TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
KASIHNYA SEPANJANG MASA


__ADS_3

"Assalamu'alaikum..." Sapa Toni ketika memasuki kamarnya. Di tangannya terdapat sepiring ubi rebus yang telah dipotong-potong menjadi beberapa bagian.


"Wa'alaikumussalam..." Sahut Iffah begitu bersemangat. Dengan tergesa-gesa, dia melangkah menuju ke ambang pintu kamar mereka.


"Yeee ubi rebuuus..." Serunya.


"Sayang... Pelan-pelan. Kamu tidak perlu mengejarnya sampai kesini. Aku akan membawakannya untukmu." Tutur Toni dengan lembut.


"Maaf, Sayang. Aku sudah tidak sabaran." Ucap Iffah merasa bersalah. Rasa inginnya terhadap ubi rebus membuat dirinya lupa bahwa dia tengah hamil saat itu.


Aroma ubi rebus yang menyerbak keluar bersama asap dari ubi bewarna keoren-orenan itu, sehingga hidung Iffah terpedaya olehnya. Rasa sabarnya hilang seketika.


"Ya sudah, ayo kita duduk di sofa." Ajak Toni sembari merangkul bahu istrinya. "Mau aku suapi?".


Iffah mengangguk antusias.


"Bismillah..." Desir Toni dan Iffah ketika satu potong kecil ubi rebus yang telah dingin hendak masuk ke dalam mulut Iffah.


"Hmmm... Kenapa bisa seenak ini jika kamu yang merebusnya, Sayang?" Ungkap Iffah sambil mengunyah ubi pertama yang masuk ke dalam mulutnya. Matanya berkaca-kaca menikmati makanan yang seperti bertahun-tahun dia inginkan. Begitu lahap dan menghayati.


Masya Allah... Beginilah rasanya melayani istri yang tengah mengidam. Sederhana, tapi penuh dengan tantangan...


"Sayang..."


"Hmm?"


"Ubinya masih ada lagi?" Tanya Iffah ketika mendapati dua potong ubi yang terakhir.


"Masih. Tapi aku cuma merebusnya segini saja, Sayang." Ujar Toni.


"Loh, kenapa?" Sungut Iffah.

__ADS_1


"Kamu bukannya hanya ingin?" Toni berusaha menenangkan Iffah.


"Iya, tapi aku masih lapar."


"Nanti aku ambilkan makanan sehat lainnya. Untuk ubi rebusnya, segini dulu ya Sayang. Perempuan hamil baik makan ubi rebus, karena banyak manfaatnya. Tapi juga tidak boleh terlalu berlebihan, karena juga terdapat efek sampingnya." Tutur Toni. Dia benar-benar paham tentang seputaran perempuan hamil.


"Apa begitu?" Tanya Iffah terkejut.


"Iya. Ubi mengandung vitamin A dan C. Jadi, jika ibu hamil terlalu berlebihan dalam mengkonsumsinya, maka dapat menyebabkan kondisi Hypervitaminosis A. Dan itu sangat berbahaya untuk kamu dan anak kita, Sayang." Tutur Toni meyakinkan Iffah.


"Hmm" Iffah mangut-mangut. "Kamu lebih banyak mengerti daripada aku... Maafin aku ya, Sayang."


"Aku pernah membacanya, dan aku akan terus mencari tahu apa saja yang dibutuhkan oleh anak kita dan kamu. Aku akan perjuangkan kelahiran anak kita, Sayang. Kamu mau, bukan? Sama-sama berjuang denganku." Pinta Toni berharap. Berharap Iffah terus semangat menjalani kondisinya saat itu.


Iffah mengangguk, dia begitu terharu dengan sikap suaminya. Perhatian dari Toni membuat Iffah sadar, bahwa tidak hanya dia yang terpuruk. Tetapi Toni jauh lebih terpuruk saat itu. Namun, lelaki halalnya itu lebih memilih untuk berjuang bersama dirinya.


*****


"Mama memikirkan apa malam-malam begini?" Bobi datang merangkul tubuh Chellin yang tengah berdiri menatap kosong kearah luar jendela kamar mereka.


"Mama hanya kepikiran dengan Toni, Pa." Sahutnya Getir. Satu butir cairan bening menggelitik pipinya yang tirus. Kehangatan yang diberikan suaminya, mampu mencairkan perasaannya saat itu.


"Kapan putra kita akan merasakan kebahagiaan ya, Pa." Tenggorokannya tersekat. Terasa pedih ketika dia menanyakan hal itu terhadap suaminya.


"Mama percaya dengan kitab suci Al-Qur'an, bukan?" Tanya Bobi setengah berbisik di ceruk leher istrinya itu.


Chellin diam... Dia percaya. Hanya saja dia malu untuk menjawabnya. Dia bagai merasa ditampar berkali-kali jika mengingat janji Yang Maha Kuasa.


"Innama'al Usri Yusro..." Bisik Bobi mengetarkan jiwa Chellin.


Dia bukan ibu yang sebenarnya. Tapi sesosok ibu yang sangat menyayangi Toninya. Dia manusia punya kesabaran, tapi dia menentukan batas kesabarannya itu.

__ADS_1


Bisikan Bobi di telinganya melebihi sebuah tamparan baginya, tapi bahkan sebuah pedang yang menghunus jantung hatinya.


Menyesal...


Ya, dia begitu menyesal telah meragukan janji Rabb-nya.


Air matanya menderas. Rasa takutnya muncul lebih banyak dari rasa cemasnya terhadap Toni.


Dia terisak, tubuhnya bergetar hebat seketika.


Bobi membalikkan tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya. Dan membenamkan wajah Chellin ke dadanya yang masih terbilang bidang di usianya yang mulai senja.


"Istriku, perempuan terbaik yang aku kenal setelah ibuku. Meski aku tidak pernah tahu dimana ibuku, seperti apa dirinya. Tapi dia telah berani melahirkan aku ke dunia. Berkatnya, aku bisa bertemu dengan dirimu.


Sedangkan istriku, dia tidak pernah melahirkan putranya. Tapi dia sangat mencintai putranya itu. Tidak peduli apa pun, rasa kasihnya sepanjang masa.


Dia begitu tulus untuk putranya. Mengkhawatirkan melebihi untuk dirinya sendiri. Aku beruntung memilikimu, Sayang.


Dan Toni, juga beruntung memiliki Mama seperti dirimu. Dengan adanya kamu, penderitaan yang menghampirinya sepanjang hari, serasa tak bermakna baginya.


Kamu adalah obat untuknya, Sayang. Kamu penangkal segala deritanya. Sesungguhnya, kamu adalah salah satu kemudahan yang diberi Allah untuk dirinya.


Jadi, aku mohon agar kamu tidak lagi bersedih di depannya ataupun di belakangnya." pinta Bobi membelai lembut kepala istrinya itu.


"Terimakasih, Sayang. Kamu juga papa terbaik untuk Toni kita. Dan untuk Iffah beserta adiknya." Bisik Chellin di sela-sela tangisnya. Hatinya mulai terasa tenang kembali.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2