TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
KABAR BURUK UNTUK SEMUA KELUARGANYA


__ADS_3

"Tuh kaaan,,, mungkin papanya lagi sibuk, Sayang. Milka sabar ya, Nak. Nanti kalau papa sudah selesai kerjanya, pasti papa segera nelpon Milka lagi..." Kemil tampak membujuk putri cantiknya yang sedari tadi merengut, dia begitu sibuk meminta ditelponkan dengan papanya.


"Huh, Papa cibuk telus. Mil, tan tanen Papa..." Oceh Milka Kecil di pangkuan ayahnya senja itu.


"Sekarang gini saja, Milka ajak dedek bayi buat ngobrol dulu ya, Nak. Sampai papa balik nelponin Milka. Papa pastinya juga kangen dong, sama Milka." Kemil membawa Milkanya ke tempat Kamelia yang tengah duduk santai bersama Rahmah di pelataran belakang rumah kediaman Arayan.


"Dedek bayiiii, tatak mau culhat niii... Tatak tanen cama pappa, tapi papa cibuk teluus..." Sungutnya sambil mengelus-elus perut Kamelia yang sudah mulai membuncit kala itu.


Kamelia mengode Kemil seakan ingin tahu sesuatu dari suaminya atas tingkah putrinya yang berbeda dari biasanya.


Kemil hanya mengangkat telapak tangannya dan meninggikan bahunya seolah tidak tahu apa-apa.


Waktu terus berjalan tanpa mau menunggu. Sudah lewat dari waktu isya, Kemil masih saja mengecek ponselnya. Barangkali ada notif pesan dari Toni, begitu pikirnya.


Tidak hanya gadis kecil itu saja, Kemil pun ikut merasa gundah karenanya.


Dia duduk menghadap ke luar jendela kamarnya, malam itu.


"Kenapa sayang?" Kamelia tiba-tiba membuat Kemil merasa terkejut. Ya, karena dia juga dalam keadaan melamun saat itu.


"Eh, Sayang. Aku hanya kepikiran dengan Toni, Sayang. Bahkan Milka pun sudah sampai ketiduran, namun Toni belum juga balik menelponku. Aku hanya sedikit cemas saat ini." Tutur Kemil denga raut wajah yang menjelaskan dia sangat gundah kala itu.


"Mungkin, Toni benar-benar sibuk sayang." Ujar Kamelia menenangkan suaminya itu. "Atau mungkin juga dia lupa, coba saja kamu hubungi dia kembali." Usulnya lagi.


"Benar juga kamu, tunggu sebentar ya, Sayang. Aku ambil ponselku dulu." Kemil bangkit hendak mengambil ponselnya, namun sebelum dia mencapai tempat ponselnya berada, ponsel itu pun terlebih dahulu berdering.


Kamelia menoleh kearah Kemil yang tengah melihat panggilan masuk di layar ponselnya.


"Toni..." Serunya dengan sedikit berbisik. Dia dan Kamelia pun terlihat lega karenanya.


"Assalamu'alaikum Ton... Kamu..." Belum sempat Kemil mengeluarkan omelannya, seseorang dari seberang sana terlebih dahulu memotong pembicaraannya.


"Wa'alaikumussalam... Apa ini dengan kerabat pemilik ponsel ini?" ~ Tanya seseorang itu.


Kemil tercengang. Melihat reaksi Kemil yang tiba-tiba berubah, Kamelia segera mendekati suaminya itu. "Ada apa, sayang?" Bisik Kamelia.


"Iya, benar... Saya saudaranya. Ini dengan siapa?" Kamelia terkejut mendengar cara Kemil berbicara.


"Kami dari pihak Rumah Sakit XXX mengabarkan bahwa saudara anda mengalami kecelakaan hebat sore tadi di jalan XX. Karena ini nomor terakhir yang menghubungi ponsel beliau, maka dari itu kami putuskan untuk menelepon Anda. Keadaan pasien sangat kritis sekali, kami mohon agar keluarga...." ~ Kemil tidak lagi mendengar apapun yang di katakan seseorang itu. Tubuhnya tiba-tiba gemetar, dan hal itu membuat Kamelia semakin cemas.

__ADS_1


"Sayang, tenanglah. Apa yang terjadi?" Tanya Kamelia sembari memeluk Kemil dari sebelahnya.


"Toni kecelakaan sore tadi sayang, dan aku rasa karena itu dia tidak mengangkat telepon dariku." Mata Kemil mulai memerah dan berkaca-kaca.


"Ahhh..." Kamelia terkejut dan refleks memegangi perutnya.


"Kamu tidak apa-apa kan sayang?." Seru Kemil segera membawa Kamelia duduk di tepi tempat tidur mereka.


"Apa Om Bobi dan Bi Chellin sudah tau sayang?" Tanya Kamelia di sela-sela keterkejutannya.


"Entahlah sayang... Aku akan menelepon mereka terlebih dahulu sebelum memberitahukan kepada Papa dan Mama." Ujar Kemil seraya mengotak-atik ponselnya kembali.


Tut... Tut... Tut...


"Assalamu'alaikum Kemil..." ~ Sapa Bobi dari seberang.


"Wa'alaikumussalam... Om Bobi....


....


....


....


"Antoniiiii..." ( Berteriak)


Iffah terduduk dari tidurnya, kerudung yang dia pakai tampak berjejak oleh keringat dingin yang keluar dari pori-pori kulitnya.


Iffah menyapu pandangannya ke seluruh ruangan kamar yang ditempatinya bersama Toni, dia tidak menemukan suaminya berada di sampingnya kala itu.


Iffah segera turun dari tempat tidur untuk mencari keberadaan Toni.


"Antoni..." Iffah membuka pintu kamar mandi, ruang ganti bahkan sampai ke balkon sekalipun. Tetapi dia tidak kunjung menemukan suaminya itu.


"Antoni..." Iffah terus memanggil, hingga dia memutuskan untuk mencari ke luar kamarnya.


Tubuhnya semakin kuyup karena keringatnya, pikirannya pun belum kunjung stabil saat itu. Dalam benaknya hanya Antoni, Antoni dan Antoni.


"Anto...." Tiba-tiba Iffah terdiam ketika mendapati Bobi dan Chellin berada di ruang keluarga. Bobi tampak tengah berdiri dan tercengang dengan posisi tangan kirinya menggenggam ponsel yang diletakkannya di telinga sebelah kirinya pula.

__ADS_1


Matanya terbelalak melihat kearah TV yang ada di depannya saat itu.


".... Pemirsa, penumpang sedan minibus mengalami luka berat akibat kecelakaan yang melibatkan sebuah Truk Molen. Kecelakaan ini terjadi di jalan XX..." .


Hening...


Masih hening...


"Pah, itu..., Itu..." Chellin menunjuk ke layar Televisi di hadapannya. Dan saat itu memang pemberitaan kecelakaan yang dialami Toni sedang ditayangkan dalam berita malam.


Bobi segera memeluk Chellin dengan begitu erat. "Sepertinya benar, Ma. Baru saja Kemil mengabarkan Papa, karena dia menerima telepon dari pihak Rumah Sakit XXX" Tutur Bobi sambil menahan kepedihan yang dirasakan hatinya saat itu.


Chellin menjerit ketika mendengar pengakuan suaminya. Dia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Bobi.


Iffah yang mendengar pernyataan Bobi dan juga berita itu pun langsung menjatuhkan dirinya dan terduduk di lantai tempat posisinya semula berdiri.


"Antoniiii..." Desirnya lirih. Tidak hanya keringat, air matanya pun ikut berlomba-lomba mengguyur pipinya saat itu juga.


"Ada apa ini, Ma, Pa?" Ghali yang mendengar pekikkan Chellin segera berlari menghampiri mertua kakaknya itu.


Sesaat, matanya menoleh kearah Iffah yang bersimpuh di lantai dekat orang tua itu berada. Ghali terlihat kikuk, namun juga cemas.


"Ghali... Kakak iparmu, Nak." Seru Bobi dengan air mata yang sulit ditahannya sedari tadi.


"Kak Antoni, kenapa dengan Kak Antoni, Pa?" Tanya Ghali semakin cemas ketika Bobi menyebutkan nama kakak iparnya itu dengan kesedihan yang sangat mendalam.


"Kakak iparmu. Toni... Toni... Dia kecelakaan, Ghali." Bobi akhirnya terisak setelah sekian lama dia berusaha menahan perasaannya, demi menjadi cahaya untuk keluarga kecil yang dibuatnya itu.


Mata Ghali membulat seketika. Dia ternganga akibat dari rasa keterkejutannya saat itu. Hatinya semakin perih. Air matanya yang baru saja kering, tiba-tiba mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2