihkan pandangan mereka dari hadapan anak-anak mereka.


Meski cemas, khawatir dan sedikit kesal. Namun mereka tidak bisa untuk tidak tertawa melihat tingkah laku dua kakak beradik itu.


"Lain kali, Toni, Iffah, Ghali... Jika terjadi sesuatu, jangan tunggu Papa dan Mama terakhir yang Tahu. Kecuali jika kalian tidak menganggap Papa dan Mama lagi..." Ketus Chellin dengan nada sedih. Matanya benar-benar menelaga saat itu.


"Ma..." Toni akhirnya memberanikan diri menatap kearah mamanya. Dia bangkit dan melangkah dengan terseok-seok menuju ke posisi Chellin berdiri.

__ADS_1


Toni memeluk wanita paruh baya itu dengan perasaan bersalah di dalam hatinya. "Maafin Toni, Ma... Toni janji tidak akan mengulanginya lagi." Ikrarnya dalam ceruk leher mamanya Itu.


"Sungguh?" Tanya Chellin memastikan ucapan putranya. Air matanya mengalir seketika.


"Iya, Ma..." Sahut Toni meyakinkan hati Chellin.


Iffah dan Ghali tampak mengusap pipi mereka. Dia begitu terharu menyaksikan deama yang tercipta antara Mama dan anak di hadapan mereka saat itu.


Tangan Chellin melambai kearah Iffah dan Ghali. Dia mengisyaratkan agar dua kakak beradik itu mendekat pula kearahnya.


Ghali dan Iffah tersenyum menyambut undangan berupa isyarat itu. Dengan bergegas, mereka mendekat dan ikut memeluk Chellin.


Bobi mengusap kasar matanya yang terasa geli dan lembab saat itu. Kemudian, dia ikut bergabung merangkul anak-anak dan istrinya yang berpelukan seperti Teletubies.


Meski aku memperolehnya di usiaku yang sudah mulai beranjak senja, tapi aku begitu bahagia mendapatkan tiga putra putri sekaligus.


Tingkah mereka yang tidak selalu dewasa, mampu membuat aku dan istriku terhibur karenanya. Mereka memang sebuah keajaiban yang Engkau titipkan kepada kami Yaa Allah, Yang Maha Baik...


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2