
Toni terbangun di waktu adzan shubuh berkumandangan, terdengar dari masjid yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Dia merasa tangan kanan dan dahinya seperti menumpu sebuah beban. Tangan kirinya mencoba menggapai apa yang ada di dahinya saat itu.
Lembab?.~ Gumamnya seraya mengangkat sapu tangan yang digunakan Iffah semalam untuk mengompres dahinya. A-apa ini?~ Toni sedikit terkejut karena melihat sapu tangan yang diraihnya dari dahinya itu.
Toni mencoba bangkit, namun dia tersadar tangan kanannya masih terasa begitu berat saat itu.
“Iffah…” Serunya dengan suara yang berbisik karena dia menemukan Iffah masih tertidur disana dengan berbantalkan lengannya.
Dari sini, aku mulai mengerti arti kesepian yang sesungguhnya.~ Toni hendak membelai kepala Iffah yang masih terlelap dalam duduknya di samping Toni. Namun, Toni dengan segera mengurungkan niatnya kembali untuk itu.
Entah tatapan apa yang dimilikinya untuk Iffah. Dia tersenyum, namun juga menitikkan air mata. Dengan perlahan Toni menarik lengannya dari himpitan kepala istrinya. Toni mengangkat tubuh Iffah yang masih terlelap dalam tidurnya yang nyenyak.
Apa semalam aku sangat merepotkan dirimu? Kamu terlihat lelah sekarang.~ Jemari rampingnya menyusuri kepala Iffah yang masih tertutup jilbab dengan lembut.
Meski kamu berada dekat, tetapi hatiku masih saja merasakan rindu. Inikah arti dari kesepian itu? Rasa takut jika kamu akan jauh. Atau mungkinkah ini pertanda bahwasanya aku begitu serakah?~ Semua praduga menjadi
bahan pertimbangan di benaknya. Namun, dia tetap tidak akan mampu menjawabnya sampai mereka berdua saling terbuka dan mengungkapkan isi hati masing-masing.
*****
__ADS_1
Iffah terbangun, dia bangkit dengan segera ketika mendapati dirinya sudah berada di atas tempat tidur kembali. Iffah menoleh kearah sofa untuk mencari keberadaan Toni, namun sofa itu telah kosong.
Antoni kemana?~ Gumamnya seraya turun dan berjalan mendekati sofa untuk memastikan penglihatannya.
Yaa ampun, sudah pukul setengah delapan. Apa mungkin Antoni sudah berangkat ke kantor ya? Tapi panasnya semalam begitu tinggi. Apa dia baik-baik saja?~ Berbagai pertanyaan mengganggu pikiran Iffah saat itu.
Ya, semenjak dia mengenal Iffah lebih dekat, Toni mengetahui waktu libur Iffah shalat. Dan dia tau hari itu Iffah sedang masa libur, makanya dia membiarkan istrinya itu beristirahat karena wajah Iffah begitu jelas tampak
kelelahan.
“Selamat pagi, sayang.” Sapa Chellin mulai menampakkan senyumannya di pagi itu ketika melihat Iffah keluar dari kamar putranya.
“Sudah, sayang. Dia sangat pagi sekali berangkatnya, katanya ada pertemuan dengan klien jam delapan nanti.” Chellin menjelaskan dengan begitu yakin terhadap Iffah yang masih tampak kebingungan.
“Apa Antoni baik-baik saja, Bi?.” Iffah terlihat cemas karena mengingat semalam suaminya itu demam tinggi.
“Kelihatannya dia baik, Iffah. Kenapa memangnya, Nak?” Kening Chellin mengkerut menelusuri wajah cemas Iffah.
“Sebenarnya semalam Antoni demam tinggi, Bi. Dia sempat mengigau beberapa kali. Iffah khawatir saja demamnya semakin menjadi.” Tutur Iffah menjelaskan kondisi Toni terakhir kali dia sadar dan menemani suaminya itu malam tadi.
__ADS_1
“Apa iya, Nak? Mama lihat Toni baik-baik saja, kok. Bahkan jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Dan itulah hal yang membuat Mama senang hari ini.” Tutur Chellin seraya mengapit kedua pipi Iffah yang masih bingung. “Kamu tidak usah cemas, Toni baik-baik saja kok.” Chellin menatap Iffah seraya memberi keyakinan kepada menantunya itu melalui tatapannya yang teduh dan menghangatkan.
“Iya, Bi.”
“Mama…” Potong Chellin cepat, seakan meminta.
“Oh, hmm Ma.” Meski belum terbiasa, namun Iffah tetap mencobanya agar mama angkat suaminya itu tidak kecewa. Chellin tersenyum mendengar panggilan Iffah yang dianggapnya begitu manis untuknya.
“Ya sudah, sayang. Kamu sarapan sana. Toni tadi juga titip pesan sama Mama, katanya kamu tidak usah
ke kantor dulu. Dan jangan tanya kenapa, karena mama juga tidak tau jawabannya. Nanti kamu Tanya saja kepada suamimu sendiri ya sayang.” Chellin beranjak pergi meninggalkan Iffah yang terpaksa dibuat mengerti olehnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.