
Sudah hampir tengah malam, Toni masih saja menunggu kabar dari Kemil. Matanya seakan memiliki energi agar tidak mengantuk di jam-jam sensitive seperti saat itu.
Tidak berapa lama menunggu, ponsel Toni bordering. Sebuah panggilan dari Kemil mengacak pikirannya.
“Assalamu’alaikum Ton…” Sapa Kemil dari seberang.
“Wa’alaikumussalam…” Sahut Toni berusaha menahan kegelisahannya.
“Insyaa Allah sejaman lagi kami sampai di Rumah Sakit XXX, Ton.” Lapor Kemil.
“Baiklah, Kemil. Aku akan bersiap kesana sekarang juga. terimakasih infonya… Assalamu’alaikum.”
“Sama-sama, Ton. Wa’alaikumussalam…” Kemil menutup panggilan telepon mereka.
“Apa mereka sudah sampai, sayang?” Tanya Iffah seraya mendekati Toni.
“Kata Kemil sejaman lagi sayang. Jadi aku juga secepatnya harus kesana kesana, kamu mau ikut?” Toni menatap Iffah dengan sendu.
“Bolehkah?” Iffah balik bertanya.
“Kalau kamu tidak lelah dan juga tidak mengantuk.” Sahut Toni sembari mengusap lembut bahu Iffah.
“Tidak kok, sayang. Aku tidak lelah, dan aku juga tidak mengantuk.” Ungkap Iffah begitu semangat.
“Ya sudah, ayo.” Ajak Toni seraya menggenggam jemari istrinya itu dan pergi meninggalkan posisi mereka.
__ADS_1
“Toni… Apa Milka sudah sampai di Rumah Sakit?” Suara bobi dari ruang keluarga membuat langkah
Toni dan Iffah terhenti.
“Eh Papa, Mama. Papa, Mama belum tidur?” Toni tidak menjawab, tetapi malah balik bertanya.
“Belum, sayang. Kami juga ingin ikut melihat keadaan Milka.” Sahut Chellin ketika menghampiri posisi Toni dan Iffah.
“Baru saja Kemil mengabari Pa, katanya mereka akan sampai dalam sejaman lagi.” Tutur Toni kembali gelisah.
“Ya sudah, kalau begitu ayo kita berangkat. Mungkin kita hanya akan menunggu beberapa saat saja disana.” Usul Bobi cepat.
“Ghali ikut…” Seru Ghali yang tiba-tiba muncul dari arah kamarnya.
“Ghali satu-satunya pemuda yang dipanggili Milka sebagai Omnya, jadi Ghali harus tau bagaimana keadaan ponaan Ghali sekarang.” Tutur Ghali bersemangat. Toni terlihat menampakkan sedikit senyumannya mendengar penuturan Ghali.
Hmmm gadis kecilnya papa memang banyak mengambil hatinya orang-orang.~ Gumam Toni seraya menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan adik iparnya itu.
*****
Baru sekitar sepuluh menit menunggu, ambulans dari desa yang membawa Milka datang. Berbagai prosedur di lalui Milka. Bahkan dia melakukan tes darah kembali di bagian Hematologi Rumah Sakit itu. HB-nya semakin menurun, dan hasil yang ditunjukkan setelah melakukan tes lanjutan di bagian Hematologi
menunjukkan bahwa Milka berkemungkinan mengidap leukemia.
Mereka semua syok mendengar berbagai diagnosa yang dinyatakan dokter. Namun terlebih ketika dinyatakan mengidap leukemia. Dan kemungkinan leukemia yang diderita Milka lima puluh persen.
__ADS_1
Toni begitu sangat terpukul akan hal itu, mengingat papanya meninggal karena hal yang sama.
Malam itu begitu panjang bagi mereka semua. Air mata Kamelia semakin tidak bisa dihentikan setelah mendengar berbagai kemungkinan yang menunjukkan putri kecilnya mengidap penyakit parah.
Berkali-kali Kemil berusaha menenangkan Kamelianya, dan hal itu semakin memeperburuk suasana hati Toni. Rasa bersalah bermunculan di benaknya. Apalagi dokter sempat mengatakan factor penyebanya adalah factor genetik. Bukan hanya papanya saja. Setahu dirinya, kakeknya juga memiliki riwayat penyakit
yang sama.
Dokter kembali melakukan tes lanjutan, yaitu BMP (Bone Marrow Puncture) atau aspirasi sumsung tulang.
Entah sudah berapa puluh jam keluarga itu berada di Rumah Sakit itu. Bahkan Ramdani dan papanya serta Idris juga telah datang menyusul mereka.
Hasil pemeriksaan BMP pun keluar, leukemia yang diderita Milka semakin terlihat jelas yaitu delapan puluh lima persen.
Diagnosa tersebut membuat hati mereka semakin hancur. Mereka tahunya selama itu Milka mereka sehat-sehat saja.
Dan hal itu membuat Toni semakin terpuruk dalam rasa sakitnya. Segala harapan yang cerah selama ini berubah menjadi kelam. Tangisan bayi Milka pertama kali di dengarnya kembali membebani pikirannya. Gadis kecil itulah penyemangat hidupnya setelah papanya meninggal, namun harus terbaring lemah di ruangan berbau obat-obatan itu. Di tubuhnya yang mungil pun dipasangkan berbagai alat medis yang begitu memilukan jika melihatnya.
Toni hanya mampu melirik gadis kecilnya dari jendela kaca yang terpasang membatasi mereka. Iffah bahkan tidak mampu berbuat seperti Kemil berbuat terhadap Kamelia. Dia hanya mampu menelan kesedihan dan ketakutannya melihat suaminya bersedoiih seperti itu.
Dia bahkan merasakan sakit seperti yang dirasakan suaminya. Tidak hanya untuk Milka, tetapi juga untuk suaminya.
Wa maa ladzatu illaa ba’dat ta’bi
Tidak ada kenikmatan kecuali setelah kepayahan.
__ADS_1