TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
KAMAR BARU UNTUK GHALI


__ADS_3

Ghali memandangi kamar barunya di kediaman Zulherman. Dia begitu takjub, kamar yang luasnya berkali-kali lipat dibandingkan dengan kamar di rumah lamanya.


“Bagaimana Ghali? Kamu menyukainya?” Bobi datang seraya memosisikan tubuhnnya di samping Ghali yang masih saja berdiri di ambang pintu kamar baru yang akan di tempati Ghali.


“Ini… Ini bahkan di luar dugaan saya, Pak. Saya sangat menyukainya.” Tutur Ghali dengan raut wajah sumringah dan berbinar.


“Alhamdulillah kalau kamu suka, Nak. Mulai hari ini kamu akan tinggal disini, dan menjadi bagian dalam keluarga kita.” Chellin ikut menimpali dari belakang. “Dan satu lagi, kami orang tua kamu sekarang. Jika


kamu butuh apa-apa, kamu jangan sungkan untuk mengatakannya kepada Mama dan Papa.”


Ghali menoleh kearah kakak dan kakak iparnya yang sedari tadi sudah berada di dalam kamar itu. Toni menganggukkan kepalanya untuk


meyakini adik iparnya itu.


“Terimakasih, Ma, Pa.” Ucap Ghali terlihat begitu bahagia dengan kehangatan yang diberikan Chellin dan Bobi kepadanya.


“Ya sudah, ayo masuk. Kamu bisa melihat-lihatnya sekarang.” Ajak Bobi seraya merangkul bahu Ghali.


*****


Setelah keluarganya keluar dari kamar yang di tempati Ghali, kini tinggallah dirinya bersama Toni, kakak iparnya. Mereka terlihat masih ingin bergurau. Sedari tadi Toni bahkan tidak berhenti mengganggu adik iparnya itu di depan keluarganya.


Toni menghempaskan tubuh lelahnya di atas tempat tidur itu, Ghali mengikutinya dengan duduk di samping Toni seraya melihat ke arah luar jendela kaca kamar barunya.

__ADS_1


“Apa kamu benar-benar tidak ingin menengoki ibumu, Ghali?” Toni memulai percakapan yang serius dengan adik iparnya.


“Tidak, kak. Saya masih kecewa terhadap beliau.” Elak Ghali, wajahnya menampakkan kekecewaan yang sangat dalam.


“Walau bagaimanapun, dia adalah ibu kandungmu, Ghali.” Toni berusaha meluruskan kekeliruan yang melanda adik iparnya itu.


“Tetapi beliau sudah keterlaluan, saya lebih baik kehilangan beliau daripada kak Iffah. Beliau tidak akan berubah sampai kapan pun.” Tegas Ghali seakan mengingat hal pahit yang telah dilakukan ibunya terhadap Iffah di masa


lalu.


“Iffah pun juga harus tahu masalah itu, Ghali.”


“Tidak, kakak Ipar. Saya mohon dengan sangat, jangan beritahu kak Iffah.” Pinta Ghali. Dia terlihat seperti sedang ketakutan mendengar pernyataan Toni.


“Saya bahkan berharap kak Iffah tidak mengetahuinya untuk selama-lamanya, kakak ipar. Itu semua juga sudah tidak perlu dibahas lagi.” Tutur Ghali tajam. Dia seakan tidak ingin lagi melibatkan kakak tirinya itu dengan kehidupan ibu kandungnya.


“Baiklah, saya tidak akan memaksamu. Hanya saja saya takut kamu akan menyesalinya suatu hari nanti, Ghali. Ingat satu pesan saya… Dia ibu kandungmu, dan kamu walinya Iffah…” Tegas Toni.


Ghali tertegun, cairan bening terbendung di kelopak matanya. Matanya mulai memerah, entah sesakit apa perasaannya saat itu. Tapi, kata-kata Ghali mampu membuatnya merasakan perih di hatinya.


“Lalu bagaimana dengan rencana kakak ipar untuk kak Iffah?” Ghali mengalihkan topik pembicaraan mereka.


“Insya Allah minggu besok saya akan membawa Iffah kesana. Saya juga tidak yakin dengan perasaan saya, hanya saja saya tidak boleh egois. Menurutmu bagaimana?” Toni dan Ghali terlihat tampak saling butuh satu sama

__ADS_1


lain. Kekompakkan telah tercipta diantara mereka. Karena mereka sama-sama menyayangi satu perempuan dalam versi yang berbeda.


“Saya sebenarnya juga tidak terlalu yakin sih denganmu, kakak Ipar.” Ghali sedikit menekuk wajahnya.


“Kenapa begitu?” Toni seakan tidak menyukai jawaban dari Ghali.


“Secara, kakak Ipar terlalu cengeng dan mudah perasa begitu.” Ujar Ghali santai.


“Ish kau…” Toni segera mengalungkan lengan kirinya ke leher Ghali. Dia terlihat geram karena merasa di ejek adik iparnya itu.


“Haha, ampun, ampun kakak ipar. Saya hanya bercanda.” Ghali terkikik di sela-sela nafasnya yang tersengal karena lengan Toni yang kekar itu mengapit lehernya.


Toni akhirnya melepaskan leher Ghali dari cengkramannya, dia beranjak hendak keluar dari ruangan itu.


“Semangat kakak ipar… Ingat… kakak saya sangat mencintai mantan suaminya.” Toni menghentikan langkahnya ketika mendengarkan seruan Ghali. Namun dia sama sekali tidak menoleh. Meski hatinya merasakan cemas, namun dia hanya mengabaikan seruan Ghali dengan mengangkat tangan kanannya seolah tidak mempermasalahkannya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2