
Sudah tiga hari kepergian Milka. Toni dan keluarganya harus berangkat kembali ke kota. Semua keluarga sudah sedikit tenang meski duka masih menyelimuti diri mereka masing-masing. Toni berpamitan kepada semua keluarganya di kediaman Arayan itu. Namun sedari pagi, dia tidak melihat tanda-tanda Kemil dan Kamelia keluar dari kamar mereka.
Berkali-kali Toni menolehkan wajahnya kearah kamar yang dihuni sepupunya itu. Dia begitu berharap agara Kemil mau melepas kepergiannya bersama keluarganya ke kota. Tetapi tidak sekalipun ada tanda-tanda kalau Kemil maupun Kamelia akan keluar dari kamar itu. Bahkan untuk sarapan pagi saja, mereka tidak ikut.
Semua dari mereka bertanya-tanya, dan mereka juga merasa khawatir dengan keadaan Kamelia.
Sudah lewat dari pukul delapan, Toni memutuskan untuk berangkat tanpa memberitahukan kepada sepupunya itu. Dia juga merasa tidak enak jika harus memanggil pasangan suami istri yang dipikirnya enggan untuk menemui dirinya. Ditambah lagi ketika dia tau bahwa Kemil juga sangat terpukul atas
kepergian Milka.
“Om Idris, sepertinya Toni harus berangkat sekarang. Titip salam saja untuk Kamel dan Kemil ya Om.” Pamit Toni dengan berat hati.
“Apa sebaiknya Om panggil saja mereka, Ton? Mungkin mereka lupa, jika kamu akan berangkat hari ini.” Tutur Idris merasa tidak enak melihat keponakannya itu. Dia merasa iba melihat wajah Toni yang diliputi rasa
bersalah.
“Tidak usah Om. Mungkin Kemil dan Kamel belum bisa menemui Toni untuk sekarang. Lain kali Toni akan berkunjung kembali, Om.” Sahut Toni dengan suara yang memarau. Matanya memerah menahan kepedihan baru.
“Tapi, Ton.” Potong Idris semakin merasa tidak enak. Dia tau bagaimana perasaan Toni saat itu.
“Tidak apa-apa kok, Om.” Bantah Toni bersikeras tidak ingin mengganggu sepupunya itu. “Toni pamit ya, Om, Tante.” Pamitnnya seraya menyalami Idris dan Rahmah yang memandangnya dengan wajah prihatin. Iffah dan Ghali beserta orang tuanya mengikut. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa meski mereka akan tahu bahwa Toni akan bersedih kembali karenanya.
“Assalamu’alaikum…” Ucap mereka hampir bersamaan seraya melangkah keluar dari rumah itu.
“Wa’alaikumussalam…” Sahut Rahmah dan Idris bersamaan pula.
__ADS_1
“Toniiii…” Suara menggelegar terdengar menyerunya dari arah dalam rumah. Dengan segera, Toni menoleh kembali ke belakangnya. Senyuman kembali merekah di bibir Toni ketika mendapati Kemil setengah berlari menuju kearahnya. Sedangkan Kamelia menyusul di belakangnya dengan menggendong Cakra kecil mereka.
“Kemiil…” Sahut Toni seraya ikut mendekat. Semua dari mereka tampak menarik nafas lega.
“Begitukah kamu dengan sepupumu ini?” Kemil menampakkan wajah marahnya. “Pergi tanpa pamit terlebih dahulu denganku.” Rutuk Kemil lagi.
“Maaf Kemil, aku pikir kamu…” Toni tidak berani melanjutkan kata-katanya.
“Kamu pikir aku kenapa? Untung saja Cakra membangunkan Kamel tadi, kalau tidak…” Kemil menggantung ucapannya.
“Kalau tidak kenapa?” Toni menautkan alisnya, dia penasaran akan ancaman apa yang hendak diberikan Kemil terhadap dirinya.
“Aku minta kamu putar balik… Teganya…” Rutuk Kemil lagi.
Toni terkekeh mendengar ancaman Kemil. “Aku tidak akan mau, kamu yang akan aku suruh untuk menyusul kami.” Balas Toni dengan wajah yang mulai berbinar kembali. “Lagian siapa suruh bangun siang-siang seperti ini?.” Tambah Toni lagi.
“Wah, bagus sekali anak Papa. Sering-sering ya, Nak.” Gurau Toni menyapa si kecil Cakra di dalam gendongan Kamelia.
“Dia mungkin ingin digendong oleh kamu, Ton.” Ujar Kemil seraya meraih Cakra dari gendongan istrinya dan di berikannya kepada sepupunya itu.
“Iya kah, Nak?” Sambut Toni menggendong Cakra kecil yang merebakkan senyuman kepada dirinya. “Waduuh…” Toni memejamkan matanya seraya menolehkan pandangannya ke samping ketika mendapati lesung pipi Cakra yang begitu dalam. Dia seperti dimabuk angan-angan jika melihat lesung pipi di wajah tampan putra kecil sepupunya itu.
“Aduh gemesnyaaa…” Seru Iffah ikut mendekat kearah suaminya. “Boleh cium?” Pintanya begitu ingin.
Toni sedikit menangkupkan wajah Cakra ke wajah istrinya. Cakra lucu itu pun malah seakan pasrah ingin diciumi Iffah. Terdengar suaranya melengking ketika berada di dalam dekapan sepasang suami istri itu. Mereka terlihat bahagia dan seakan melupakan kesedihan mereka dalam beberapa waktu itu.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, Toni mengembalikan Cakra ke dalam gendongan Kemil. Dia sedikit merangkul bahu sepupunya itu untuk berpamitan. Dan kemudaian dia sedikit menyapa Kamelia dengan senyuman sungkannya.
“Jangan lupa untuk mengunjungi Milka lain kali, Ton. Dia pasti merindukanmu.” Pesan Kamelia datar.
Toni begitu terkesiap mendengar pesan Kamelia. Diam menampakkan senyuman bahagianya. “Pasti Kamel, terimakasih sudah mengingatkanku.” Sahut Toni dengan mata kembali berkaca-kaca. Dia terlihat semakin lega mendengar Kamel yang menampakkan sikap bersahabat terhadap dirinya.
“Iffah, hati-hati di jalan.” Pesan Kamelia kembali terhadap perempuan baik yang begitu istimewa di matanya itu. Iffah memeluk Kamelia dengan begitu senang. Dia senang melihat Kamelia yang semakin membaik meski hatinya masih berduka saat itu.
“Kamu baik-baik juga ya, Kamel. Lain kali ajak Cakra berkunjung.” Pintanya seraya melepas dekapannya dari tubuh Kamelia.
“Insya Allah, Iffah.” Kamel menyahuti permintaan Iffah dengan senyuman tanpa keterpaksaan di bibir tipisnya.
Ghali, Chellin dan Bobi juga ikut berpamitan kembali sebelum masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir disana.
Sepeninggal Toni dan keluarganya, Idris dan Rahmah masuk mendahului anak menantunya itu dengan membawa cucu mereka ke dalam rumah.
“Terimakasih, sayang.” Kemil merangkul bahu Kamelia dan mengecup lembut dahi lebar istrinya itu.
“Terimakasih kembali, sayang.” Kamelia membalas senyuman Kemil. Mereka masuk ke dalam rumah seakan tanpa beban seusain melepas Toni dan keluarganya.
.
.
.
__ADS_1
.
.