
Kita pernah lalui waktu bersama, mungkin tidak banyak. Tapi cukup mampu membuat kita merasa terkesan dengan waktu itu. Kita sempat tertawa dan saling menatap, tetapi kita tidak pernah tau kapan kita bisa menjadi seegois ini.
Terkadang banyak waktu memberi kita kesempatan untuk saling bicara, hanya saja satu waktu kembali membuat kita menjadi salah.
Kita, dirangkum dalam satu cerita setelah banyak cerita-cerita dari sebelumnya yang membuat kita menjadi tidak yakin akan ending bahagia di kemudiannya.
Tapi kita, sepasang manusia yang ingin berlama-lama menamatkan cerita kita dengan episode-episode yang menyakitkan untuk kita sendiri.
Aku ingin kita memiliki cerita di kemudian hari, agar kita bisa kembali tersenyum, tertawa, menangis dan kemudian tersenyum kembali.
Bisakah???
Iffah berlarian dari depan pagar rumahnya selepas turun dari taxi memasuki tempat dimana ia merasa nyaman selama itu. Berkali-kali dia mengetuk pintu seakan tidak sabaran hendak berbaring di kamar kecil peraduannya, di dalam rumah minimalis tempatnya tinggal bersama adik lelakinya, Ghali.
“Kak Iffah?” Ghali begitu terkejut dengan kedatangan kakaknya di subuh buta yang masih kelam.
“Ghali… Hiks… Hiks… Hiks…” Iffah terisak di depan pintu rumah ketika menemui adiknya yang selalu ada untuknya.
Meski Ghali terlihat khawatir dan penassaran melihat kondisi kakaknya yang menyedihkan saat itu, Ghali lebih memilih untuk menarik bahu kakaknya masuk kedalam rumah dam kembali mengunci pintu.
Setelah membuatkan secangkir teh panas, Ghali menunggu kakaknya untuk merasakan sedikit ketenangan.
“Terimakasih sayang… “ Ucap Iffah setelah menyeruput the bagian tepi gelas yang sudah mulai sedikit hangat.
__ADS_1
Ghali menarik ringan garis bibirnya. “Sekarang, coba kakak ceritakan apa yang terjadi kepada Ghali, dan kenapa kakak pulang sendirian dengan mata sembab seperti itu.” Ghali sungguh terlihat bijak menyikapi kesedihan kakaknya.
Iffah menarik nafasnya begitu dalam, kemudian menghembuskannya lagi dengan pelan. Sejenak, dia memulai cerita dari awal pertemuannya dengan Milka, Kamelia dan bahkan Misya beserta ceritanya. Ghali ternganga mendengar sesuatu yang belum pernah di dengarnya sebelum itu dari lelaki yang dipercayainya dapat menjaga kakaknya dengan baik.
Ghali memendam kemarahan terhadap Toni karena merasa dikhianati dan di kecewakan oleh atasan kakaknya itu.
“Sekarang kakak istirahat saja dulu ya, Ghali yakin kakak pasti kelelahan. Nanti sebelum Ghali ke kantor, Ghali akan siapkan sarapan untuk kakak, dan jangan lupa di makan.” Bujuk Ghali sembari mengelus lembut pundak Iffah.
Iffah mengangguk pelan dan segera berdiri hendak masuk ke kamarnya.
*****
Setelah waktu shubuh berlalu, Toni dan keluarganya segera berangkat ke kota. Tidak ada alasan lain baginya kali itu kecuali untuk menemui Iffah yang telah salah paham mengartikan perasaannya.
Toni tidak berbicara sekalipun selama dalam perjalanannya. Nenek, Om dan Bibinya juga mengerti perasaannya kala itu, sehingga mereka terpaksa harus diam mengikuti suasana hati Toni.
“Om Bobi…” Panggilnya lirih kepada lelaki paruh baya yang berada di sampingnya.
“Hmmm” Bobi menoleh penuh tanda Tanya dan sedikit melihat dengan rasa iba.
“Apa Iffah akan mau mendengarkan Toni? Apa Iffah akan mengerti? Dan apa Iffah percaya dengan perasaan Toni terhadapnya saat ini?.” Toni seakan patah dalam asa dan perjuangannya. Dia seakan tidak punya keberanian mengikuti alur cerita kisahnya yang baru saja di mulai dengan gadis itu.
“Om percaya jika kamu memiliki kepercayaan juga, Nak. Tetapi jika kamu ragu, maka bayangkanlah masa depanmu yang indah bersama gadis itu kelak jika kamu mau berusaha dari saat ini. Tidak ada uusaha yang tidak
__ADS_1
membuahkan hasil.
Tetapi sekali-kali menolehlah ke belakangmu, disana kamu akan menemukan pembelajaran darinya.” Ya, Bobi, Omnya yang menggantikan posisi Bram setelah tiada. Menjadi lelaki bijak tanpa serakah dan mengharapkan lebih
dari apapun yang dimiliki keluarga zulherman.
Dia juga lelaki kehilangan arah kala itu seperti Toni, jika Bram tidak mengorbankan perasaannya terhadap Chellin.
“Om seperti papa, persis sekali. Terimakasih Om.” Ujar Toni terharu. Pandangannya mulai berisi menatap jalanan lurus dan kadang berliku yang di laluinya.
Nenek Toni mengelus sedikit bahunya dari belakang seakan memberikan sedikit kekuatan untuk cucunya itu. Toni membalas elusan tangan neneknya dengan tersenyum menatap ke kaca spion yang berada di depannya dan
memegangi serta sedikit menggenggam tangan keriput neneknya.
.
.
.
.
.
__ADS_1