TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
MENJELANG PERNIKAHAN


__ADS_3

“Apa kamu bahagia, Nak?.” Chellin datang menghampiri Toni yang masih berada di pelataran belakang rumahnya.


Toni menghela nafasnya dengan begitu serakah, lalu tersenyum menyambut kedatangan wanita paruh baya yang baru-baru itu di panggilinya mama.


“Mama, bolehkah aku jujur kepada mama?” Toni meraih tangan kanan Chellin dan dipermainkannya dengan begitu manja.


“Hmm? Katakan…” Pinta Chellin dengan tersenyum sembari mengelus lembut pipi Toni.


“Sebenarnya setiap kali Toni memakai kemeja panjang, Toni menyingsingnya bukan karena ingin terlihat keren. Tetapi karena Toni tidak bisa mengapit kancing lengannya.” Tutur Toni dengan wajah yang memerah karena malu. “Toni bahkan tidak bisa melakukan apa-apa tanpa papa.”


“Maukah mama melakukannya sekali ini untuk Toni?.” Pintanya berharap.


Chellin tersenyum dan kemudian meraih lengan Toni yang masih mengenggam tangan kanannya. “Bahkan mama berharap bukan untuk sekali ini saja, Nak. Tapi, sebentar lagi Iffah akan melakukan segala sesuatunya untukmu.


Menyiapkan semua keperluanmu. Hmmm Mama jadi iri.”


“Meski kita bertemu di usiamu yang telah dewasa, tapi bahkan, mama serasa pernah melahirkanmu di kehidupan sebelumnya. Terimakasih sayang, sudah memberi mama kesempatan menjadi seorang ibu.”


Setelah kancing kedua lengan bajunya terpasang, Toni meraih tubuh Chellin dan mendekapnya dengan begitu erat.  “Terimakasih kembali mama…” Bisiknya seraya mendaratkan satu kecupan ke kepala mamanya itu.


“Meski setelah menikahpun, aku tidak akan melepaskan putra kita pergi dari sini. Jadi berhentilah mendramatis.” Chellin dan Toni terkejut mendengar suara Bobi yang tiba-tiba menghampiri mereka.


Chellin mengusap tipis air mata yang berlinangan di pelupuk matanya itu.


“Kita hanya akan menambah anggota keluarga, Chellin. Jangan menangis.” Ujarnya lagi. Toni melayangkan senyumannya yang menyeringai melihat pasangan suami istri yang menjadi orang tuanya itu.


“Kamu ini, aku hanya menangis bahagia. Putra kita akan menikah hari ini, sayang.” Tegas Chellin seraya melayangkan cubitan mesra ke pinggang Bobi.

__ADS_1


“Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, Nak.” Ujar Bobi seraya memeluk Toni. Setetes air bening jatuh dari pelupuk matanya, namun dengan segera dia menepisnya kembali.


“Terimakasih, pa.” Ucap Toni dan menikmati pelukan Bobi yang sudah menjadi ayah baginya. Toni bagai merasa berada dalam pelukan Bram, papa kandungnya. Yang telah banyak mengorban kehidupan untuk dirinya dan banyak


orang terkasihnya.


“Nenek mana Ma?” Toni teringat akan Neneknya yang tidak terlihat sedari tadi.


“Tadi Mama ke kamar Nenek, Nenek sedikit tidak enak badan sayang.” Toni terlihat khawatir mendengar penuturan Chellin “Pergilah temui beliau, setelah itu temui keluargamu dari desa. Mereka sudah sampai sedari subuh.”


“Oh, iya Ma. Tapi Toni mau ngajak Milka bertemu Nenek, Nenek pasti juga merindukan Milka.” Ujar Toni seraya berlalu meninggalkan Bobi dan Chellin.


*****


“Assalamu’alaikum…” Toni berdiri di depan pintu pavilium samping rumahnya yang dihuni sementara oleh keluarganya dari desa.


“Pappaaaah” Milka berlari menghamburkan tubuh mungilnya kepelukan Toni yang sudah berjongkok menantikan dirinya.


“Hmmmm si cantik papa sudah datang rupanya.” Toni menghujani kepala Milka dengan kecupannya seraya mendekat kearah keluarganya itu.


“Alhamdulillah, terimakasih om Idris, om Agung, kak Adan... Dan kamu juga Kemil. Kalian sudah mau menyempatkan diri untuk datang ke acara saya.” Ucapnya terharu.


“Ah, kamu tidak perlu berterimakasih Ton. Kita ini kan keluarga…” Sahut Agung cepat.


“Iya, betul itu Ton. Ini adalah hari besar untukmu. Dan kami ingin menyaksikan sendiri kebahagiaan yang terpancar di wajahmu itu.” Timpal Ramdani ikut menyahuti.


“Saya jadi terharu…” Toni terlihat berbinar menapaki ketulusan yang tersirat di setiap mata keluarganya.

__ADS_1


“Apa kamu bahagia, Nak?” Maya duduk mendekati Toni dan mengelus lembut pundak sahabat putrinya itu.


“Pertanyaan Tante sama dengan pertanyaan Mama Chellin tadi. Toni bahagia Tan, tapi entah kenapa ada perasaan cemas di hati Toni saat ini.” Ujar Toni seraya menundukkan kepalanya.


“Itu hal yang biasa dirasakan calon pengantin sebelum menikah, Ton. Mungkin kamu hanya gugup saja.” Rahmah ikut menenangkan keponakan suaminya itu.


“Mudah-mudahan saja ya, Tan… Soalnya cemas Toni terlalu berlebihan sedari malam tadi. Bahkan Toni sulit tidur untu beberapa malam ini.” Ungkap Toni sembari membuang kasar nafasnya.


“Kata Mama Chellin, Nenek sedang tidak enak badan Om. Toni mau menemui Nenek dulu bersama Milka. Beliau pasti merindukan Milka juga.”


“Sejak kapan Nenek sakit Ton?” Tanya Kemil ikut khawatir.


“Semalam masih baik-baik saja kok Kemil. Tadi saja Mama Chellin mengatakannya.” Ujar Toni.


“Ya sudah, pergilah temui Nenekmu dahulu. Nanti kami akan menyusulmu kesana. Kami juga ingin menemui beliau.” Ujar Agung seraya menyuruh Toni agar bersegera.


“Baiklah Om. Toni kesana dulu.” Sahutnya seraya menggendong Milka keluar dari pavilium itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2