TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
RENCANA KE DOKTER


__ADS_3

Seperti usahanya siang, waktu ketika semua manusia menggeledah bumi menngais rezeki. Begitu pula usahanya malam, mendamaikan manusia dengan waktunya untuk beristirahat dan lelap.


Tiada yang tidak bermakna dari segala ciptaan Sang Khaliq, bahakn perbedaan siang dan malampun merupakan sebuah bentuk kasih sayangnya terhadap semua makhluknya.


Malam itu, sehabis mereka mengerjakan ibadah shalat Isya seperti biasanya. Toni berbaring dengan kepalanya berbantalkan paha Iffah yang tengah duduk berselonjoran di atas tempat tidur mereka.


“Sayang…” Panggil Toni tanpa merubah posisi tidurnya yang menyamping, wajahnya menghadap kearah kaki Iffah.


“Hmm…” Sahut Iffah halus. Jemarinya tidak berhenti memainkan rambut hingga telinga Toni yang begitu terlihat lucu baginya.


“Kamu kenapa tidak bilang kalau papa tadi datang ke kantor?” Tanya Toni yang masih belum lupa dengan hal yang membuat dirinya malu terhadap papanya tadi.


“Aku sudah mau bilang, kamunya saja yang tidak mau dengar.” Celutuk Iffah tanpa menghentikan aktivitasnya.


“Diledek habis-habisan deh akunya.” Sesal Toni mengingat hal itu.


“Kamu malu?” Tanya Iffah sedikit menundukkan kepalanya melihat wajah suaminya itu.


“Tidak, kamu pastinya yang malu.” Sangkal Toni dan balik menuduh Iffah.


“Kenapa aku yang malu? Aku kan tau papa mau masuk. Kamu lah tu, muka kamu merah tadi ku lihat.” Ledek Iffah tak mau kalah.


“Ah, mana pula.” Sangkalnya lagi.


“Ya, terserah kamu. Kamu mau mengakuinya atau tidak, yang penting aku melihatnya.” Ledek Iffah berusaha memojokkan suaminya pula.


“Iya, iya. Aku malu…” Pada akhirnya Toni mengakui perasaan malu yang sebelumnya tidak pernah terlihat meskipun dia merasakannya.


“Ah… Ternyata…” Iffah menghempaskan nafasnya begitu kasar seakan baru saja mengalami syok berat.


“Ternyata apa?” Toni dengan cepat bangkit dan menatap lekat wajah Iffah. Iffah benar-benar dibuat terkejut olehnya saat itu.


“Ada apa? Kamu mengejutkanku tau.” Gerutu Iffah sambil memegangi dada kirinya.


“Aku ingin membalasnya.” Bisik Toni di telinga Iffah yang terbuka kala itu.


“B-balas? Balas apa?” Iffah gugup dan menjauhkan wajahnya dari wajah Toni.

__ADS_1


“Kamu sudah membuatku malu tadi, sekarang giliranmu…” Dengan


segera Toni meraih pinggang Iffah dan membaringkannya disana.


“Ah, aku tidak membuatmu malu. Kamu sendiri yang membuatnya.” Elak Iffah mencoba meronta dari cengkraman suaminya itu. Meski begitu, mereka tetap tertawa karena cara mereka satu sama lain. Karena dengan cara seperti


itulah mereka menyelamatkan diri mereka dari kegugupan dan ketidak nyamanan.


Rasulullah lah teladan bagi suami-suami muslim.  Beliau meskipun sibuk mengurusi kepentingan umat, kala di rumah bersama istri, Beliau berubah menjadi sosok yang romantis dan lembut terhadap istri-istri Beliau.


*****


“Bagaimana? Sudahkah kamu malu?” Tanya Toni masih merengkuh tubuh Iffah yang hangat.


“Sedikit.” Bisik Iffah seperti biasanya, meski pipinya mengalahkan tomat yang sudah ranum.


“Baiklah, lain kali akan aku buat jadi banyak.” Bisik Toni di pucuk kepala Iffa. Iffah mencubit kecil punggung Toni sehingga Toni mengaduh karenanya.


“Sayang…” Toni kembali berbisik dan semakin menguatkan pelukannya terhadap tubuh Iffah.


“Maukah kamu ke dokter besok bersamaku?” Tanya Toni sedikit hati-hati.


“Kamu sakit lagi, sayang?” Tampak kekhawatiran di wajahnya.


Hening.


Sesaat hening, pertama kalinya Iffah memanggil Toni dengan sebutan sayang. Tidak hanya Toni, Iffah pun begitu terkejut, dia hanya reflex mengutarakan perasaannya kala itu.


“Kamu manggil aku apa tadi? Sayang?” Toni mengulanginya.


“M m a akuu…”


“Aku senang, bisa panggil aku sekali lagi dengan seperti itu?” Tanya Toni dengan meminta.


Iffah menyembunyikan wajahnya ke dalam dada bidang Toni. Dia begitu malu karenanya.


“Sayang..” Ulang Toni seakan berharap.

__ADS_1


“Aku malu…” Ungkap Iffah masih menyembunyikan wajahnya.


“Ayolah… Bukankah kamu sungguh menyayangiku?” kali itu Toni benar-benar terlihat berharap.


“Iya sa-yang…” Iffah akhirnya menuru.


“Hmm terimakasih sayang.” Ucap Toni kembali memeluk Iffah dengan erat.


“Jadi… Untuk apa kita kerumah sakit besok?” Iffah kembali bertanya tentang ajakan Toni.


“Aku ingin kita periksa ke spesialis kandungan sayang. Aku sudah ingin memberi adik untuk Milka darimu…” Tutur Toni seraya membelai lembut kepala Iffah. “Kamu tidak keberatan, bukan?” Tanya Toni lagi.


“Aku takut…” Bisik Iffah lirih.


“Kenapa kamu takut?” Toni mencoba mendengarkan penjelasan dari Iffah.


“Aku takut jika menemukan kekkurangan di dalam diriku nantinya.” Bisiknya dengan getir.


“Sayang, tidak ada manusia yang sempurna. Pasti ada kekurangan di dalam diri kita masing-masing. Dan jika masalah ini, bagaimana mungkin kamu berfikir seperti itu.” Toni berusaha menenangkan Iffah dari rasa takutnya.


“Tapi bagaimana jika iya?” Tanya Iffah lagi menekankan.


“Lalu kenapa jika iya?”


“Aku hanya takut tidak lagi mampu menatapmu.”  Ungkap Iffah semakin getir.


“Sayang, selagi kita masih hidup. Tidak ada jalan yang tidak bisa kita tempuh. Yang penting kita berusaha di jalannya. Sekarang kita tidur, kita pastikan saja besok, ya.” Bujuk Toni menenangkan Iffah dan disahuti anggukan kepala oleh istrinya itu. Mereka segera bangkit untuk berwudhu’, sebelum melanjutkan tidur bersama kembali.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2