
"Apa kamu masih menginginkan ubi rebus?" Tanya Toni memecahkan kesunyian yang tercipta diantara mereka berdua, semenjak mereka keluar dari ruangan Dokter tadi.
Saat itu, mereka sudah berada di dalam mobil yang tengah melaju dan membawa mereka pergi dari Rumah Sakit yang baru saja mereka kunjungi.
"Tidak..." Sahut Iffah menggeleng. Dahinya dibiarkan bersandar di kaca jendela samping kirinya. Pikirannya masih menerawang terhadap perkataan dokter yang menyinggung kondisi kehamilannya.
Bahkan, ketampanan suaminya pun kalah dalam pandangannya saat itu.
"Tapi aku ingin makanan yang sehat untuk calon bayi kita... Aku ingin melahirkannya, Sayang." Ujar Iffah dengan getir. Dia seakan meminta saat itu.
"Iya, aku tahu itu. Kita sama-sama meminta kepada-Nya, Sayang. Dia yang akan memberi izin untuk kita." Toni mengelus pelan pundak Iffah yang sedikit bergetar saat itu.
"Sekarang beri tahu aku, kamu mau makan apa?" Ulang Toni menanyai keinginan istrinya.
"Aku benar-benar hanya ingin makan ubi rebus..." Jawaban Iffah tetap sama. Ubi rebus. Entah apa yang membuat dia ingin memakan makanan itu, tapi dia sangat menginginkannya. Bahkan sedari siang.
"Baiklah, kita akan mencarinya sekarang." Toni menurut. Dia tahu, mungkin saat itu perkembangan yang terjadi pada calon bayinya cukup banyak di dalam rahim istrinya itu.
Semenjak dia tahu tentang kehamilan Kamelia karena ulahnya, dia banyak membaca tentang seputaran kehamilan. Sesuatu yang sangat dia sesali sepanjang hidupnya. Menjadi calon ayah, tetapi bukanlah sebagai seorang suami dari ibu yang mengandung bayinya kala itu.
Dia ingin tahu betapa sulitnya mengandung dan melahirkan bagi perempuan. Dia juga ingin merasakan bagaimana direpotkan oleh istri yang tengah mengidam. Sesuatu yang lucu, pikirnya.
Dan tanpa dia sadari, akhir-akhir itu dia telah mengalaminya. Keinginan Iffah yang selalu ada di dekatnya. Mual-mual karena bau bawang tempo hari, dan bahkan sekarangnya saja minta ubi rebus yang sangat sulit didapatinya disana.
Ah, coba saja ini di desa... ~ Keluh Toni ketika telah lelah berputar sedari tadi mencari ubi rebus.
Bahkan waktu Maghrib dan Isya pun mereka singgahi di perjalanan.
"Sayang..." Panggil Toni.
"Hmm..." Sahut Iffah kecil.
__ADS_1
"Bolehkah beli ubinya yang mentah saja? Nanti biar aku yang merebusnya di rumah." Tanya Toni meminta keringanan. Dia benar-benar lelah dan menyerah setelah berkeliling sedari tadi. Dia juga mengkhawatirkan kondisi istrinya saat itu.
"Bener? Kamu yang akan merebusnya?" Tanya Iffah bersemangat.
"Iya... Boleh?" Tanya Toni lagi.
"Boleh..." Sahut Iffah kegirangan. Memang itulah yang diingikannya saat itu. Apa-apa, harus suaminya sendiri.
*****
Mobil yang mereka tumpangi telah membawa Toni dan Iffah sampai ke rumah mereka, di kediaman Zulherman. Setelah turun dari mobil itu, Iffah berjalan cepat mendahului suaminya yang menenteng kresek kecil bewarna hitam.
Dia menampakkan wajah girang. Senyumnya merekah di bibir tipisnya, mengingat keinginannya untuk makan ubi rebus akan terpenuhi malam itu juga.
"Assalamu'alaikum…" Sapa Iffah ketika memasuki rumah.
Toni hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya, walaupun dia tahu bahwa Iffah hanya berusaha mengubur dalam rasa takut yang bersarang di dalam hatinya saat itu.
"Mamaaa…" Panggil Iffah seraya menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Chellin yang sudah berdiri menyambut kedatangan menantunya itu.
"Bagaimana hasilnya, Sayang? Dokter bilang apa?" Tanya Chellin tampak tidak sabaran menunggu kabar dari Iffah dan Toni.
"Mama benar-benar tidak sabar, ya?" Iffah melepas dirinya dari dari dalam pelukan Chellin. Dia seakan sengaja membuat mama mertuanya itu menunggu jawaban dari dirinya.
"Iya, Sayang. Sejak suamimu meminta izin sama mama tadi siang, mama sudah tidak sabar mengetehui hasilnya. Bukannya kalian perginya mendadak dan tiba-tiba?" Iffah kembali menjadi bingung mendengar penuturan mertuanya. Sesaat, dia menoleh kepada Toni yang sudah berdiri di belakangnya.
"Jadi beneran, cuma kamu yang meminta janji sama Dokter tadi? Dan memang bukan karena jadwal kita ke Dokter hari ini?" Tanya Iffah menatap lekat mata suaminya.
"Maaf, Sayang. Aku hanya tidak ingin kamu kecewa, jika hasilnya negatif lagi." Sahut Toni tidak terlalu menyesali tindakannya.
"Ishhh, ternyata kamu memang jago berakting." Umpat Iffah mendelikkan mata kearah suaminya yang masih pura-pura acuh.
__ADS_1
"Jadi bagaimana hasilnya, Kakak?" Giliran Ghali yang bertanya. Dia tampak kesal melihat kakak dan kakak iparnya itu sengaja membuat mereka menunggu.
"Alhamdulillah... Iffah positif hamil..."
Mata Chellin membulat. Dia begitu terkesiap mendengar jawaban dari putranya itu. Dengan segera, Chellin kembali memeluk Iffah dengan begitu erat.
"Makasih, Sayang. Ini sungguh kabar yang sangat menggembirakan untuk Mama." Ungkap Chellin sembari melepas kembali tubuh Iffah dari pelukannya.
Sebutir cairan bening menetes dari mata Iffah. Senyuman berat dipaksa merekah di bibirnya.
"Yuhuuu... Ghali bakal punya ponakan nih... Selamat kakak ipar..." Ucap Ghali terdengar riang.
"Thanks Brother..." Toni juga memaksakan senyumannya ketika melihat air mata Iffah jatuh.
"Sudah, sayang... Kamu istirahat sana. Bersih-bersih dulu. Sementara, aku akan rebus ubinya dulu." Perintah Toni dengan lembut.
Iffah mengangguk, dia segera berpamitan kepada Bobi, Chellin dan adiknya.
"Waaah... Suami siagaa." Puji Ghali menggoda kakak iparnya. Toni hanya tersenyum menyahuti guyonan adik iparnya itu.
Setelah Iffah benar-benar telah masuk ke dalam kamarnya, Toni ikut duduk bersama keluarganya disana.
"Ada apa, Ton? Kenapa wajah kamu tidak menggambarkan kebahagiaan sepenuhnya?" Pertanyaan Bobi membuat Ghali dan Chellin terkejut.
"Toni bahagia, Pa. Hanya saja, kami sedikit khawatir. Kehamilan Iffah sangat lemah dan beresiko. Sungguh tantangan yang berat bagi kami untuk menjaganya." Tutur Toni menjelaskan. Dia sudah pernah berjanji untuk selalu membagikan kepedihan kepada papa dan mamanya itu.
Chellin dan Ghali ternganga mendengar penuturan Toni mengenai kondisi kehamilan Iffah. Mereka mulai tampak khawatir setelah kebahagian menyelimuti hati mereka tadinya.
"Tidak hanya kami, tetapi kita semua. Kita akan memberikan yang terbaik untuk calon anggota baru di rumah ini, Nak. Jadi, kamu harus tetap semangat dan kuat. Sehingga Iffah lebih optimis menjalani masa-masa kehamilannya." Ujar Bobi begitu bijak. Lelaki paruh baya yang hanya memiliki sisi tulus di dalam hatinya. Penyayang, dan bahkan begitu peduli terhadap keluarganya.
Chellin dan Ghali akhirnya mengangguk membenarkan ucapan Bobi. Mereka tidak ingin menampakkan kesedihan pula di depan Toni. Karena mereka tahu, semua itu terlalu berat bagi Toni.
__ADS_1