
"Jika di rumah, kamu akan menempel seperti perangko. Dan jika di sini, kamu akan terus memandangiku. Apa matamu tidak lelah?" Toni menangkap pandangan istrinya yang tidak henti-henti menatap dirinya.
Kala itu mereka berada di ruang kerja Toni. Sesuai permintaan istrinya itu, Toni mengizinkan Iffah untuk ikut ke kantor bersamanya.
Dia merasa, istrinya itu sedikit agresif terhadap dirinya. Meski tidak mengganggu, tapi Iffah sesekali membuat Toni tidak fokus terhadap pekerjaannya.
Iffah tidak membiarkan sekelabat udara mengurangi waktunya untuk memandangi wajah teduh suaminya itu.
"Entah kenapa, aku hanya ingin melihat wajahmu." Sahut Iffah datar dari arah sofa yang dia duduki.
"Hmm begitu. Ya sudah. Silahkan kamu pandangi terus, tapi jangan pernah mencoba untuk mencuri ketampananku dengan tatapanmu itu, ya." Toni berlagak memberi peringatan terhadap istrinya sendiri.
"Siapa juga yang ingin mencurinya? Aku hanya berusaha menjaganya saja." Elak Iffah sembari mendelikkan matanya dan mencebikkan bibir tipisnya itu.
"Menjaga?" Toni menghentikan pekerjaan yang sedang digulatinya, dia tampak berpikir keras sesaat setelah mendengar pembelaan Iffah atas tuduhan darinya.
"Hu'um…" Sahut Iffah seraya mengangguk kecil. "Menjaganya, agar tidak dilirik oleh makhluk yang disebut perempuan lain di muka bumi ini." Tutur Iffah penuh penegasan dan rasa tanggung jawab yang terlalu berlebihan.
Toni terkekeh mendengar jawaban Iffah yang tampak serius dari raut wajah istrinya itu.
"Kenapa tertawa?" Sungut Iffah. Dia terlihat jengkel dengan reaksi Toni yang menganggap perkataannya hanya sebuah lelucon semata.
"Perempuan lain di muka bumi ini juga punya mata yang tidak bisa kita larang untuk melihat apa pun, termasuk melihat kita." Ujar Toni seraya bangkit dari duduknya. Dia melangkah kearah Iffah dan duduk di samping istrinya itu.
"Dan kamu menyukainya?" Raut tidak senang tergambar jelas di wajah Iffah. Tatapannya berubah menjadi tatapan kesal terhadap suaminya itu.
"Heeemmhh… Selain agresif, kamu juga sensitif ya akhir-akhir ini." Goda Toni mengalihkan pembicaraan mereka.
Toni meraih bahu Iffah dan disandarkannya ke dadanya yang bidang. Dia mengelus lembut kepala istrinya itu.
__ADS_1
"Apa iya, aku begitu sensitif?" Tanya Iffah dengan pelan. Rasa bersalah datang mengiringi sikap agresifnya.
"Sedikit..." Toni mengukur pernyataannya dengan jari kelingking miliknya. Dengan mudahnya, dia mempraktekkan cara yang sering dilakukan oleh istrinya itu.
"Katakan bila kamu merasa tidak nyaman karenanya." Pinta Iffah benar-benar dirasuki perasaan bersalah.
"Tidak, aku akan menerimanya… Jadi jangan pernah coba-coba untuk menahannya." Elak Toni.
"Pasrah..." Ledek Iffah seraya menyunggingkan senyumannya.
"Tidak juga. Aku hanya ingin istriku ini terlihat nyaman tanpa beban. Asaaal...."
"Tidak melampaui batas..." Sambung Iffah. Dia mengangkat tubuhnya yang bersandar di dada Toni. Matanya kembali menatap wajah teduh suaminya yang berada dekat dengan wajahnya saat itu.
"Terimakasih sudah memberiku surga di dunia ini..." Ucap Iffah sembari menggamit pipi Toni dengan kedua telapak tangannya yang halus.
"Sudah waktunya jam istirahat siang, Sayang." Ujar Iffah mengalihkan pembicaraan mereka. Rasa haru terhadap ucapan Toni, membuatnya terlihat salah tingkah saat itu.
"Iya... Ayo..." Ajak Toni segera bangkit dan menarik lembut tangan istrinya itu.
*****
Seusai Shalat zuhur, Toni dan Iffah langsung pergi ke kafe depan kantor. Tempat dimana mereka harus mengisi Sumatera tengah mereka masing-masing.
"Aku tidak ingin makan ini, sayang." Sungut Iffah ketika melihat menu yang telah dipesankan Toni untuk dirinya.
"Loh, kenapa? Bukankah ini makanan kesukaanmu?" Toni menatap heran ke wajah Iffah yang merasa serba salah terhadap dirinya. "Ya, sudah. Kamu mau makan apa?" Tanya Toni lagi, dia tidak ingin memperdebatkan hal kecil dengan istrinya itu.
"A-aku… Pe-ngen ubi rebuus." Pinta Iffah begitu berat.
__ADS_1
"Apa?" Toni tercengang akan permintaan aneh istrinya itu. Sedangkan Iffah hanya menunduk takut melihat reaksi Toni. Matanya terlihat memerah dan berkaca-kaca seketika.
Reaksi keterkejutan Toni membuat Iffah terlihat syok saat itu.
Toni yang dapat menangkap suasana hati istrinya, dengan segera mencairkan kembali raut wajahnya yang menegang.
"Maaf, Sayang... Aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya terkejut saja." Toni menggenggam jemari Iffah untuk mengurangi tekanan yang dirasakan istrinya.
"Lagian, disini mana ada ubi rebus Sayang... Kita cari di luar saja bagaimana?" Sebisa mungkin Toni membujuk dan menenangkan Iffah kembali.
"Tapi makanan ini kamu habiskan dulu, ya." Pinta Iffah berharap. Dia menyeka matanya yang masih terasa panas dan sedikit lembab.
"Ini dua porsi loh, Sayang. Perutku tidak akan mampu menampung kesemuanya." Toni ingat betul bahwa istrinya itu sedang masa sensitif saat itu. Jadi, dia berusaha bicara selembut mungkin.
"Bagaimana kalau kamu makan satu, nanti kita akan tetap cari ubi rebus untuk kamu." Bujuk Toni.
"Tidak mau..." Tolak Iffah. Matanya kembali tampak berkaca-kaca.
"Ya sudah... Kamu tidak usah menangis begitu. Aku akan bungkus yang satu ini buat nanti." Toni semakin pasrah. Dia tidak ingin lagi membuat perdebatan dengan Iffah yang ujung-ujungnya menjadi cengeng.
.
.
.
.
.
__ADS_1