
Iffah menatap lelaki yang baru saja menikahinya di kursi tunggu Rumah Sakit. Perlahan kakinya melangkah dengan berat hendak mendekat.
Toni mengetahuinya, hanya saja dia lebih memilih untuk tidak memulai saat itu. Dia lebih ingin mendengar apa yang akan disampaikan Iffah kepadanya. Kemil yang masih berada disana, bergerak sedikit menjauh agar mereka
bisa leluasa untuk menyampaikan isi hati masing-masing.
“Saya minta maaf, Pak Antoni. Seharusnya ini semua tidak terjadi. Meski Arjuna saya telah tiada, bukan berarti saya bisa melupakannya.” Toni tidak menyahut, dia sangat tau bagaimana perasaan Iffah saat itu. “Saya bingung harus bagaimana saat ini. Pernikahan telah terjadi diantara kita, tapi saya tidak bisa bersama Anda.” Air mata Iffah kembali mengalir dengan begitu saja. Iffah memutar tubuhnya hendak berlalu meninggalkan Toni disana, namun
Toni dengan segera menahan lengan Iffah.
“Maafkan saya, Iffah. Saya sudah tau semuanya dari awal.”
“A-Apa?” Iffah terkejut mendengar pengakuan Toni.
“Iya, Iffah. Saya sudah mengetahui tentang pernikahan kamu dengan Arjuna dari Ghali. Ghali menceritakan semuanya kepada saya, dan dia juga sudah melarang saya untuk mendekati kamu. Tapi saya sungguh mencintai kamu Iffah. Saya pikir masa lalu…”
“Anda pikir masa lalu itu bagaimana, Pak? Apa menurut bapak masa lalu itu tidak penting? Jika bukan karena masa lalu, saya bahkan tidak hidup sampai saat ini.” Iffah terllihat marah ketika mendengar penuturan Toni yang mendefenisikan masa lalu berbeda dengannya.
“Bukan begitu Iffah, hanya saja…”
__ADS_1
“Hanya saja dia tidak akan lagi ada di kehidupan kita yang sekarang, begitu kan Pak?” Iffah seakan tidak memberi kesempatan terhadap Toni menyampaikan isi hatinya. “Bagaimana bapak bisa berfikir seperti itu? Bapak kembalikan saja terhadap diri bapak sendiri, apa bapak masih bisa hidup tanpa hasil dari masa lalu bapak?” Tidak hanya Toni, Kemil yang mendengar pun ikut menoleh kearah Iffah.
Sebuah sindiran pedas keluar dari mulut Iffah, dia hanya tidak menyebutkan Milka saja lebih jelas. Tapi mereka tau kemana arah ucapan Iffah.
“Satu hal lagi, Pak. Seharusnya bapak menyesali ini sebelumnya.” Iffah kembali bersiap hendak meninggalkan Toni. Namun lagi-lagi Toni menahan lengan Iffah, dia terlihat masih berharap agar Iffah berubah fikiran dan mau menarik ucapannya.
“Ton, Nenekmu…” Kemil memegangi pundak Toni. Jantung Toni kembali berdebar mendengar Neneknya disebut. Dia melunakkan genggaman tangannya di lengan Iffah dan perlahan melepaskannya. Air mata Toni jatuh dengan begitu saja menahan perih yang dia sendiri tidak mengerti dengan rasa sakit yang dirasakannya.
Toni mendekat kearah Ghali yang masih berdiri menatap mereka. “Ghali, untuk saat ini saya titip istri saya kepadamu, walinya. Nanti saya jemput lagi. Saya pernah berjanji kepada istri saya untuk tidak akan melepaskan genggaman tangannya, apabila berada di jalan yang salah. Dan saya juga pernah berjanji kepadamu, bahwa saya siap menerima resiko apapun untuknya.” Iffah menoleh sesaat kearah Toni yang terlihat yakin terhadap ucapannya, namun dia tetap pergi meninggalkan tempat itu.
*******
Toni masuk ke dalam rumahnya dengan langkah gontai. Kemil yang mengerti perasaan sepupunya itu hanya mengikutinya dari belakang. Jantung Toni serasa diremas saat itu, lantunan ayat-ayat suci terdengar mendayu syahdu, mengiba-iba hingga serasa menyayat hatinya dari kamar nenek.
“Cucuku sudah pulang.” Seru nenek seakan terdengar dari balik suaranya yang memarau. Semua mata tertuju kearahnya. Bobi menoleh ke belakang Toni seakan mencari Iffah, namun dia tidak ingin menanyakannya.
Toni semakin mendekat, perasaan takutnya pun semakin bertambah dan menyakiti hatinya.
“Neneeeek.” Tangisnya mulai pecah. Suasana haru terjadi di ruangan itu.
__ADS_1
Toni membenamkan wajahnya di ceruk leher nenek yang terbaring lemah di atas tempat tidur. “Maafkan Toni, Nek.” Rintihnya membuat orang-orang yang berada disana ikut menangis.
“Kamu kenapa menangis, sayang? Kamu cucu Nenek yang paling kuat.” Nenek membelai lembut kepala Toni yang masih memeluknya.
“Toni merasa telah gagal dalam segala hal, Toni seakan tidak diberi kesempatan untuk melakukan yang terbaik, Nek.” Dia semakin terisak, dan tidak ingin mengangkat wajahnya.
“Kamu masih ingat ucapan nenek tadi kan, sayang?. Dan untuk Iffah, dia saat ini butuh waktu kembali Nak. Kamu harus sabar, dan jangan berputus asa. Jika kalian memang berjodoh, dia akan kembali ke pelukanmu.” Bisik Nenek. Nafasnya seakan tersekat, tubuh Nenek menggigil kedinginan.
Karena merasakan hal aneh seperti itu, Toni semakin mengeratkan pelukannya ke bahu nenek. Isaknya semakin mengeras. ”Nenek, nenek…” Bisik Toni brekali-kali di telinga neneknya.
“Iffah,” Sosok Iffah terlihat membayang di ambang pintu oleh Nenek. Semua orang serentak menoleh kesana. Toni perlahan mengangkat wajahnya hendak melihat kedatangan Iffah yang dipanggil neneknya itu.
Toni menepiskan senyumannya di balik kesedihan yang saat itu dirasakannya. Secercah harapan datanng menyinarinya kembali.
.
.
.
__ADS_1
.
.