
Di kediaman Arayan.
Mata Kamelia tampak menyembab, sudah hampir dua jam suhu tubuh Milka tidak kunjung turun. Bahkan, sebelum dirinya tertidur tadi pun Milka sempat rewel. Tidak sekali pun dia ingin turun dari gendongan ayahnya. Dan berkali-kali pula dia meminta bicara dengan papanya, Toni. Namun, karena Toni tidak mengangkat telepon dari Kemil, akhirnya Milka tertidur sambil sesenggukan di gendongan ayahnya itu
"Sayang... Kita bawa Milka ke puskesmas ya. Kamu sudah dong menangisnya, aku tambah panik jadinya." Bujuk Kemil berusaha menenangkan Kamelianya.
"Tidak pernah sekali pun Milka demam setinggi ini tanpa sebab yang jelas, sayang. Dia juga tidak mau makan sedari tadi. Bagaimana mungkin aku tidak cemas." Isak Kamelia sambil mengusap dahi Milka yang di banjiri keringat dingin.
"Iya, aku mengerti. Aku juga ayah Milka, sayang. Sekarang kita titip Cakra sama mama sebentar ya, kita bawa Milka ke puskesmas secepatnys." Ajak Kemil semakin berusaha membujuk Kamelia. Kamelia mengangguk.
Kemil dan Kamelia membawa Milka yang masih tertidur ke puskemas desa.
Sesampainya mereka di puskesmas, Milka di periksa oleh beberapa tenaga medis disana.
Kemil dimintai untuk melakukan tes darah terhadap Milka untuk mengetahui penyakit yang menyerang Milka.
Setelah menunggu beberapa menit, diketahui bahwa HB-nya rendah sekali. Dokter di puskesmas mendiagnosa Milka menderita Anemia.
Kamelia tampak semakin panik mendengar penuturan sang Dokter. Kemil merangkul bahu Kamelia dan berusaha menenangkan istrinya itu, meskipun dia juga sangat terpukul mendengarnya.
"Sebenarnya, ini hanya diagnosa sementara. Jika orang tua pasien mau, pasien bisa kami rujuk ke labor hematologi. Agar dapat mengetahui penyakit yang lebih jelas menyerang tubuh pasien." Tutur sang dokter menjelaskan terhadap Kemil dan Kamelia.
Ini bahkan baru diagnosa sementara. Jika ditemukan lebih lagi dari ini, mungkin rasanya akan lebih sakit lagi. Aku juga tidak tega melihat Kameliaku Yaa Allah... ~ Batin Kemil seraya menggenggam erat jemari Kamelia.
Rasa takut yang terpancar di mata Kamelia membuat Kemil berusaha kerasa menyembunyikan rasa takut yang bersarang di dalam dirinya.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja, Sayang. Kamu terus berdo'a ya, agar Milka kita bisa kembali pulih seperti sedia kala." Ujar Toni menguatkan Kamelia. Kamelia hanya mengangguk sembari menghapus air matanya yang tidak berhenti mengalir sedari tadi.
Setelah kembali ke ruangan Milka dirawat, Kemil meninggalkan Kamelia disana. Dia berencana hendak menelepon Toni dengan segera. Dalam kondisi seperti itu, Kemil bahkan tidak sanggup memutuskan segala sesuatunya sendiri.
Tut... Tut... Tut...
"Assalamu'alaikum Ton..." Sapa Kemil ketika dia rasa di seberang Toni telah mengangkat telepon darinya.
"Wa'alaikumussalam... Iya ada apa, Kemil?" Suara Toni semakin terdengar cemas dari seberang.
"Kamu sudah berangkat, Ton?" Tanya Kemil datar dan berusaha menyembunyikan kepanikan yang bersarang di benaknya.
"Sudah dari setengah jam yang lalu. Apa semua baik-baik saja, Kemil?" Suara Toni semakin terdengar cemas.
Kemil masih saja mendengarkan apa pun yang dikatakan sepupunya dari seberang. Sekali-kali dia berusaha menahan cairan bening yang berusaha menyelusup hendak keluar dari matanya.
Rasa takut kembali bermunculan di benaknya. Kendatipun Milka bukanlah darah dagingnya, tetapi dia sangat menyayangi gadis kecil itu.
*****
"Apa yang terjadi, sayang?" Tanya Iffah mendapati raut wajah suaminya berubah sendu setelah menerima panggilan dari Kemil.
Toni menceritakan apa saja yang di dengarnya dari Kemil barusan. Iffah ternganga mendengar cerita Toni mengenai kondisi Milka saat itu.
Iffah menggenggam jemari Toni.
__ADS_1
"Bukankah kamu yang bilang. Lakukan yang menjadi bagianmu, biar Allah melakukan yang menjadi bagian-Nya. Yang penting kita berusaha sebaik-baik mungkin, sayang." Iffah berusaha menenangkan suaminya itu.
"Terimakasih sayang..." Toni berusaha melukis senyuman di wajahnya, meski cahaya matanya menampakkan kegetiran dari dalam.
"Ya sudah, kalau gitu tunggu di rumah saja. Bukankah kamu sudah setuju agar Milka dirujuk ke Rumah Sakit XXX?" Tanya Iffah.
"Iya sayang..." Sahut Toni segera memutar mobilnya yang sedari tadi terparkir di pinggiran jalan karena dia menerima Telpon dari Kemil.
Mungkin ini salah satu bentuk roda kehidupan kita yang berada di bawah... Lagi-lagi cobaan itu datang tanpa menunggu kita siap atau belum.
Aku hanya berharap, kamu akan selalu tabah untuk itu. Sesungguhnya, aku tidak sanggup melihat wajahmu melukiskan duka dari hatimu. Ditambah lagi, matamu tidak terlalu pandai untuk berbohong.
Dia begitu jujur dalam mengungkapkan bagaimana sebenarnya perasaanmu sekarang.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1