
"Pagi Ma, pagi Pa." Toni menyapa kedua orang tua paruh baya yang sudah dianggapnya sebagai orang tua kandungnya sendiri, pagi itu. Bobi dan Chellin tampak sudah menunggu kedatangan mereka di meja makan.
Toni datang sambil menggandeng tangan istrinya dengan pakaian formal yang melekat di tubuh mereka masing-masing.
"Pagi juga, sayang." Sahut Chellin sembari tersenyum dan menoleh kearah mereka.
"Iffah, kamu sudah siap ke kantor hari ini?." Tanya Bobi dengan wajah berbinar melihat kedekatan suami istri yang baru menikah itu.
"Alhamdulillah sudah, Pak." Sahut Iffah sembari menepiskan senyumannya
"Sayang, seperti suamimu memanggil Papa, seperti itu juga kamu memanggil Papa mertuamu." Tegur Chellin menampakkan kehangatan sebagai orang tua di rumah itu.
"O, mm baik Ma..." Sahut Iffah masih gugup dan canggung.
"Nah, begitu seharusnya Iffah. Kita ini sudah menjadi keluarga, kamu tidak perlu sungkan dan canggung menghadapi kami." Imbuh Bobi menambahkan. "Oh iya, Ghali bagaimana kabarnya, Iffah? Kenapa dia tidak pernah datang kesini?" Tanya Bobi mengingat tentang adik semata wayangnya Iffah.
"Dia baik kok, m Pa... Mungkin dia sedikit sibuk di kantornya." Iffah mencoba menyahuti pertanyaan Bobi dengan memanggil lelaki paruh baya itu dengan panggilan papa, seperti permintaan Chellin.
Memang sedikit canggung, namun seperti suaminya. Dia pasti akan menjadi terbiasa setelahnya.
"Sebaiknya Ghali diajak tinggal disini saja bagaimana?" Usul Chellin.
"Bagus itu, Ma." Sahut Bobi menyetujui usulan istrinya.
Iffah menatap Toni seakan meminta saran dari suaminya itu.
__ADS_1
"Aku malah senang jika adik iparku itu tinggal disini." Ujar Toni seakan tidak mempermasalahkannya. "Rumah ini terlalu besar untu kita berempat, ya Ma, Pa." Tambahnya lagi. Bobi dan Chellin mengiyakan ucapan Toni yang sebenarnya.
"Terimakasih Ma, Pa. Iffah sangat senang sekali dengan kemurahan hati kalian." Tutur Iffah dengan mata yang berkaca-kaca. Terlihat sekali bahwa dirinya sangat bahagia, tampak dari senyuman lebar yang merekah di bibirnya itu.
"Ya sudah, ayo sarapan. Nanti sore, sepulang kalian berdua dari kantor, kalian jemput Ghali sekalian." Putus Bobi cepat.
Iffah mengangguk senang karenanya. Dia begitu berterimakasih, bahkan pernikahannya dengan Toni sekalipun tidak memisahkan dirinya dengan adik semata wayangnya yang telah melindunginya selama itu.
******
"Kenapa melihatku begitu?." Toni yang fokus mengemudikan mobilnya merasa heran dipandangi istrinya tidak habis-habisan sedari mereka mulai berangkat dari rumah tadi.
"Kamu melihatnya? Bukankah kamu sedari tadi terlalu fokus menyetir?." Iffah sedikit terkejut ketika ditangkap Toni tengah memerhatikan wajah suaminya itu.
"Bukan berarti aku tidak bisa melihatnya, kan?" Toni menoleh sedikit seraya mengelus lembut punggung tangan Iffah.
"Kamu tidak malu?" Toni balik mempertanyakan Iffah.
"Sedikit..." Iffah mengukurnya dengan jemari kelingkingnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Toni tertawa melihat tingkah Iffah yang telah menampakkan kedekatannya. Dia begitu senang dengan kejujuran Iffah mengutarakan perasaannya dari hal terkecil sekalipun.
"Terimakasih, Antoni." Ucap Iffah lirih sambil terus memerhatikan wajah Toni.
"Terimakasih?" Toni mengerutkan dahinya dan menghadapkan wajah tampannya itu kearah Iffah sesaat.
__ADS_1
"Hu um, terimakasih..." Iffah menganggukkan kepalanya.
"Tapi, terimakasih untuk apa?" Toni kembali menoleh kearah Iffah yang tidak berhenti memandangi dirinya.
"Untuk semua-semuanya. Kamu membuat tempat bagiku untuk terus kembali kepadamu. Aku bahkan tidak akan mampu untuk pergi-pergi lagi." Tutur Iffah lirih.
"Aku bahagia untuk itu." Toni mengambil kembali pandangannya lurus kearah jalan. "Ada satu hal lagi yang akan aku lakukan untukmu, Iffah." Toni terlihat sendu.
"Apa itu?" Iffah mengangkat bahunya hendak mencari wajah Toni yang utuh di matanya.
"Masih rahasia, bolehkan?" Toni tersenyum seraya mengelus lembut kepala Iffah yang tertutup pasmina syar'i bewarna blue black.
"Tapi jangan lama-lama, ya." Pinta Iffah tidak mempermasalahkannya.
"Oke... Insyaa Allah secepatnya." Sahut Toni menepiskan senyuman di balik kegelisahan hatinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.