
"Subhanallah… Walhamdulillah…" Ghali mengusap kasar wajahnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya berkacak pinggang kala itu.
Matanya masih jelli menyapu setiap sudut yang tidak termasuk ke dalam batas suci tempat sendal-sendal para jama'ah terparkir disana.
"Apa ada masalah, Ghali?" Tegur Bobi yang tiba-tiba datang membuyarkan konsentrasinya.
"Sedikit, Pa." Sahutnya meringis.
Bobi mengalihkan pandangannya kearah pandangan Ghali, dan akhirnya terbentur kepada kaki Ghali yang masih menyeker tanpa alas.
"Apa kamu belum menemukan sendalmu?" Tebak Bobi ketika membaca raut kebingungan di wajah adik dari menantunya itu.
"Sepertinya kata 'belum' tidak pas untuk menggantikan kata 'tidak' deh, Pa. Sendal Ghali benar-benar tidak ada disini" Ujarnya kebingungan.
"Hilang maksudmu, Nak?" Terka Bobi lagi sedikit terkejut.
"Begitulah sepertinya, Pa." Sahut Ghali datar.
"Memangnya kamu menaruhnya dimana tadi?" Tanya Bobi lagi.
"Disini, Pa" Telunjuk Ghali tepat mengarah ke depan kakinya berpijak. Dia begitu yakin bahwa dia meletakkan sendalnya disana sebelum memasuki masjid tadi.
__ADS_1
"Ada apa ini, Pa?" Toni yang baru saja keluar dari dalam masjid menangkap kebingungan di wajah papa dan adik iparnya.
Dengan sigap, Ghali berlari mendapati sendal Toni yang tertata rapi disana.
"Maaf, Kakak ipar. Aku pulang dulu, Ya. Assalamu'alaikum…" Serunya seraya berlari kearah gerbang masjid.
"Wa'alaikumussalam…" Bobi dan Toni sama-sama terperangah melihat tingkah Ghali yang begitu tiba-tiba sebelum Bobi terkekeh dan bahkan terpingkal-pingkal karenanya. Bobi memegangi perutnya yang terasa geli saat itu.
Toni semakin kebingungan.
"Ayo pulang, Ton." Ajak Bobi kemudian, masih dalam tawanya.
"Loh, sendal Toni mana?" Tanyanya.
"Iya juga sih, Pa." Toni membenarkan pernyataan Bobi. "Tapi tunggu, Pa. Papa tadi bilang, 'kamu juga kehilangan sendal'." Toni tampak berpikir mengenang ucapan Papanya tadi.
"Aeeehhhh, bocah itu. Menyebalkan…" Rutuk Toni kembali mengingat sikap Ghali yang tidak biasanya meninggalkan mereka.
Bobi kembali terkekeh melihat kekesalan di raut wajah putranya itu. Dia tau, Toni juga hanya berpura-pura kesal saat itu. Mungkin tanpa diminta pun, Toni akan memberikan apa pun untuk adik iparnya.
Mereka hanya terlihat bermusuhan, tetapi di dalam hati mereka masing-masing terdapat pembelaan satu sama lain. Untuk kakak kepada adiknya, dan untuk adik kepada kakaknya.
__ADS_1
"Ah, terpaksa nyeker." Keluh Toni masih saja terus berjalan. Beruntung masjid tempat mereka Shalat tidak terlalu jauh jaraknya dengan rumah yang mereka huni.
"Apa mau pakai sendal, Papa?" Tawar Bobi yang terlihat begitu kasihan kepada putranya itu.
"Tidak usah, Pa. Toni sudah biasa waktu di desa nyeker seperti ini kok, Pa. Ini mah jalanannya mulus, tidak seperti do desa yang berbatu-batu." Elak Toni.
"Bener, tidak apa-apa?" Tanya Bobi lagi sedikit mulai merasa tenang.
"Iya, Pa." Sahutnya. "Awww" Tiba-tiba Toni menjerit. Jalanan yang hanya diterangi lampu led dan cahayanya yang remang-remang membuat kaki Toni terluka. Dia tidak sengaja menginjak beling malam itu.
"Ada Apa, Nak?" Bobi kembali terlihat cemas ketika mendengar jeritan Toni.
"Tidak apa-apa, Pa. Sepertinya kaki Toni menginjak batu yang agak runcing. Jadi Toni sedikit terkejut dibutanya." Ujar Toni berbohong. Jika dia memberitahukan yang sebenarnya, dia yakin pasti lelaki yang dipanggilinya Papa itu akan semakin Khawatir.
"Tapi bener tidak apa-apa?" Tanya Bobi lagi belum menghilangkan perasaan Khawatirnya.
"Iya, Pa. Toni tidak apa-apa." Toni berusaha menahan rasa sakit di telapak kakinya yang terluka. "Ayo, Pa."
Bobi kemudian menurut, pencahayaan yang minim tidak mampu membuat matanya melihat dengan jelas ke kaki Toni yang sedikit menjinjit.
Bobi tidak tahu saja, kaki Toni Sudah mengeluarkan banyak darah saat itu. Dengan perlahan, Toni mencabut beling yang menancap di telapak kakinya.
__ADS_1
Aaahh... Sakit sekali Yaa Allah.~ Jerit Toni dalam hati. Dia membuang beling ke dalam tempat sampah yang berada di pinggiran jalan.