
"Apa kesalahan ibu kandungku terhadapmu, Ibu? Kenapa Ibu membencinya?" Iffah benar-benar terlihat pasrah. Ruangan sempit dan berantakan itu membuat dirinya merasa sesak. Cahaya remang-remang yang diciptakan lampu lima watt yang bergelantungan di atas kepalanya, membuat rasa takut Iffah semakin menjadi-jadi.
Ditambah lagi, ibu tirinya itu memainkan sebuah pisau lipat victorinox di tangannya.
Yaa Allah... Hapuskanlah rasa takut di dalam diriku, meski sesuatu hal buruk pun benar-benar akan terjadi nantinya.
Antoni... Maaf, jika aku tidak bisa berjuang untuk bayi kita dan untuk diriku sendiri.
Ibu tiri Iffah hanya menyeringai. Kebencian yang plus-plus tertanam di hatinya sebagai dendam terhadap ibu kandung Iffah. Dan rasa bencinya itu berimbas kepada Iffah sendiri.
Dia semakin terlihat senang ketika menapaki ketakutan yang terpancar di wajah Iffah.
"Rasanya tidak adil jika saya tidak memberitahumu, apa dan kenapa aku membencimu...
Berhubung karena pisau ini akan mencabik-cabik tubuhmu, maka saya akan memberitahukan apa pun yang membuat saya begitu sangat membenci ibumu selama ini. Agar kamu tidak mati dalam kepenasaranan." Seringai penuh kemenangan terpancar di wajah Ridha.
Dia duduk di sebuah kursi kayu kecil yang memiliki sandaran berjarak dua meter dari hadapan Iffah.
"Dulu, sebelum ibumu dinikahi oleh ayahmu. Aku sudah pernah menjalin hubungan dengan ayahmu itu. Dan kami saling mencintai kala itu." Ridha mulai fokus untuk bercerita.
"Tapi ibumu begitu licik, dia menggunakan penyakitnya untuk mendapatkan ayahmu.
Dan pada akhirnya pun, ketika melahirkan kamu ibumu itu meninggal." Ridha, ibu tiri Iffah kembali tersenyum. Tetapi kali ini begitu pias.
"Saya berusaha menerimamu sebagai anak tiri saya. Saya membesarkanmu dengan kasih sayang, meskipun saya akhirnya memiliki Ghali dari pernikahan kami. Pernikahan kedua ayahmu denganku.
Tapi apa? Saya bahkan tidak mendapatkan cintanya lagi.
Harusnya saya menyesal telah menunggu ayahmu. Berharap cintanya masih untukku, tetapi taqdir mempermainkan perasaanku. Lelahku menunggunya tidak dihargai sama sekali." Dia kembali tersenyum. Dan kali ini bercampur dengan kesedihan.
"Kamu masih ingat dengan tempat ini, bukan?" Tanyanya seraya berdiri dan melangkah mendekati Iffah.
"Tempat rasa sakitku dan rasa benci terhadapmu tumbuh secara bersamaan di dalam hatiku." Pikirannya melayang pada kejadian yang hampir dua puluh tahunan lalu.
__ADS_1
Flashback On.
Kala itu, Iffah dan Ghali masih anak-anak. Iffah sendiri masih berusia tujuh tahunan, sedangkan Ghali berusia lima tahunan.
Mereka tengah diasikkan bermain di pelataran belakang Villa milik Ridha.
Sedangkan Ridha bersama ayah mereka tengah berada di dalam sebuah kamar.
PYAAAAR
"Apa-apaan kamu Ridha?" Ayah mereka mendekati Ridha dan memunguti pecahan-pecahan kaca dari bingkai Foto Ibu kandung Iffah bersama Ayahnya.
Mendengar keributan di dalam kamar orang tua mereka, Iffah dan Ghali segera berlari kesana.
"Kenapa kamu masih menyimpan fotomu bersama perempuan ****** itu?" Tanya Ridha memburansang.
PLAAAAKKK.
Sebuah tamparan yang membuat wajah Ridha tertoleh kearah Iffah. Wajahnya berubah bengis, dan tatapannya yang berapi-api penuh kebencian mengarah terhadap Iffah.
Tangan Ghali terlepas dari genggaman Iffah saat itu. Iffah mundur beberapa langkah dari posisinya yang sejajar dengan adik tirinya, karena ketakutan mendapati tatapan penuh dendam dari ibu sambungnya itu.
Ghali kebingungan ketika mendapati tangannya sudah terlepas dari genggaman Kakaknya.
Dia berusaha mendekati Iffah, namun Iffah yang merasa ketakutan segera berlari dari sana.
Ghali tetap berlari mengejar Iffah.
"Kenapa kamu menamparku? Bukankah itu kenyataannya?" Tanya Ridha melunak, namun hatinya begitu perih saat itu.
"Kenyataan apa?" Ayah Iffah berusaha menahan emosinya. Dia hendak membungkuk untuk memunguti foto mendiang istri pertamanya itu, ibu kandung Iffah. Namun, dengan cepat Ridha menahan lengannya.
"Kenyataan dia telah merebut kamu dariku, Akmal." Oktaf suaranya meninggi. Air mata Ridha mulai meleleh di pipinya.
__ADS_1
"Dia tidak merebutku darimu, Ridha. Mungkin, pernikahanku dengannya melukai hatimu. Dan memang, sebelumnya aku tidak mencintainya sama sekali. Tapi tiga tahun pernikahan kami. Dan tiga tahun itu pula waktu dirinya hidup bersamaku, aku bisa dengan perlahan mencintainya." Pengakuan suami yang dipanggilinya dengan sebutan Akmal itu, membuat hati dan jantungnya bagai diremas. Begitu menyakitkan.
"Semudah itukah kamu mengatakannya?" Suara Ridha kembali melunak. Air mata Ridha tak henti-hentinya mengalir dengan deras.
"Itulah kenyataannya, Ridha. Aku telah mencintai Wulan, meski itu sudah sangat terlambat bagiku." Ungkap Akmal tanpa menyesal.
"Lalu bagaimana denganku? Penantianku?" Ridha mempertanyakan haknya. Dia seakan berharap agar Akmal, suaminya itu menarik ucapannya lagi.
"Sebelum aku memutuskan untuk menikahi Wulan, aku telah berusaha mengakhiri hubungan kita dengan baik-baik, bukan? Dan aku sama sekali tidak pernah memintamu menungguku, Ridha. Bahkan, aku menerima tawaran orang tua Wulan untuk menikahinya, karena aku tau kamu meragukan aku kala itu." Tuduh Akmal.
Ridha tertegun sejenak, hatinya membenarkan ucapan Akmal.
"Tapi itu hanya kekhilafanku saja, Akmal." Elak Ridha berusaha membela dirinya.
"Tidak Ridha. Itu bukan khilaf, tapi itu namanya egois. Dan aku bisa mencintai Wulan, karena dia tidak seegois kamu." Ketus Akmal. Dia kembali membungkuk dan mengambil Foto Wulan yang berserakan di atas lantai bersama kepingan-kepingan kaca bingkai foto itu.
"Satu hal yang harus kamu tahu, Ridha. Kalau bukan karena permintaan Wulan, aku tidak akan pernah mau menikahimu bahkan hanya untuk berniat sekalipun. Karena, ada Wulan dalam diri putriku." Ungkap Akmal seraya pergi meninggalkan Ridha yang masih terpaku disana.
Ridha menjatuhkan dirinya. Berkali-kali dia memukul dadanya yang terasa sesak dan sakit saat itu.
Ucapan terakhir yang keluar dari mulut suaminya itu, menjadi pedoman bagi dirinya untuk membenci Iffah.
Setiap kali dia melihat Iffah, maka setiap kali itu pula dendam membara di dalam hatinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1