
Sudah tiga hari semenjak kepergian nenek Toni, Rumah mewah itu pun telah mulai tampak sepi kembali. Keluarga Toni dari desa juga telah berangkat tadi paginya.
Dan semenjak Milkanya pergi, itulah terakhir kalinya dia tersenyum. Dia kembali murung dan bermuram durja. Iffah memang masih disana, hanya saja mereka tidak saling bicara. Toni lebih banyak menghabiskan waktunya
di ruang kerjanya. Disanapun dia hanya melamun sepanjang hari tanpa mengerjakan apa-apa.
Chellin juga tampak masih bersedih. Bagaimana tidak? Dialah yang telah merawat nenek Toni semenjak ibunya sendiri meninggal kala itu. Dan pada waktu itupun Toni belum terlahir ke dunia. Jadi dia sudah menganggap beliau
sebagai ibu kandungnya sendiri.
Bobi tau akan hal itu, kesedihannya sama dengan kesedihan Toni dan Chellin. Hanya saja dia lebih tau cara menyembunyikan kesedihannya agar semua tidak terlihat kelam dan masih tersisa sedikit cahaya darinya.
“Chellin, sampai kapan kamu akan bersedih seperti ini, sayang?” Bobi mendekati Chellin yang masih berpangku lutut di atas tempat tidur mereka malam itu.
Dia menarik dagu Chellin dan menghadapkan wajah Chellin yang tampak menyembab kearahnya.
“Kamu tidak mengerti bagaimana rasanya kehilangan ibu setelah kedua kalinya, sayang.” Ujar Chelllin semakin bersedih.
__ADS_1
“Ya, aku memang tidak mengerti. Karena aku memang tidak pernah merasakan punya ibu kandung, sayang. Tapi ibu, sudah seperti ibu juga bagiku selama ini. Aku menyayangi beliau sama sepertinya kak Bram menyayangi
beliau. Apa yang tidak mereka berikan kepadaku dengan kasih sayang dan ketulusan? Awalnya aku hanya menginginkan kamu, kemudian mereka juga memberiku kasih sayang sebagaimana kepada anak kandung mereka sendiri. Aku juga merasakan kasih sayang seorang saudara dari Kak Bram.
Dan sekarang, bahkan mereka memberiku Toni. Aku juga kehilangan, Chellin. Sangat kehilangan.” Sesuatu telah terjadi di dalam hati Bobi. Dia tak mampu lagi menghindar dari kesedihannya. Kali itu air matanya berjatuhan dengan deras.
“Maafkan aku, Bobi. Aku salah, aku benar-benar salah.” Chellin tampak menyesali perkataannya yang tidak sengaja telah menyinggung perasaan suaminya sendiri.
“Saat ini, seharusnya kita tenangkan Toni. Dia sungguh terluka, dan sangat tak berdaya untuk menjalani kehidupannya. Dia baru saja bertemu ibu, tapi allah dengan begitu cepat pula menjemput ibu.” Bobi membenamkan
wajah istrinya ke dalam dekapannya. Dia tau kesedihan lelaki itu jauh lebih berat bagi istrinya saat itu.
“Aku hanya belum siap bertemu Toni saat ini sayang. Aku tau, saat ini dia masih terluka. Dan air matanya hanya akan membuatku semakin lemah.”Isak Chellin mulai berhenti. Dia terbayang bagaimana kala itu Toni butuh waktu sendiri setelah kepergian papanya, Bram.
Aku tidak tau harus tersenyum atau menangis menatap taqdirku.
Taqdirku seakan tidak habis menghukum perasaanku. Akankah aku bisa melalui semua ini?
Aku fikir semua ini semudah melepas oblong dari tubuhku, tetapi tidak, semua terasa begitu menyakitkan. Ini juga bukan seperti uji nyali di tv-tv, yang apabila tidak lagi kuat dan ingin menyerah, aku hanya tinggal melambaikan tanganku ke kamera.
Oh waktu… Jika bukan karena Milkaku yang cantik, mungkin aku sudah memintamu kembali ke masa itu. Semua karena masa laluku yang buruk.
__ADS_1
Aku seperti anak tidak terdidik, padahal papa begitu mendidikku.
Bukan salah papa membesarkan, tapi salahku yang tidak tau diri. Tidak seharusnya aku berbuat sesuka dan sekenaku, sekarang aku merasakan akibatnya. Aku berangsur-angsur ditinggal orang-orang yang aku cintai.
Iffah, pasti setelah ini juga akan meninggalkan diriku.
Aku harus belajar hidup tanpanya, meski dia saat ini ada disisiku.
Toni menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya malam itu. Dia bahkan tidak sadar bahwa Iffah menantikan kehadiran dirinya di kamarnya.
Mereka terlalu asik dengan diam mereka masing-masing, hingga mereka tidak tau bahwa hati mereka saling merindukan.
Hingga mereka tidak menyadari, bahwa diri mereka sama-sama merasa kesepian.
.
.
.
.
__ADS_1
.