
Iffah berjalan sempoyongan di pinggiran jalan, Ingatan pada kecelakan yang pernah dialaminya bersama Arjuna kembali menyakiti hatinya. Ditambah lagi kenyataan bahwa Arjunanya itu telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Air mata Iffah terus mengalir dengan deras menggelitik pipi mulusnya yang sedikit berisi. Dia menaiki bus yang dia sendiri tidak tau kemana arah tujuannya, yang pasti dia ingin pergi dari dirinya sendiri.
Namun ucapan Toni terakhir kali tadi kemballi terngiang di telinganya, permintaan dirinya agar Toni selalu mengenggam tangannya juga ikut membuatnya tidak bisa melupakan lelaki itu.
Semua cerita masa lalu Toni, membuatnya merasa khawatir dengan lelaki yang sebenarnya sudah menjadi suaminya sedari tadi. Dia meminta sang sopir menghentikan busnya dengan segera.
Iffah turun dari bus yang di tumpanginya dan segera mencari taxi. Dia terlihat cemas dan begitu gelisah saat itu. Air matanya semakin menderas dan tidak mau dihentikan.
Taxi membawa Iffah ke sebuah rumah mewah yang sudah tidak asing lagi baginya.
“Kak Iffah…” Ghali yang juga baru saja datang dengan segera menghampirinya. “Kak Iffah, Ghali tau ini semua kesalahan Ghali kak. Ghali mohon, untuk saat ini kakak tolongin Ghali kak. Pak Antoni sangat rapuh saat
ini, dia pasti butuh kakak.” Pinta Ghali sembari mengatupkan kedua telapak tangannya memohon kepada Iffah.
Iffah menurunkan tangan Ghali dengan perlahan. “Dia suami kakak sekarang, dek.” Ujar Iffah seraya mengusap kasar wajahnya. “Walau bagaimanapun, secara sadar kakak yang mau dengan pernikahan ini. Dan kekurangan
kakak hanya tidak mengingat masa lalu.”
Ghali tersenyum mendengar penuturan Iffah. Dia menarik lembut tangan Iffah agar segera masuk menemui Toni dan keluarganya.
******
Iffah masih saja berdiri di belakang pintu kamar Nenek, dia mendengar dengan begitu jelas percakapan anatara Toni dan neneknya itu. Dia merasakan perasaan bersalah karena telah menciptakan suasana canggung antara dirinya dan Toni saat itu. Perlahan Iffah bergerak menampakkan dirinya dan berdiri di ambang pintu kamar.
“Iffah…” Seru Nenek di balik suaranya yang nyaris tak terdengar. Semua mata tertuju kepadanya, termasuk Toni.
__ADS_1
Iffah tersenyum seraya mendekat kearah nenek yang tebaring lemah disana.
“Nenek…” Panggil Iffah seraya mengangkat tangan nenek yang mulai terasa dingin dan semakin melemah. “Nenek, maafkan Iffah.” Ucapnya mulai terisak dan menjatuhkan wajahnya secara perlahan kepelukan nenek Toni.
Toni yang tidak menduga kedatangan Iffah terlihat mulai menampakkan binar kehangatan di wajahnya.
“Iffah, nenek tidak akan menyatukan tangan kalian berdua. Tapi nenek berharap kalian akan dipersatukan oleh hati dan pikiran kalian masing-masing. Karena dalam sebuah hubungan tidak ada yang namanya paksa, dipaksa,
keterpaksaan, memaksa dan memaksakan. Ia hanya akan ada ketulusan di dalamnya, nak.”
Iffah menitikkan air matanya, terharu mendengar ketidak egoisan wanita tua yang di ambang sakratul maut itu.
Iffah semakin terisak mengenang kebaikan dari Toni beserta keluarganya.
“Pappaaah…” Kamelia yang tak kuasa melihat kesedihan di raut sahabat sekaligus papa dari anaknya itu, segera meminta Milka kecilnya menghibur Toni.
“Sayang, sini Nak. Nenek buyut sangat merindukan Milka.” Toni menggapai tangan mungil Milka yang menghampirinya.
Deg,
Jantung Toni seakan berhenti. “Sayang, nenek buyut tidur Nak.” Ujarnya polos kepada Milka kecilnya yang tidak mengerti apa-apa. Dia memeluk Milka dengan begitu erat. “Tidak sayang, maaf papa memelukmu dengan
sedikit kuat ya Nak. Papa hanya mereindukanmu.” Tenggorokan Toni terasa sakit bagai tersekat duri.
Iffah tak mampu bersuara menyaksikan kisah pilu yang terjadi di depan matanya.
Bobi segera memeluk Chellin yang telah mulai menangis, dia membenamkan wajah istrinya itu ke dalam dadanya. Sedangkan air matanya bergulir tanpa dapat di hentikan.
__ADS_1
Kemil kembali mengambil Milka dari gendongan Toni dan membawa Kamelianya keluar dari ruangan itu.
Toni memandangi wajah Neneknya yang teduh dan tenang. Dia meraih tangan kanan neneknya yang berada di sampingnya saat itu.
Toni mulai terisak seraya meletakkan tangan neneknya ke pipinya.
“Neneeek… Nenek, Toni masih butuh Nenek. Papa, kenapa papa mambawa nenek juga? Nenek bangunlah… Toni mohon, Nek. Toni baru saja memiliki Nenek. Toni mohon bangunlah, nenek.” Semua orang disana tak mampu menahan tangisnya melihat kepedihan yang dirasakan Toni saat itu.
Iffah segera bangkit dari duduknya dan mengitari tempat tidur nenek hendak mendekati suaminya yang dia yakin sangat membutuhkan dirinya saat itu.
“Maafkan aku Antoni. Maafkan aku…” Ujarnya seraya mendekap pundak Toni agar suaminya itu bisa lebih sedikit tenang.
Iffah merasakan tubuh Toni yang bergetar hebat saat itu, dia semakin menguatkan dekapannya dan membenamkan wajah Toni ke dadanya.
“Semua yang bernyawa pasti akan menemui kematian, tak peduli dari kasta apa, sehat atau sakit, dan tak peduli dari keyakinan mana… Kita yang masih hidup hanya perlu menunggu dengan persiapan.” Ujarnya berusaha menenangkan Toni, meski hatinya begitu terluka saat itu.
“Meski kematian Arjuna terjadi lebih dari setahunan yang lalu, tapi sakitnya saat ini aku rasakan. Dan nenekmu adalah nenekku juga. Yang tidak aku kenal sehari ini saja. Aku saat ini juga terluka. Jadi aku mohon
jangan meratap jika kamu tidak ingin melihatku semakin terluka.” Bisiknya menenangkan Toni.
Toni berusaha menahan isak tangisnya dan melepaskan wajahnya dari dekapan Iffah. Iffah mengusap lembut air mata Toni dengan kedua ibu jarinya yang terasa halus.
.
.
.
__ADS_1
.
.