
Fashback Off.
"Bagaimana? Apa sekarang kamu sudah mengerti?" Ridha mendekati Iffah. Dia mengangkat dagu Iffah dengan pisau yang sedari tadi digenggamnya.
"Lalu ibu maunya apa dariku?" Suara Iffah bergetar menahan takut.
"Aku tidak butuh apa-apa darimu, kamu yang sudah mengambil semua dariku. Termasuk Ghaliku... Kamu sama seperti ibumu. Berlagak sok baik, murah hati, dia bahkan meminta ayahmu menikahiku. Cuiiiih..." Ridha kembali membelakangi Iffah.
"Meski aku menyesal, tapi aku tidak akan pernah meniggalkan Akmal. Setidaknya, aku bisa melakukan apa pun untuk melampiaskan dendamku kepada Wulan melewati dirimu." Ridha merasa puas kala itu. Wajahnya menampakkan seringai penuh kemenangan.
"Tapi ibu sudah keterlaluan, ibu. Ibu bahkan telah mencelakai aku dan Arjuna, sehingga Arjuna meninggal karenanya." Teriak Iffah. Dia tidak empati sedikit pun terhadap ibu tirinya itu. Menurutnya, Ibu Kandung Ghali itu hanya terlalu berlebihan menggadang-gadangkannya.
"Lalu kamu pikir aku akan peduli?" Ridha tak kalah berteriak. Dia kembali menatap wajah Iffah yang sudah tidak lagi menggambarkan ketakutan disana.
"Ibu... Setidaknya, ayah masih menghargai ibu sebagai istrinya, bukan? Ayah tidak pernah menelantarkan ibu." Iffah kembali melunakkan suaranya. Dia semakin berusaha membuat ibu tirinya itu tersadar akan kekeliruan yang dia hadapi saat itu.
"Itulah kenapa saya membencimu, sangat membencimu. Ayahmu hanya bertanggung jawab terhadapku sebagai suami. Tapi dia tidak mencintaiku." Suara Ridha mengiba.
"Ibumu memang telah mati... Tapi dia juga membawa cinta ayahmu bersamanya. Dan aku... Aku hanya terlihat sebagai istri yang sangat menyedihkan sepanjang hari..." Dia mengusap air matanya yang keluar.
"Karena itu saya sangat membencimu... Kamu adalah Wulan yang hidup dalam dirimu. Begitulah ayahmu mengatakannya kepadaku." Dia kembali menyeringai.
Kekuatan Iffah kembali lenyap seketika. Rasa takutnya pun muncul dengan tiba-tiba. Dia melihat keseriusan di wajah ibu tirinya, untuk melukai dirinya dan calon bayinya.
"I-ibu... Tenanglah. Apa ibu tidak kasihan terhadap Ghali?" Tanya Iffah seakan mendapatkan senjata baru.
"Tutup mulutmu... Ghali bahkan sudah kamu rebut dariku. Dia membenciku, tetapi dia begitu peduli denganmu." Teriak Ridha semakin memanas.
__ADS_1
"Dia hanya peduli dengan kebenaran ibu..." Seru Iffah lagi tanpa menghiraukan kemaran ibu tirinya itu.
"Biadaaab... Diaaam kataku" Ridha seperti kehabisan kesabaran. Dia setengah berlari hendak menancapka pisau yang digenggamnya dan terhunus kearah Iffah.
Iffah pasrah. Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat tali menahan tubuhnya. Dia hanya memejamkan matanya menyambut pisau runcing yang akan tertancap ke bagian tubuhnya.
Sebuah pelukan kehangatan dirasakan Iffah dengan tiba-tiba.
Apa ini mimpi?~ Gumamnya dalam hati.
Apa aku telah mati? Yaa Allah... Bagaimana dengan bayiku?~ Tangisnya.
Aroma Mint milik Antoninya menghangatkan perasaannya. Rasa takut dalam dirinya lenyap seketika. Dia merasa, lama kelamaan dekapan suaminya semakin berasa nyata di tubuhnya.
Dengan perlahan-lahan, Iffah membuka matanya.
Toni melepaskan Iffah dari pelukannya. Dia sangat terkejut mendengar pekikkan Iffah yang berada di dalam dekapannya. Dia menoleh kearah belakangnya.
Pandangan haru terjadi.
Pisau yang digunakan Ridha untuk melukai Iffah, terlepas dari genggamannya. Darah menempel disana. Menetes setitik demi setitik dari tubuh seseorang yang tidak lain adalah adik ipar Toni sendiri.
"Ibuu..." Panggil Ghali kepada Ridha yang tampak ketakutan saat itu.
"Ghali..." Seru Toni seraya menangkap adik iparnya yang hampir rebah dan berlumuran darah.
Ya, Toni berusaha menyelamatkan Iffah, sementara Ghali berusaha menyelamatkan keduanya dari ibu kandungnya itu.
__ADS_1
"A-a-pa sa-ya bi-lang... Ka-kak i-par pa-s-ti le-ngah un-tuk di-ri ka-kak i-par sen-di-ri ji-ka me-lin-du-ngi ka-kak-ku..." Ghali masih berusaha tersenyum dan melawak, meski rasa sakit membuatnya bicara terbata-bata.
"Sudah diamlah... Kamu bukan malaikat yang tidak memilik rasa sakit, bodoh." Air mata Toni menggenang seketika.
"Tidak mungkin... Tidak mungkin aku membunuh putraku..." Ridha berjalan mundur sembari memandangi tangannya yang menusuk putranya sendiri. Rasa penyesalan merasuki pikirannya.
Polisi segera membawa Ridha. Dan sebahagian mengevakuasi TKP.
Toni berusaha memapah adik iparnya yang sedang setengah sadar saat itu untuk keluar dari sana.
Toni ingat sekali permintaan Ghali tadi. Jangan biarkan ibuku terluka kakak ipar... Tolong minta polisi untuk tidak melukai ibuku... Dan ternyata, dia sendiri yang mengorbankan dirinya agar polisi tidak melakukan tindakan yang membuat ibunya itu terluka.
"Ghali... bertahanlah... Sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit, Dek." Iffah sesenggukan. Tangannya tak henti menggenggam jemari adik tirinya itu di sepanjang perjalanan yang mereka tempuh.
Toni membiarkan Iffah menangis. Dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa saat itu.
Sebelumnya, Toni menyempatkan diri mengabari orang tuanya. Dia tidak menceritakan secara detail, akan tetapi Toni memberitahukan keadaan Ghali yang kritis saat itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1