TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
PERNIKAHAN


__ADS_3

Darah Iffah berdesir hebat ketika kaki kanannya menapaki masjid tempat pernikahannya dengan Toni akan dilangsungkan. Sesuatu baru saja terjadi, nafasnya menderu hebat menyaksikan keramaian di dalamnya. Matanya


begitu terpana menatap Antoni yang telah menunggunya dengan perasaan yang berbeda pula di dalam hatinya.


Namun Antoni masih saja mempersiapkan senyuman termanis yang dimilikinya untuk perempuan yang begitu istimewa baginya.


Kenapa rasanya aku seperti sudah pernah berada di situasi ini? Kenapa rasanyna ini bukan untuk yang pertama kalinya bagiku?


Iffah tidak melepaskan tangan Ghali dari genggamannya. Kakinya terus melangkah mendekati seseorang yang ingin dilihatnya dari dekat.


“Apa semuanya baik-baik saja, kak?” Ghali berbisik di telinganya menambah kecepatan debar jantungnya.


“Entahlah, Dek. Kakak sendiri bahkan tidak tau.” Jawabnya tidak yakin dan kembali dalam keraguan.


“Maasya Allah, cantik sekali calon menantu mama.” Chellin menghentikan langkah kaki Iffah yang hendak mendapati posisi lelaki yang akan menjadi suaminya itu. Dia menciumi kening Iffah dan membelai lembut pipi gadis


yang akan dinilkahi putra angkatnya.


Semua orang menatap takjub kepada Iffah dan sesekali berdecak kagum akan kecantika alami yang dimiliki gadis itu.


Chellin menarik lembut tangan Iffah kearah Toni yang sudah duduk menantikan calon istrinya. Iffah duduk bersimpuh di sisi kiri Toni, dan kepala mereka ditutupi satu selendang oleh Chellin.


Tangan Iffah tiba-tiba basah karena keringat, seluruh tubuhnya seakan terguncang. Ijab telah jatuh, seiring qabul dari Tonipun disampaikannya dengan mendayu penuh ketulusan. Sekelabat bayangan-bayangan dirinya berpakaian penganting bersama seorang lelaki lain menari di benaknya.

__ADS_1


Berkali-kali Iffah memejamkan matanya, namun bayangan itu tetap muncul dan mengganggunya. Nafasnya mulai tersengal dalam bisiknya yang tidak mungkin di dengar oleh siapapun. Air mata Iffahpun menderas dan lama kelamaan semakin terasa sakit baginya.


Jemarinya yang ramping meremas dengan begitu kuat kedua lututnya. Sakit, sangat sakit yang dirasakan Iffah kala itu. Tapi bahkan dirinya tidak mampu mendefenisikan rasa sakitnya.


“Sah…”


Kata itu terdengar jelas di telinga Iffah, namun rasa sakitnya tak kunjung hilang. Dia bangkit dari duduknya sambil memegangi kepalanya yang serasa ingin pecah saat itu. Kecelakaan yang menimpa dirinya lebih dari setahun lalu muncul hanya dengan sekelabat dan hilang kembali.


Namun Iffah begitu gigih, dia ingin terus mengingatnya hingga benar-benar tampak nyata oleh dirinya sendiri.


“Arjunaaa… “ Bisiknya yang samar-samar terdengar oleh Toni seorang. Toni terkejut dan menoleh dengan perlahan kearah Iffah yang telah berdiri di samping kirinya.


Semua mata kembali tertuju kepada Iffah. Raut wajah mereka yang mulanya berbinar, tiba-tiba berubah menegang dan panik.


Suasana yang mulanya tenang, mendadak heboh seketika. Terdengar hiruk pikuk diantara mereka yang mencemaskan mempelai perempuan itu.


“Kak Iffah…” Seru Ghali, ia segera mendekati Iffah yang berada dalam dekapan lengan Toni yang kekar.


“Iffaaah…” Pekik keluarga Toni yang ikut mengerumuni Iffah.


“Toni… Bawa Iffah ke Rumah Sakit segera, Nak.” Perintah Neneknya dengan cemas.


Toni yang panik dan hampir hilang akal segera mengangguk dan mengangkat tubuh Iffah yang berbalut gaun itu keluar dari Masjid.

__ADS_1


Ghali dan Kemil mengikuti dari belakang, Ghali mengambil posisi sopir di mobil milik Toni untuk membawa kakaknya ke Rumah Sakit.


“Iffah, bangunlah… Iffah, jangan membuatku cemas seperti ini.” Pinta Toni sembari menggoyangkan tubuh Iffah yang berada dalam dekapannya selama dalam perjalanan.


Kemil menatap iba wajah Toni yang terlihat cemas dan mengkhawatirkan gadis yang baru saja dinikahinya. Air mata ketulusan berjatuhan dari pelupuk mata Toni yang tadinya hanya sekedar menelaga dan sedikit memerah.


Apa kamu benar-benar sudah melupakan Kamel, Ton? Aku bahkan mellihat kamu begitu berbahagia di hari pernikahanmu ini, meski sedari tadi pagi kamu menyembunyikan sesuatu kecemasan di balik wajahmu itu.


Bukan apa-apa Toni, aku sepupumu yang juga tidak sanggup melihat kamu terluka. Kendatipun begitu, aku akan selalu mendo’akan yang terbaik untukmu dan kebahagiaanmu.


Yaa Allah,, jangan terlalu banyak mengujinya. Dia telah banyak merasakan penderitaan selama ini yang dia yakini sebagai balasan dari perbuatannya.


Aku dan keluargaku, beserta Kamelku telah memaafkannya. Aku mohon ampuni dia Yaa Allah.


Mata Kemil ikut memerah menyaksikan bagaimana cemasnya Toni saat itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2