TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
MENJELANG PERNIKAHAN 2


__ADS_3

Terkadang debaran yang tidak biasa dirasakan oleh jantungmu bisa jadi sebuah firasat bagimu. Meski sifatnya adalah sebuah misteri yang tidak akan mampu kamu terka, tapi dia mampu membuatmu bertanya-tanya ‘ada apa?’


Jantung Toni bagai gemuruh ombak yang menerpa bebatuan pantai. Sebelum memasuki kamar Neneknya, Toni memeluk Milka dengan erat. Rasa pedih datang begitu saja tanpa permisi di bagian ulu hatinya.


“Maafkan papa, Nak. Papa hanya merindukanmu.” Ujar Toni menghapus kebingungan di wajah putri kecilnya. Toni menghela nafasnya yang terasa berat, dan kemudian melepaskannya kembali dengan begitu kasar.


Tok… Tok… Tok…


Toni mengetuk pintu kamar neneknya beberapa kali dari luar.


“Nenek, ini Toni. Bisakah Toni masuk sekarang?” Serunya ketika masih berdiri di depan pintu.


“Iya, Nak. Masuklah…” Sahutan Neneknya dari dalam terdengar memarau.


“Assalamu’alaikum Nenek…” Toni masuk dan mendekati Neneknya yang masih terbaring di atas tempat tidurnya.


“Wa’alaikumussalam, eh cicit nenek juga sudah datang rupanya. Kemarilah sayang.” Toni menurunkan Milka dari gendongannya dan mendudukinya di samping Nenek. “Hmm, Kenapa Nenek begitu merindukanmu sayang?”  Ujar nenek seraya mendekap erat tubuh gadis mungil itu.


Milka tertawa lebar ketika di gelitik Nenek papanya itu, untuk pertama kalinya Toni merasa terlalu bahagia melihat kedekatan putri kecilnya dengan Neneknya. Entah apa yang membuat matanya tampak berkaca-kaca menyaksikan kedekatan mereka.


“Nenek, kata mama nenek sakit?.” Toni meletakkan telapak tangannya di kening Nenek.


“Nenek tidak kenapa-kenapa, sayang. Nenek baik-baik saja. Hari ini adalah hari pernikahanmu dengan Iffah, Nenek hanya terlalu senang dengan hari ini.” Tutur Nenek lirih. “Nenek ingin duduk, sayang.” Pintanya.


Toni segera menolong Neneknya itu untuk bangkit dari pembaringannya. “Nenek, tubuh nenek kenapa sedingin ini? Apa kita ke Rumah Sakit dulu?” Toni tampak semakin khawatir ketika dia merasakan sentuhan tubuh neneknya itu.

__ADS_1


“Tidak, sayang. Kita itu mesti ke Masjid, acara ijab Qabul kamu akan dimulai pukul Sembilan ini kan, Nak?.” Elak Nenek dengan begitu lemah.


“Tapi Nek, masih ada waktu kok.” Toni masih belum tenang dan tambah khawatir dengan kondisi Neneknya yang sedikit memucat.


“Toni… Nenek sungguh tidak apa-apa. Nenek sudah tidak sabaran menunggu acara pernikahanmu dengan Iffah, Nak. Nenek berharap dia akan menjaga kamu sepanjang hidupnya, dan kamupun juga begitu.”


“Entah mengapa Toni ingin menangis saat ini, Nek.” Toni merasakan kepedihan di matanya yang tampak memerah dan berkaca-kaca.


“Kamu boleh menangis, tapi kesinilah.” Nenek tersenyum sembari menepuk-nepuk bahunya sendiri.


Toni segera menghamburkan wajahnya ke bahu Neneknya dan menangis sejadi-jadinya disana. Milka kecil terlihat bingung dengan situasi yang ada. Dia bergerak dan berjalan kearah papanya di atas tempat tidur itu.


“Napa papa naniis…” Serunya seraya bergelayut di leher papanya. Dia begitu polos dan tidak mengerti saat itu apa yang dirasakan Toni.


“Toni hanya ingin Nenek.” Sungutnya manja.


“Iya, iya. Nenek tau itu. Kamu akan menikah, Nak. Wajar kamu memiliki perasaan seperti itu.” Ujar Neneknya seraya mengelus lembut pipi Toni. “Sayang, apa kamu masih ingat? Waktu itu Nenek menjanjikan hadiah untuk Iffah.”


“Iya, Nek. Toni masih ingat. Kenapa Nek?” Tanya Toni seraya menghapus sisa-sisa air matanya.


“Bisakah kamu memberikannya kepada Iffah? Nenek hanya takut tidak sempat. Sebentar lagi dia akan jadi istrimu, Nak.” Pinta Nenek seraya mengambil sebuah kotak kecil di bawah bantalnya.


“Ini apa, Nek?.” Tanya Toni seraya membolak-balikkan kotak yang diterima dari Neneknya itu.


“Kotak ini isinya sebuah kalung yang pernah di berikan kakekmu kepada Nenek waktu melamar Nenek dulu. Kalungnya masih cantik. Nenek pikir Iffah akan cocok memakainya.” Ujar Nenek dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


“Nenek sudah tidak sabar melihat cantiknya calon istrimu itu di hari pernikahan kalian ini, Sayang.” Toni begitu terharu dengan kasih sayang neneknya. “Sebentar lagi Milka juga punya mama, nak.” Tutur Nenek seraya memeluk Milka yang masih berdiri diantara mereka.


“Sudah hampir pukul delapan, bersiaplah.” Perintah Nenek seraya menepiskan senyuman yang begitu meneduhkan di hati Toni.


“Oke nenekku yang cantik.” Toni mendaratkan sebuah kecupan di pipi kenyal neneknya.


“Toni, tunggu nak.” Nenek kembali menahan tangan Toni.


“Iya, Nek.” Toni menatap sendu wajah Neneknya.


“Berjanjilah kepada Nenek agar selalu mengemukakan akal pikiran daripada perasaan, berjanjilah kepada Nenek agar bisa menjadi imam yang baik untuk istrimu, dan berjanjilah kepada Nenek untuk tidak mudah menyerah dan


berputus asa. Sesakit apapun dan sesulit apapun masalah yang kamu hadapi kelak, Nak.” Pinta Nenek menasehati Toni yang menjadi calon pengantin saat itu.


“Toni janji, Nek. Toni akan selalu ingat dan pegang nasehat Nenek untuk Toni selamanya.” Ikrarnya Toni terlihat bersungguh-sungguh.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2